20 Agustus 2012

RAIS ABIN DAN JACOB OETAMA, SAHABAT AKRAB

Letnan Jenderal (Purn) Rais Abin. Siapa yang tak  kenal beliau. Berbicara perdamaian Timur Tengah antara Mesir dan Israel dengan disepakatinya Perjanjian Camp David, tahun 1979 tak seorang pun menyangka bahwa perdamaian itu bisa terselenggara berkat laporan Rais Abin kepada Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa Bangsa (Sekjen PBB) yang dijabat Kurt Waldheim.

Rais Abin bukanlah berkewargaan negara asing. Dia putera bangsa yang lahir di Koto Gadang, Kabupaten Agam, Bukittinggi, Sumatera Barat, 15 Agustus 1926. Membawahi beberapa negara asing merupakan sebuah kebangaan bangsa ini. Hingga sekarang belum ada yang menandingi jabatan beliau sebagai Panglima Pasukan Perdamaian PBB.

Di samping itu, jabatan diusia mendekati 86 tahun sekarang ini, Rais Abin adalah Ketua Umum Legiun Veteran (LVRI) dan sebentar lagi melaksanakan Kongresnya pada 8-11 Oktober 2012.

Hari ini, Kamis, 26 Juli 2012, saya diajak Rais Abin menemui Pemimpin Umum dan Pendiri Harian Kompas Dr (HC) Jacob Oetama. Saya merasa bangga karena bisa menyaksikan kedua sahabat yang sezaman ini bersenda gurau di lantai VI Harian Kompas. Usia Jakob Oetama, tidak begitu jauh terpaut dengan Rais Abin karena beliau lahir di Borobudur, Magelang, 27 September 1931. Kini usianya mendekati 81 tahun.

Jacob Oetama sangat konsisten dengan tugasnya sebagai wartawan. Saat ini merupakan Presiden Direktur Kelompok Kompas-Gramedia. Seorang rekan pernah membisiki saya, apakah benar atau tidak informasi itu bahwa pada masa Pemerintahan Presiden Soeharto, beliau pernah ditawari jabatan Menteri Penerangan RI oleh Harmoko, tetapi Jacob Oetama menolak. Andai saja diterima, entah apa jadinya. Karena Harmoko menurut penuturan Almarhum Soedomo kepada saya, Harmoko adalah satu di antara tiga orang yang sangat dibenci Soeharto setelah lengser. Pada waktu pembicaraan ini Jacob Oetama ditemani Redaktur Senior Kompas August Parengkuan yang sebentar lagi dipercaya menjadi Duta Besar RI untuk Italia.

Pulang dari Harian Kompas saya diajak semobil dengan Rais Abin. Di perjalanan beliau banyak cerita tentang Veteran. “Bung,” ujarnya, “hari Selasa sore kemarin (24 Juli 2012) saya bertemu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Kantor Presiden. Ya, sekalian melaporkan akan mengadakan Kongres bulan Oktober,” jelasnya lagi.

Pertemuan para Veteran memang berlangsung sore itu di Kantor Presiden, Jakarta, Rais Abin sebagai ketua rombongan mengajukan beberapa usul dan harapan agar Presiden SBY mendengar jeritah hati para Veteran selama ini.

Masalah kesejahteraan Veteran Perang menjadi topik hangat yang dibahas saat pertemuan Legiun Veteran RI dengan Presiden SBY. Mereka berharap pemerintah meningkatkan dana kehormatan yang saat ini hanya Rp250 ribu per bulan. "Apa salahnya uang yang Rp250 ribu itu ditingkatkan. Tetapi SBY menyanggupi mencari jalan keluar Bung,” ujarnya kepada saya.

"Jumlahnya ada sekitar 320.583 Veteran Pejuang dan 28.256 Veteran Pembela, usianya sudah 80-an tahun. Mereka anggota dari laskar perjuangan 1945 yang sudah keluar dari ketentaraan pada 1949. Tapi mereka tetap pejuang," ujar Rais Abin berapi-api kepada saya mengulang pembicaraannya dengan Presiden RI.

Sesampainya di Markas Besar Legiun Veteran RI, saya diberi laporan pembicaraan beliau dengan Presiden RI. Saya tertarik dengan harapan LVRI ke depan:

“Izinkan kami mensitir rintihan Veteran tua yang disampaikan seorang Pujangga Belanda yang mendalami Sejarah Perjuangan Kemerdekaan Bangsa-Bangsa:

Kami bukan pembangun candi
Kami hanya pengangkut batu
Dari angkatan yang segera punah
Dengan harapan di atas pusara kami akan lahir generasi yang lebih sempurna.

Inilah landasan kami untuk menyampaikan kearifan/harapan kepada Bapak Presiden. Kami Veteran Tua menginginkan, maaf, Anda SBY, sebagai personifikasi generasi yang lebih sempurna. Benar atau tidak, dengan segala kekurangan kami merasa ikut mengasuh Anda sejak memasuki dunia keperwiraan dan hanya berharap agar perjuangan Anda berakhir dengan kejayaan.”

Inilah pengalaman saya hari ini berdekatan dengan salah seorang pejuang kemerdekaan 1945. Tetap ceria di usia senja (86 tahun) Rais Abin. Apakah generasi selanjutnya mampu memikul tanggung jawab para Veteran RI di Kongres LVRI ke depan, atau Rais Abin terpilih kembali karena mereka belum siap? Kita lihat saja. Tetapi yang jelas seorang pejuang ‘there is no journey’s end’. [*]

04 Agustus 2012

SAYA MARAH,HAMKA DIKATAKAN PLAGIATOR

Ketika saya melihat buku “Aku Mendakwa Hamka Plagiat – Skandal Sastra Indonesia 1962-1964, yang terbit bulan September 2011 setebal 238 halaman, penerbit Seripa Manent & Merakesumba, saya langsung membacanya.

        Saya tidak mengerti mengapa buku ini diterbitkan. Apa maksud penulis Muhidin M.Dahlan mengungkapkannya lagi di hadapan khalayak. Saking memendam amarah, saya mengatakan tidak seorang pun mengenal siapa sebenarnya si penulis tersebut, karena identitasnya tidak ada bahkan banyak di antaranya meraba-raba siapa Muhidin M.Dahlan.Menurut saya ini sudah merupakan kelemahan dari sebuah buku. Tidak ada tanggungjawab di dalamnya.

          Ternyata tulisan saya di face book itu hanyalah sebuah pancingan atau sebuah trik, karena saya menganggap apa manfaatnya buat generasi muda mengungkit kembali hal-hal yang masih abu-abu di masa itu. Belum jelas dan masih dalam polemik. Ternyata trik saya benar, dan kemudian barulah saya menulis untuk kedua kalinya berjudul: “Inilah Inti Tulisan tentang Hamka.”

            Trik-trik seperti ini saya pelajari dari Burhanudin Mohamad Diah (B.M.Diah) ketika saya menulis buku beliau "Butir-butir Padi B.M.Diah, Tokoh Sejarah yang Menghayati Zaman (Jakarta: Pustaka Merdeka, 1992), B.M.Diah mengatakan: “Bung Dasman, jika ingin mengetahui siapa lawan kita sebenarnya, biarkan dia ke luar dulu dari sarangnya.” B.M.Diah adalah tokoh pers, diplomat dan pada malam 17 Agustus 1945 ikut hadir bersama Bung Karno-Hatta menyaksikan penyusunan naskah proklamasi di Rumah Laksamana Maeda, perwira Angkatan Laut Jepang. Beliau juga berpengalaman berpolemik antara surat kabarnya Harian Merdeka dengan Harian Rakjat, Juni-Juli 1964.

            Harian Merdeka merupakan Koran perjuangan lahir 1 Oktober 1945 dan sangat anti Partai Komunis Indonesia (PKI). Hamka pun pernah menjadi koresponden Harian Merdeka. Sementara Harian Rakjat lahir pada 1951, media resmi Partai Komunis Indonesia itu dulunya berkantor di Jalan Pintu Besar Nomor 93, Jakarta, dengan Direksi/Penanggung Jawab/Redaksi Mula Naibaho. Wakil Ketua II CC PKI, Njoto, menjadi Pemimpin Redaksi media ini dan Supeno, menjadi anggota dewan redaksinya. Njoto sering menulis editorial, pojok atau kolom.

             Buku tulisan Muhidin M.Dahlan ini hanya mengulang peristiwa bulan September 1962 yang menuduh Hamka sebagai plagiat dalam novelnya  “Tenggelamnya Kapal Van der Wijk” (1938) dan sudah dicetak sebanyak 80 ribu eksemplar. Hamka dituduh melakukan plagiat dari novel “Magdalena” yang merupakan saduran penyair Mustafa Luthfi Al-Manfaluthi (1876-1942) dari roman yang ditulis pengarang Perancis Alphonse Karr, “Sous les Tilleuls”.
               
                Saya menulis lagi: “Perlu kita pahami polemik di sekitar tahun itu (1962-1964) tidak murni lagi polemik sebagaimana seorang ilmuwan. Polemik sudah mengarah ke fitnah, adu domba, sebagaimana sifat warga  komunis di Indonesia yang benci dengan Islam. Perlu diketahui bahwa Hamka seorang Muslim sejati. Tidak hanya itu, PKI juga waktu itu menginginkan agar Himpunan Mahasiswa Islam (HMI)  dibubarkan. Jadi persoalannya bukan sebatas dunia sastra, tetapi sudah mengarah ke perbedaan yang amat jelas antara PKI dan Islam…Jadi tidak ada yang baru dengan buku ini, polemik ini sudah dihentikan di saat-saat pecahnya Pemberontakan PKI tahun 1965… Saya sependapat dengan pernyataan H.B.Jassin: “Pada Hamka ada pengaruh Al-Manfaluthi. Ada garis-garis persamaan tema, plot dan buah pikiran, tapi jelas Hamka menimba dari sumber pengalaman hidup dan inspirasinya sendiri…..maka adalah terlalu gegabah untuk menuduh Hamka plagiat seperti meneriaki tukang copet di Senen.”

          Jassin juga menegaskan bahwa novel "Van der Wijck" membahas masalah adat Minang, yang tidak mungkin ditemukan dalam suatu karya sastra luar. Kritikus sastra asal Belanda, A. Teeuw menyatakan bahwa "Van der Wijck" sesungguhnya mempunyai tema yang murni dari Indonesia.

               Awal tahun 1963, dunia sastra kita memang digemparkan oleh dua surat kabar Harian Ibukota: Harian Rakjat dan Harian Bintang Timur. Kedua koran milik Komunis ini menyiarkan di halaman pertama dengan berita "Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck" hasil jiplakan oleh pengarang Hamka. Ulasan berita itu dilansir oleh seorang penulis bernama Ki Panji Kusmin. Sedangkan di harian Bintang Timur dalam lembaran Lentera, juga memuat dan mengulas bagaimana Hamka mencuri karangan asli dari pengarang Alfonso Carr, pujangga Prancis. Lembaran Lentera ini diasuh oleh Pramudya Ananta Toer.

            Dalam buku “Kisah Abadi Bersama Ayahku Hamka,” yang ditulis oleh puteranya Hamka, Irfan Hamka, dinyatakan :

          “Berbulan-bulan lamanva kedua koran komunis ini menyerang ayah dengan tulisan-tulisan berbau fitnah, juga menyerang secara pribadi.Aku lihat ayah tenang-tenang saja menghadapi segala hujatan dari Ki Panji Kusmin dan Pramudva Ananta Tur itu.Penulis waktu itu sekolah di SMAN IX merasakan tekanan batin juga. Guru Sastra lndonesiaku seorang guru PGRI Vak Sentral begitu pula dengan guru civicku dengan gaya mengejek selalu menanyakan kesehatan ayah dan tidak lupa berkirim salam. Kupingku terasa panas bila kedua guruku itu bertanya kepadaku. Begitu pula halnya dengan saudara-saudaraku yang lain. Apalagi membaca kedua koran yang sengaja dikirim ke rumah secara gratis.”

            Selanjutnya Irfan Hamka menulis: “PKI melakukan usaha kudeta tanggal 30 September 1965 namun gagal. Dalam usaha kup itu 6 jenderal dan 1 perwira gugur dibunuh PKI. Akibat kegagalan kup PKI itu, kedua guru SMA-ku itu diberhentikan sebagai guru dan pegawai negeri, dan Pramudya Ananta Tur ditahan di Pulau Buru. Bertahun-tahun kemudian Pramudya Ananta Tur dibebaskan, kemudian melakukan kegiatan lagi. Ayah tidak pernah berhubungan dengan tokoh Lekra yang tidak pernah bosan menyerang ayah di kedua koran Komunis itu. …Suatu hari, ayah kedatangan sepasang tamu. Si perempuan orang pribumi, sedang laki-lakinya seorang keturunan Cina. 
 
               Kepada ayah si perempuan memperkenalkan diri. Namanya Astuti, sedangkan si laki-laki bernama Daniel Setiawan. Ayah agak terkejut ketika Astuti menyatakan bahwa dia anak sulung Pramudya Ananta Tur. Astuti menemani Daniel menemui ayah untuk masuk Islam sekaligus mempelajari agama Islam. Selama ini Daniel non muslim. Pramudya tidak setuju anak perempuannya yang muslimah nikah dengan laki-laki yang berbeda kultur dan beragama lain.

            “Hanya sebentar ayah berfikir. Tanpa ada sedikitpun keraguan permohonan kedua tamu itu dikabulkan oleh ayah. Daniel Setiawan calon menantu Pramudya Ananta Tur langsung di-Islam-kan oleh ayah dengan menuntunnya membaca dua kalimat syahadat. Ayah menganjurkan Daniel berkhitan dan menjadwalkan untuk memulai belajar agama Islam kepada ayah.Dalam pertemuan dengan putri sulung Pramudya dan calon menantunya itu ayah tidak ada sama sekali berbicara masalah Pramudya dengan ayah yang pernah terjadi berselang lama waktu itu. Ayah betul-betul telah dihancurkan nama baiknya oleh Pramudya Ananta Tur melalui corong Komunis di harian Bintang Timur dan Harian Rakyat.”

             Kembali Irfan Hamka menulis : “Salah seorang teman Pramudya bernama Dr. Hudaifah Kuddah menanyakan kepada Pramudya alasan tokoh Lekra ini mengutus calon menantunya menemui Hamka. Dengan serius Pram menjawab: "Masalah faham kami tetap berbeda. Saya ingin putri saya yang muslimah harus bersuami dengan laki-laki seiman. Saya lebih mantap mengirim calon menantu saya belajar agama Islam dan masuk Islam kepada Hamka. Dialah seorang ulama yang terbaik."

               Menurut Dr. Hudaifah yang tertuang dalam majalah Horison, Agustus 2006, secara tidak langsung tampaknva Pramudya Ananta Tur dengan mengirim calon menantu ditemani anak perempuan seakan minta maaf atas perilakunya memperlakukan ayah di Harian Bintang Timur dan Harian Rakyat. Dan secara tidak langsung pula ayah memaafkan Pramudya Ananta Tur dengan bersedia mengislamkan dan memberi pelajaran agama Islam kepada sang calon menantu.