Helene van Klinken berhasil meraih gelar doktornya di University of Queensland, Brisbane, Australia pada tahun 2009. Disertasinya mengambil permasalahan mengenai Anak-Anak Timor Timur yang dibawa ke Indonesia antara tahun 1975 dan 1999.
Hasil disertasinya dibukukan dengan judul: Making Them Indonesian: Child Transfer out of East Timor yang diterbitkan Monash University Publishing Melbourne, 2012. Kemudian pada tahun 2014, buku ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Nugraha Katjasungkana dan diterbitkan oleh KPG (Kepustakaan Populer Gramedia), tepatnya pada Januari 2014.
Bagi seseorang yang menguasai sejarah Timor Timur sudah tentu buku ini sangat dangkal. Buku ini banyak bercerita tentang Timor Timur, tetapi tanpa dilengkapi data mendalam.
Buku setebal 354 halaman ini banyak bercerita mengenai pernyataan anak-anak yang tidak rela diambil oleh pasukan Indonesia atau dilarikan dari Timor Timur. Di antaranya adalah TBO Alfredo yang dibawa ke Sulawesi di usia 13 tahun, tahun 1980.
“Untuk si prajurit, Alfredo adalah bukti kepahlawanannya, tetapi bagi Alfredo, ia dianggap sebagai seorang primitif.” (halaman 99).
Pandangan Helene van Klinken memang ingin menyamakan penduduk aborigin, penduduk asli Australia di mana anak-anaknya diambil oleh pemerintah Australia untuk diasimilasikan ke dalam masyarakat kulit putih dengan tujuan Indonesia menjadikan anak-anak Timor Timur untuk menjadi orang Indonesia.
Saya menganggapnya, pandangan Helene van Klinken tidak tepat menyamakan dua kasus ini. Kita akui di dalam situasi darurat perang, pastilah anak-anak menjadi korban. Penyelamatan anak di mana pun di dunia ini merupakan sebuah keutamaan. Apalagi anak-anak tersebut tidak dilentarkan, tetapi dididik dan disekolah kan demi masa depannya.
Kelemahan Helene van Klinken selanjutnya, ia tidak memiliki bukti dalam membicarakan satu hal. Di halaman 252, ia menulis:”…meskipun saya tidak punya bukti bahwa tentara membawa anak-anak untuk diadopsi pada waktu itu.” Menurut saya,”tidak punya bukti,” adalah kegagalan Helene menulis disertasinya.
Juga ketika membicarakan sejarah Timor Timur, Helene van Klien tidak mengaitkannya ketika Timor Timur masih di bawah jajahan Portugis. Bagaimana merebaknya partai komunis di Timor Timur yang diwakili Partai Fretelin, meresahkan Amerika Serikat dan Australia, sehingga secara tidak langsung merestui Indonesia masuk ke Timor Timur, agar komunis tidak meraja lela.Rupanya Helene van Klien menulis dengan memotong sebagian sejarah Timor Timur itu sendiri. Hal ini sangat disayangkan. Apalagi kalau kita membaca sendiri tulisan wartawan Australia dari Surat Kabar Sunday Territorian, Frank Alcora, tanggal 31 Juli 1994.
Di dalam tulisannya itu Alcorta menggarisbawahi:” Indonesia tidak ada pilihan lain selain masuk Timor Timur. Saya kira baik Australia maupun Indonesia tidak ingin kalau Kuba yang masuk ke sana.” Dengan kata lain, disertasi Helene van Klien miskin dengan sejarah Timor Timur, meskipun ia pernah bekerja di dunia akademis di Indonesia antara tahun 1984 dan 1991.
