22 Juni 2015

TULISAN DASMAN DJAMALUDDIN DI TNOL.CO.ID

Kolom Komunitas

Hancurnya Pusat Peradaban Dunia

Dasman Djamaluddin

Sabtu, 21 Juli 2012

Manusia merekayasa teknologi untuk menghancurkan teknologi sebelumnya, dan memusnahkan kemanusiaan.... 
Ilustrasi/IstimewaIlustrasi/IstimewaIrak memiliki peradaban tertinggi di dunia. Tulisan pertama berasal dari sini, demikian pula Kitab Undang-Undang Bangsa Sumeria, Akkadia, Babylonia, dan Assyria. Semuanya membangun peradaban mereka di negeri ini. Barang-barang purbakala itu tersimpan di Museum Baghdad, yang dengan 28 galerinya merupakan museum terbesar di Timur Tengah. Barang-barang peninggalan di museum itu meliputi jangka waktu 100.000 tahun sampai ke Zaman Islam. Dalam satu peti kaca, terdapat sebuah batu yang berusia 10.000 tahun. Ada 12 guratan di situ - mungkin alat penanggalan zaman purbakala. Ada lagi beberapa cap yang dipakai orang Sumeria, 5.000 tahun yang lalu, untuk melegalisasikan dokumen. Sebuah relief abad kesembilan sebelum Masehi, memperlihatkan upacara jabat tangan antara dua orang.
Ilustrasi/IstimewaIlustrasi/IstimewaSebagian benda purbakala di Museum Irak itu merupakan reproduksi. Inilah yang menimbulkan keprihatinan banyak ahli. Benda-benda yang asli dibawa oleh para penjajah asing, atau ahli purbakala asing ke negaranya. Gerbang Ishtar di Baghdad misalnya, berada di Berlin, dan benda-benda lain ada di British Museum, dan di Museum Universitas Pensylvinia, Amerika Serikat.
Hukum Hammurabi, termasuk faktor yang membuat nama Babylonia di Irak terkenal sepanjang sejarah, merupakan kumpulan undang-undang tertua dan terlengkap di dalam sejarah dunia, yang diukir di sebuah tugu (Obelisk) dan dipahat dari Batu Diorit Hitam yang sangat terkenal di penjuru dunia. Sekarang tugu itu disimpan di Museum Louvre, di Kota Paris, Perancis, setelah dibawa ke Iran sebagai rampasan perang, pada Abad XII sebelum Masehi. Yang ada di Irak hanya copynya.
Ilustrasi/IstimewaIlustrasi/IstimewaNegara berperadaban tinggi inilah yang dibombardir pada Januari-Februari 1991, oleh Pasukan Multinasional pimpinan Amerika Serikat. Ada sekitar 114 ribu ton bom, sama dengan enam buah bom sejenis, yang pernah dijatuhkan di atas kota Hiroshima, Jepang dalam Perang Dunia II.
Salah satu tujuan saya ke Irak saat itu, Desember 1992, adalah ingin bertemu dengan Presiden Irak, Saddam Hussein. Namun sepertinya saya tidak bisa menemuinya. Karena,  entah dia ada di mana. Suasana di Baghdad masih belum menentu. Setelah lama menunggu, saya ditelepon Kementerian Industri dan Perlogaman Irak. "Menteri ingin bertemu Bapak," ujar staf Kementerian. Saya pun bergegas ke sana sesuai dengan jadual yang ditentukan. Rupanya Presiden Irak, Saddam Hussein, meminta kepada Menteri Perindustrian dan Perlogaman Irak, Amir Al-Saadi, yang juga berkaitan keluarga dengan Saddam Hussein, untuk mewakili dirinya menemui saya.
Ilustrasi/IstimewaIlustrasi/IstimewaSaya diterima dengan senang hati dan menyampaikan salam dari Presiden Saddam Hussein. Juga mengatakan penyesalan karena Presiden tidak langsung bisa menemui karena situasi mulai memanas kembali. Apa yang dikatakan Menteri Amir Al-Saadi ini benar, setelah saya melewati perbatasan Irak menuju Jordania, pertempuran kembali terjadi dan perbatasan kembali diperketat. Untunglah saya sudah berada di wilayah Jordania. Kalau tidak entah kapan saya bisa kembali ke tanah air, karena tertahan di Irak.
"Saya sempat putus asa. Bagaimana tidak, karena sebelumnya segala sesuatu telah kami pelihara dan kami bina sejak lama, tiba-tiba semuanya hancur. Sekitar 92 persen sektor listrik hancur total. Sektor perindustrian banyak yang hancur," ujar Amir Al-Saadi kepada saya, saat itu.
Ilustrasi/IstimewaIlustrasi/IstimewaBagi seorang warga negara Dunia Ketiga, saya harus memahami apa yang tengah terjadi di Irak. Meskipun saya tidak bertemu Presiden Saddam Hussein waktu itu,  tetapi pada tanggal 24 Juni 1998 saya memperoleh penghargaan dari Sekretaris Pers Kantor Kepresidenan Irak. Saya membaca hati-hati kalimat: "I am writing to inform you that His Excellency, Mr.Saddam Hussein, the President of the Republic of Iraq, has received with gratitude and pleasure your book, entitled Saddam Hussein: Menghalau Tantangan."
Meskipun tidak bertemu karena dalam situasi masih perang, alhamdulillah buku yang saya karang telah dibaca Presiden Irak Saddam Hussein. Penghargaan dengan hadiah saya terima di Kedutaan Besar Irak di Jakarta. Harian Kompas Sabtu, 15 Agustus 1998 memberitakan:
Ilustrasi/IstimewaIlustrasi/IstimewaPenghargaan untuk Penulis tentang Saddam
Dasman Djamaluddin, penulis buku "Saddam Hussein: Menghalau Tantangan" mendapatkan penghargaan dari Kantor Sekretaris Presiden Republik Irak. Penghargaan itu disampaikan oleh Duta Besar Irak untuk Indonesia, Dr. Sa'doon J. al-Zubaydi, Kamis (13/8) dalam upacara sederhana, di Kedutaan Besar Irak, di Jakarta. Dalam penghargaan itu, Irak menyampaikan terimakasih atas simpati dan dukungan terhadap perjuangan Irak.

TULISAN DASMAN DJAMALUDDIN DI TNOL.CO.ID

Kolom Komunitas

Wajah Irak 1992

Dasman Djamaluddin

Selasa, 17 Juli 2012

Riwayat pembunuhan manusia pertama, Iblis membujuk Qabil agar membunuh Habil, begitu pula tragedi Irak.... 
Ilustrasi/IstimewaIlustrasi/IstimewaPerang Teluk dan lamunan tentang Ali Alatas
Taksi yang saya tumpangi meluncur deras membelah padang pasir, menempuh jarak 885 kilometer. Sekitar 13 jam saya di taksi ini, bersama sopir berkebangsaan Irak. Sesekali rasa bosan bisa dihalau dengan berhenti di empat pos penjagaan. Dua pos penjagaan tentara Jordania, lebih kurang 335 kilometer dari Jordania, dan dua pos penjagaan lainnya milik tentara Irak, berjarak 550 kilomter ke Kota Baghdad.   
Selama di perjalanan, saya masih mengingat-ingat ungkapan Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Ali Alatas, sewaktu di Jakarta, mengenai penilaiannya tentang Perang Teluk, agar Amerika Serikat (AS) dan sekutunya jangan menginvasi Irak.
Ilustrasi/IstimewaIlustrasi/IstimewaIni terbukti kemudian, dengan hasil laporan Jeremy Greenstock, mantan Duta Besar Inggris untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), periode 1998 sampai Juli 2003, seusai memberikan kesaksian tertulis, pada sidang penyelidikan peran Inggris soal invasi ke Irak, tanggal 23 November 2009. Kesaksian ini memunculkan niat AS menginvasi Irak. Meski kejadian yang dimaksudkan adalah Invasi AS ke Irak tahun 2003, tetapi analisa Ali Alatas, Menteri Luar Negeri (Menlu) Indonesia, mengenai arti dari invasi AS tidak jauh berbeda. "Amerika Serikat (AS) bertindak gegabah (hell bent) dalam mempersiapkan invasi ke Irak. Bahkan, AS amat gencar menghalangi Inggris yang mencoba mendapatkan izin internasional menjelang invasi," ujar Jeremy Greenstock.
Ilustrasi/IstimewaIlustrasi/IstimewaGreenstock juga menegaskan, Presiden AS, George W Bush, sama sekali tidak berniat mendapatkan sebuah mandat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai pendukung invasi. Bush gencar berkampanye bahwa Presiden Irak Saddam Hussein adalah sahabat Osama Bin Laden. Pada kenyataannya, malah keluarga Bush pernah menjalin hubungan dengan Osama Bin Laden," tegas Greenstock.
"Saat para diplomat dunia gencar mendapatkan mandat PBB pada awal 2003 untuk izin invasi ke Irak, orang-orang dekat Bush bahkan mempertanyakan mengapa untuk urusan invasi saja berbagai hal yang dianggap sebagai tetek bengek harus didalami. Bahkan Washington menggerutu. Di antara gerutu itu adalah celoteh AS soal upaya yang dianggap hanya buang-buang waktu. Kita memerlukan perubahan rezim, mengapa kita harus terpaku pada upaya ini, kita harus mengabaikan itu dan segera melakukan apa yang sudah direncanakan," kata Greenstock, mengenang gerutu orang-orang dekat Bush itu.
Ilustrasi/IstimewaIlustrasi/IstimewaLanjut Greenstock lagi, menjelang invasi, beberapa negara termasuk Jerman, Perancis, dan Kanada, masih berharap invasi AS itu bisa digagalkan. Bahkan orang-orang dekat Bush sudah sangat tidak acuh pada opini dan upaya internasional. Bahkan, Tony Blair (Perdana Menteri Inggris waktu itu) sudah tidak bisa menghentikan niat Bush. Hanya dalam dua minggu Blair mampu meyakinkan Bush. Momentum rencana Invasi AS sudah matang, jauh sebelum invasi. Ini sudah sulit dibendung. Saya sudah memperingati bahaya invasi jika tidak memiliki legitimasi. Bahkan saya pernah mengancam mundur dari jabatan saya jika izin internasional tidak didapatkan menjelang invasi," jelas Greenstock, yang memang tidak lagi menjabat sebagai Duta Besar pada 2003, tahun invasi ke Irak.
Ali Alatas adalah Menlu paling lama dalam sejarah RI. Ia menjadi Menlu dalam empat kabinet, semasa pemerintahan Presiden Soeharto (1987-1999). Namanya juga pernah dinominasikan untuk menjadi Sekjen PBB, oleh sejumlah negara Asia, pada 1996. Tugas terakhirnya, diusia 76 tahun, adalah merumuskan Piagam ASEAN (Perhimpunan Negara-negara Asia Tenggara). Pada saat naskah asli 13 Bab, 55 Pasal itu ditandatangani kesepuluh pemimpin ASEAN di Singapura, 20 November 2007, dia masih sempat menyaksikan. Sayangnya, pada saat diberlakukan, 15 Desember 2008, Ali Alatas telah mendahului kita, pada 11 Desember 2008.
Ilustrasi/IstimewaIlustrasi/IstimewaAkhirnya kembali lamunan saya tentang Ali Alatas terhenti, ketika taksi yang membawa saya memasuki Kota Baghdad. Saya heran, jalan-jalan di kota itu tidak ada yang rusak, bangunan-bangunan gedung berdiri megah. Jika kita bayangkan peristiwa tanggal 17 Januari 1991, ketika AS dan sekutunya memborbardir Irak dengan 100 pesawat pembom mutakhir, tidaklah secepat itu perbaikan dilakukan. Jika diperinci, pada tanggal 17 Januari 1991, pukul 00.00 GMT, atau pukul 07.00 WIB, serangan dilancarkan ke seluruh Irak selama 19 jam. Pukul 06.35 GMT, atau pukul 13.35 WIB, serangan dilanjutkan lagi. Pada tanggal 17 itu saja, pasukan multinasional telah melancarkan 750 kali serangan, bahkan lebih.
Hari menjelang senja. Taksi yang membawa saya sampai di sebuah hotel bintang lima, Palestine Meridien, sebuah hotel yang ditunjuk Pemerintah Irak untuk saya. Hotel terletak di tengah-tengah jantung Kota Baghdad, di Jalan Sa'doun. Di tengah-tengah kota itu mengalir Sungai Tigris dan Euphrat, yang panjangnya masing-masing sekitar 1.718 dan 2.300 kilometer.
Ilustrasi/IstimewaIlustrasi/IstimewaMemasuki hotel di masa damai, berbeda dengan di masa perang. Kita bisa saja tidur nyenyak, tetapi tetap juga waspada. Seorang pelayan berkebangsaan Sudan memberi tahu saya agar berhati-hati, dan jangan terlalu banyak bicara. Ingatan saya langsung ke negara-negara yang selalu memakai alat penyadap. Bahkan saking berhati-hatinya, banyak di antara mahasiswa Indonesia di Baghdad ingin bertemu, saya hanya bilang jangan di hotel, di luar saja, ujar saya. Sangatlah wajar saya berhati-hati, karena Pemerintahan Saddam Hussein saat itu sangat ditakuti. Apalagi saya ke Baghdad, setelah disetujui, dianggap sebagai undangan Kementerian Penerangan Irak. Dan hotel tempat saya menginap, juga mereka yang pilihkan, bukan saya pribadi. Jadi, begitulah. Maka kalau ingin tetap baik-baik saja, ya saya harus berhati-hati benar.

TULISAN DASMAN DJAMALUDDIN DARI Tnol.co.id

Kolom Komunitas

Kapitalisme Gagal, Dimana Pancasila?

Written by Dasman Djamaluddin

Wednesday, 08 February 2012

Kapitalisme mulai menampakkan tanda-tanda kegagalannya, tapi apa penggantinya?
Foto: Dok. rri.co.idFoto: Dok. rri.co.idMungkin luput dari pengamatan kita, bahwa pada tanggal 28 Januari 2012 lalu, kapitalisme digugat di Davos, Swiss. Di negara ini sedang berlangsung Pertemuan Forum Ekonomi Dunia, selama lima hari, yang dihadiri para otoritas keuangan dan pebisnis seluruh dunia. Berbagai hal dikemukan di sana, terutama badai krisis utang Zona Euro, yang beranggotakan 17 negara, dan resesi ekonomi Amerika Serikat. Jika tidak diatasi sesegera mungkin, berdampak timbulnya badai krisis di seluruh dunia, termasuk Indonesia.
Pertemuan itu juga berlangsung di tengah-tengah ancaman Iran akan menutup Selat Hormuz, yang menjadi jalur vital bagi sekitar 40 persen minyak dunia. Jika semuanya terjadi, harga minyak akan melambung tinggi, yang pasti akan sangat memprihatinkan bagi perekonomian dunia.
IstimewaIstimewa Selama lima hari itu pula kapitalisme digugat. Kapitalisme tidak mampu mengangkat harkat dan martabat warga dunia. Tetapi tidak ada pilihan lain, Sistem Kapitalisme masih bisa digunakan, karena belum ada pilihan lain setelah tumbangnya Sistem Sosialisme di berbagai belahan dunia. Dalam hal ini, saya teringat akan kalimat-kalimat Burhanuddin Mohammad Diah (B.M. Diah), yang bukunya sempat saya tulis (Butir-butir Padi B.M. Diah, Tokoh Sejarah yang Menghayati Zaman, pada tahun 1992), yang pada waktu itu sebagai Menteri Penerangan RI, di depan para perwira tinggi, Seskoad, Bandung:
"Kebebasan berpikir cara liberalistis juga bukan ideal dari pada seorang Pancasilais seperti kita, karena ia memberikan kebebasan untuk memeras manusia oleh manusia (Kapitalisme) dan memberi kebebasan untuk memberi cap inferiority pada sesuatu bangsa oleh bangsa yang lain (Rasialisme). Kebebasan yang diikrarkan oleh Pancasilais adalah kebebasan yang dibatasi dengan akal budi yang berjalan di jalan yang diridhoi oleh Tuhan Yang Maha Esa, kebebasan yang berbudaya (cultures freedom)."
Kalimat ini memberi arti pada kita, bangsa ini terpaksa mengikuti pola-pola yang dimainkan dua kekuatan sistem dunia, sosialisme dan kapitalisme, karena kita tidak mampu mengembangkan pola pemikiran alternatif ke hadapan masyarakat dunia. Seandainya saja bangsa ini mampu mengetengahkan pilihan Pancasila sebagai sebuah sistem baru, maka alangkah baiknya. Kita berhenti di tengah jalan untuk mengetengahkan di tengah-tengah peradaban dunia, termasuk di Indonesia sendiri.
IstimewaIstimewaJika kita bayangkan bagaimana para pendiri republik ini telah menuangkan pemikiran-pemikiran briliannya, tidak sulit bagi bangsa ini mengetengahkan model peradaban baru, Pancasila sebagai alternatif. Sayang yang kita contohkan ke hadapan dunia adalah kemelut yang berkepanjangan di bidang korupsi, karena kita lebih tertarik memakai pola pikiran orang lain. Menurut saya, selama kita tetap menerapkan pola pemikiran kapitalisme, Pancasila yang kita dengung-dengungkan hanya sebagai sebuah mimpi. Di masa Soeharto, terlepas dari masalah lain, masih ada Badan Penghayatan dan Pengamalan Pancasila menjadi sebuah lembaga tersendiri, meski pada akhirnya tujuannya tidak sebagaimana diharapkan. Tetapi sekarang?

Tulisan Dasman Djamaluddin dari TNOL

Kolom Komunitas

A Million Friends, Zero Enemy

Written by Dasman Djamaluddin

Wednesday, 11 July 2012

Pengaktifan kembali Kedutaan Besar Republik Indonesia di Baghdad, Irak, sudah melalui penjajakan panjang.... 
Ilustrasi/IstimewaIlustrasi/IstimewaIni adalah pernyataan Menteri Luar Negeri RI, Dr. Marty M. Natalegawa di setiap pertemuan untuk menjelaskan ke arah mana kebijakan luar negeri kita sekarang ini. Tanpa musuh, tetapi banyak teman. Begitu juga terhadap Irak, yaitu: "Menjadikan Irak sebagai Negara Sahabat yang Saling Menguntungkan."
Oleh karena itu, pembukaan kembali Kedutaan Besar Indonesia di Irak, harus melalui perjalanan yang panjang. Setelah diselenggarakannya pemilihan umum legislatif, tanggal 7 Maret 2010, di Irak, dan terbentuknya Pemerintah Baru Irak melalui proses damai dan demokratis, maka pada tanggal 21 Desember 2010, Pemerintah Indonesia melakukan usaha-usaha penjajakan pengaktifan kembali kantor perwakilan RI di Baghdad, yang sebelumnya dinon-aktifkan, Maret 2003, menyusul invasi AS dan pasukan koalisi ke Irak.
Ilustrasi/IstimewaIlustrasi/IstimewaTetapi sejak 2008, Pemerintah Indonesia, melalui Direktur Timur Tengah Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI, telah membuat Nota Diplomatik, tanggal 19 Desember 2008, meminta informasi seputar perkembangan jumlah kantor perwakilan asing di Baghdad, dan perkembangan kondisi keamanan serta pembangunan ekonomi Irak. Seperti itulah upaya awal rencana pengaktifan kembali Kantor Perwakilan RI di Baghdad. Jadi, terlihat sangat jelas dalam masalah keamanan, Indonesia sudah menjajakinya dengan amat berhati-hati.
Ilustrasi/IstimewaIlustrasi/IstimewaTanggal 13 Januari 2009, Direktur Timur Tengah Kemlu RI menerima kunjungan Kuasa Usaha Ad Interim (KUAI) Irak, di Jakarta, Mr. Younis S. Sarhan, dalam rangka meminta informasi mengenai hasil kunjungan Perdana Menteri Suriah ke Indonesia, sekaligus menyampaikan Nota Diplomatik Irak, yang merupakan tanggapan atas Nota Diplomatik Direktur Timur Tengah Kemlu RI. Dari Nota Diplomatik Irak itu, diketahui sudah terdapat 55 kantor perwakilan asing di Baghdad, baik pada tingkat Kedutaaan, Konsulat, dan organisasi internasional. Sudah terdapat jalur penerbangan Baghdad-Amman, Baghdad-Damaskus, Baghdad-Kopenhagen, dan Baghdad-Paris. Kondisi keamanan Irak dinyatakan relatif lebih aman. Terdapat banyak kemajuan. Penguatan penerapan hukum diterapkan. Pihak Irak berharap, Indonesia dapat segera mengaktifkan kembali Kedutaan Besarnya di Baghdad.
Safzen Noerdin. (Foto: Istimewa)Safzen Noerdin. (Foto: Istimewa)Tanggal 26 Januari 2009, Kuasa Usaha Ad Interim Irak bertemu kembali dengan Direktur Timur Tengah di Kementerian Luar Negeri. Permintaan pembukaan Kedubes RI kembali dikemukakan. Bahkan Pemerintah Irak sudah menunjuk pejabat baru sebagai Dubesnya di Jakarta. Akhirnya, dalam rapat dengar pendapat antara Menteri Luar Negeri RI dengan Komisi I DPR, 21 Januari 2011, Menlu RI menyampaikan informasi, bahwa permohonan arahan yang telah diajukan Kemlu terkait pengaktifan kembali KBRI Baghdad, telah disetujui Presiden RI.
Tanggal 29 Juni 2011, Pejabat Dinas Luar Negeri Kemlu RI, yang ditunjuk mengaktivasi kembali KBRI Baghdad telah, menyampaikan letter of introduction (Loi) kepada Wakil Menlu Irak, H. E. Mr. Labib Abbawi, yang dalam Loi tersebut disampaikan penunjukan Pemerintah RI kepada Pejabat Kemlu RI sebagai Kuasa Usaha Ad Interim KBRI Baghdad. Tugas Kuasa Usaha ini berakhir setelah Letjen TNI (Mar/Purn) Safzen Noerdin menggantikannya sebagai Dubes RI yang tetap di Baghdad. Sehingga, dapatlah dimengerti bahwa penjajakan pembukaan kembali Kedubes RI di Baghdad, sudah melalui kajian yang matang. Keamanan sudah relatif aman, dan siapa pun pengusaha Indonesia berinvestasi di Baghdad, Dubes RI sendiri ikut mengamankannya. "Sekarang, bukan besok atau lusa, untuk meraih kesempatan ini," ujar Safzen Noerdin.