Kamis, 3 Maret 2016, diselenggarakan diskusi buku menghadirkan Anggota Lembaga Pengkajian MPR, Drs.Hajriyanto Y Thohari. MA, Dosen UI Dr.Ir.Adi Santika MS,SH, dan saya sendiri, Dasman Djamaluddin,SH,M.Hum, juga menghadirkan Trinirmalaningrum, Direktur Utama Perkumpulan Skala. Sedangkan moderator diskusi adalah Kepala Bagian Perpustakaan MPR-RI Dra.Roosiah Yuniarsih,M.Kom. Diskusi membahas buku Jojo Rahardjo berjudul “Psikologi Positif dan Manusia Indonesia dalam Perspektif Pancasila dan Kebhinekaan.” (Foto-foto dari Perpustakaan MPR-RI)
INI ADALAH PADANG KARBALA DI IRAK. DULUNYA SEBUAH PADANG PASIR YANG LUAS. DI SINILAH ANAK LAKI-LAKI ALI RA, HUSEIN DIPOTONG LEHERNYA DALAM PERTEMPURAN TIDAK SEIMBANG.SAYA KE SANA PADA HARI MINGGU, 21 SEPTEMBER 2014 BERSAMA STAF KEDUTAAN BESAR RI DI BAGHDAD. http://dasmandjamaluddinshmhum.blogspot.com 0812-198-6661
09 Maret 2016
Sumber Tnol.co.id tentang Ibu Herawati Diah
Sumber: Tnol.co.id (Ketika Ibu Herawati
berusia 95 Tahun, ditulis oleh Dasman Djamaluddin dan tanggal 3 April 2016
berusia 99 Tahun
Tiada yang mengerti mengapa Tuhan memberi umur panjang kepada
seseorang....
Ilustrasi/
IstimewaSebuah judul: "Herawati Diah,
Perempuan Jurnalis dan Perintis"di sebuah harian ibukota,
dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun Herawati Diah yang ke-95 tahun, 3 April
2012, memang cocok dilekatkan kepada perempuan yang ikut mendirikan Koran
Merdeka, bersama suaminya almarhum Burhanuddin Mohammad Diah (B.M. Diah), di
samping juga mendirikan dan memimpin Koran The Indonesian Observer, tahun 1955.
Tetapi bagi saya, yang bersinggungan langsung dengannya, ketika menulis buku
suaminya B.M. Diah (Butir-butir Padi B.M. Diah, Tokoh Sejarah yang
Menghayati Zaman, Jakarta: Pustaka Merdeka, 1992), maka saya ingin
menambahkan judul itu menjadi: "Herawati Diah, Ketabahan Seorang Perempuan".
Ilustrasi/
IstimewaMengapa harus demikian? Karena saya menyaksikan dari
dekat betapa sebuah peristiwa bisa saja begitu cepat terjadi, dan itu terjadi
ketika saya sedang mengumpulkan bahan untuk menulis buku B.M. Diah, suaminya,
yang pendiri dan pemimpin Harian Merdeka, sebuah koran perjuangan yang lahir 1
Oktober 1945. Di samping itu, B.M. Diah adalah satu-satunya saksi sejarah yang
pada malam 17 Agustus 1945, di rumah Maeda, ikut bergabung bersama-sama Bung
Karno-Bung Hatta dan lain-lainnya menyusun naskah proklamasi, sebagai seorang
wartawan. Setelah itu, B.M. Diah menjadi Duta Besar Indonesia untuk Cekoslowakia,
Inggris, dan Thailand. Akhirnya ia menjadi Menteri Penerangan RI. Ia
orang dekat Bung Karno, dan sepak-terjangnya saat itu sesuai dengan garis
Harian Merdeka waktu itu.
Ilustrasi/
IstimewaKembali kepada Herawati Diah. Di kala menyusun buku B.M.
Diah, saya berada di dalam dilema. Ketika bahan sudah terkumpul dan ingin naik
cetak, ada orang kedua dalam kehidupan Herawati Diah, yaitu Julia, yang juga
ada tersebut namanya di dalam buku yang saya tulis. Saya berhubungan baik
dengan keduanya. Dan saat itu, ada keraguan untuk menerbitkan buku ini atau
tidak. Namun karena di dalam buku itu juga ada nama-nama besar yang berhasil
saya kumpulkan dengan susah-payah, seperti Dr. H. Roeslan Abdulgani, Mh.
Isnaeni, Tjokropranolo, A.H. Nasution, SK. Trimurti, Hardi, Ibnu Sutowo, Manai
Sophiaan, Ridwan Saidi, dan Aristides Katoppo, maka saya kemudian memutuskan
untuk menerbitkannya. Saat itu pula Herawati bertanya kepada saya, "Bung
Dasman, foto-foto yang saya berikan mana?" Saya bilang, "Foto-foto ibu
disimpan Bapak (B.M. Diah), saya tidak bisa berbuat apa-apa karena saya menulis
buku Bapak."
Ilustrasi/
IstimewaAkhirnya, saya sarankan agar Herawati menulis buku, yang
kemudian lahirlah buku Kembara Tiada Berakhir dan dikirim ke alamat saya, juga B.M. Diah Wartawan Serba Bisa.
Tetapi ketika Rosihan Anwar meresensi buku terakhir ini, di Majalah Gatra,
beliau meragukan data yang dikumpulkan, karena B.M. Diah sudah sakit-sakitan.
Rosihan mendukung data saya, karena saya menulisnya saat B.M. Diah masih segar
bugar, meski di usianya yang ke-75 tahun. Dan juga, buku Butir-butir Padi B.M. Diah,
Tokoh Sejarah yang Menghayati Zaman yang saya tulis itu banyak dicuplik di
bukuB.M. Diah Wartawan Serba Bisa ini.
Ilustrasi/
IstimewaRasanya, tidak perlulah saya ceritakan bagaimana selanjutnya.
Saya mungkin tidak memahami psikologi perempuan jika berhadapan dengan masalah
seperti itu. Saya hanya ingin mengatakan, bahwa dengan apa yang telah
dialaminya itu, Herawati Diah sangat tabah menjalani hidupnya hingga usia ke-95
tahun. Semoga Allah SWT terus memberkatinya. Selamat Ulang Tahun, Ibu. Mencapai
usia hingga 95 tahun betul-betul merupakan anugerah dari Sang Maha Pencipta.
