16 Agustus 2015

Suara Rakyatlah yang Menentukan

Ketika saya bertemu dengan Sultan HB X di Yogyakarta, yang beliau tekankan tentang Daerah Istimewa Yogyakarta adalah atas kehendak rakyat. Rakyat Yogyakartalah yang menghendaki agar Yogyakarta menjadi Daerah Istimewa Yogyakarta. Inilah yang penting buat suatu daerah, di mana didukung rakyatnya. Bukankah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, didukung penuh oleh rakyat? Ketika di masa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono terjadi sedikit masalah mengenai Daerah Istimewa Yogyakarta yang Menteri Dalam Negeri nya Gamawan Fauzi (asal Minangkabau). Tetapi karena dukungan rakyat, pemerintah kembali mempertegas Daerah Istimewa Yogyakarta. Bukan tidak penting dukungan unsur-unsur dari atas, tetapi yang LEBIH PENTING adalah dukungan rakyat.Oleh karena itulah ketika Daerah Istimewa Minangkabau (DIM) akan dibentuk, saya menyarankan agar diselenggarakan diskusi-diskusi atau seminar, bila perlu seminar internasional untuk melihat sejauh mana dukungan rakyat Minangkabau tentang Daerah Istimewa yang akan dibentuk.


04 Agustus 2015

Bersyukur Tiada Henti


Ketika saya membaca buku “80 Tahun Jacob Oetama,” berjudul “Syukur Tiada Akhir,” saya sejenak merenung dan langsung menyatakan setuju dengan judul buku tersebut. Judul buku tersebut mengajak kita agar bersyukur tiada henti, karena selama nafas yang diberikan Allah SWT masih berfungsi, wajarlah rasa syukur itu diungkapkan.

Kadangkala apa yang diperuntukkan untuk kita, tidak selalu sama dengan yang lain. Berbeda-beda, karena Allah SWT Maha Tahu dengan kemampuan kita. Allah SWT memang tahu dengan batas batas kemampuan kita, dan tidak akan memberi cobaan di luar batas kemampuan itu sendiri.


Tahun 1985, saya diperkenalkan oleh salah seorang pengamat dari Aceh (Fachry Ali) kepada B.M.Diah (Burhanudin Mohamad Diah) yang juga dari Aceh.B.M.Diah lahir di Kotaraja, Aceh dan sekarang bernama Banda Aceh. B.M.Diah, adalah tokoh pers dan memiliki penerbitan Kelompok Merdeka, antara lain Harian Merdeka yang terbit 1 Oktober 1945, Majalah Topik, Majalah Keluarga dan harian berbahasa Inggris, Indonesian Observer. Perantaraan B.M.Diah, maka pada Desember 1992 saya diundang ke Irak melalui Rusia dan Jordania. Hasil perjalanan saya terekam dalam buku Saddam Hussein Menghalau Tantangan.Buku ini memperoleh penghargaan dari Presidem Irak Saddam Hussein.


Pada bulan Juni 2015, buku B.M.Diah terbit dalam bentuk komik. Saya sebagai narasumber mendasarkan diri ke buku saya Butir-butir Padi B.M.Diah. Buku komik ini diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan,Museum Perumusan Naskah Proklamasi.

Selanjutnya saya berkenalan lagi dengan seorang perwira berasal dari suku Aceh, Letnan Jenderal (Marinir) Safzen Noerdin, yang lahir di Krueng Sabee, Aceh Jaya, Aceh. Ia adalah mantan Komandan Korps Marinir dan kemudian jadi Duta Besar Indonesia untuk Irak. Saya diundang ke Irak untuk kedua kalinya dalam kehidupan saya, September 2014. Saya bersyukur ke Irak karena bisa melihat perbandingan antara tanah air saya, Indonesia dan Irak. Juga situasi Irak di periode yang berbeda.

Pada tahap-tahap berikutnya, saya juga berkenalan dengan tokoh-tokoh lain. Seperti Prof Dr Ir Gunawan Satari, Sekretaris B.J.Habibie ketika ia menjadi Menristek RI. Juga dengan Keluarga Besar Jenderal Anumerta Basoeki Rachmat (alm) yang dikenalkan oleh Guru Besar FHUI, Prof Dr Satya Arinanto. Dari para dosen FHUI, terutama Dekan FHUI Prof Bari Azed, saya banyak menimba ilmu, yang kemudian dari perkenalan tersebut menghasilkan buku: Golkar sebagai Partai Alternatif (Jakarta: Pusat Studi Hukum Tata Negara FHUI, 2003).Berikut Letnan Jenderal (Purn) Rais Abin adalah perwira militer yang saya kenal. Ia pernah menjadi Panglima Pasukan Perdamaian PBB di Timur Tengah.Di samping sudah tentu saya juga sempat berbincang lama dengan Sultan HB X di Kraton Yogyakarta tentang kesultanan Yogyakarta.

Rasa bersyukur saya meningkat ketika saya, pada 1 Agustus 2015 menyaksikan Pengambilan Sumpah /Jandi Dokter Muda Periode 49 Tahun 2015 Fakultas Kedokteran Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jakarta, di mana salah seorang yang mengambil sumpah adalah anak saya, Annisa Puteri. Gambar di bawah sekali, ia didampingi kedua kakaknya, Yudhi Kurniawan dan Ivan Setyadhi.