09 Maret 2016

Diskusi Buku di Perpustakaan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI

Kamis, 3 Maret 2016, diselenggarakan diskusi buku menghadirkan Anggota Lembaga Pengkajian MPR, Drs.Hajriyanto Y Thohari. MA, Dosen UI Dr.Ir.Adi Santika MS,SH, dan saya sendiri, Dasman Djamaluddin,SH,M.Hum, juga menghadirkan Trinirmalaningrum, Direktur Utama Perkumpulan Skala. Sedangkan moderator diskusi adalah Kepala Bagian Perpustakaan MPR-RI Dra.Roosiah Yuniarsih,M.Kom. Diskusi membahas buku Jojo Rahardjo berjudul “Psikologi Positif dan Manusia Indonesia dalam Perspektif Pancasila dan Kebhinekaan.” (Foto-foto dari Perpustakaan MPR-RI)



Sumber Tnol.co.id tentang Ibu Herawati Diah

Sumber: Tnol.co.id (Ketika Ibu Herawati berusia 95 Tahun, ditulis oleh Dasman Djamaluddin dan tanggal 3 April 2016 berusia 99 Tahun
Tiada yang mengerti mengapa Tuhan memberi umur panjang kepada seseorang....  
Ilustrasi/ IstimewaIlustrasi/ IstimewaSebuah judul: "Herawati Diah, Perempuan Jurnalis dan Perintis"di sebuah harian ibukota, dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun Herawati Diah yang ke-95 tahun, 3 April 2012, memang cocok dilekatkan kepada perempuan yang ikut mendirikan Koran Merdeka, bersama suaminya almarhum Burhanuddin Mohammad Diah (B.M. Diah), di samping juga mendirikan dan memimpin Koran The Indonesian Observer, tahun 1955. Tetapi bagi saya, yang bersinggungan langsung dengannya, ketika menulis buku suaminya B.M. Diah (Butir-butir Padi B.M. Diah, Tokoh Sejarah yang Menghayati Zaman, Jakarta: Pustaka Merdeka, 1992), maka saya ingin menambahkan judul itu menjadi: "Herawati Diah, Ketabahan Seorang Perempuan".
Ilustrasi/ IstimewaIlustrasi/ IstimewaMengapa harus demikian? Karena saya menyaksikan dari dekat betapa sebuah peristiwa bisa saja begitu cepat terjadi, dan itu terjadi ketika saya sedang mengumpulkan bahan untuk menulis buku B.M. Diah, suaminya, yang pendiri dan pemimpin Harian Merdeka, sebuah koran perjuangan yang lahir 1 Oktober 1945. Di samping itu, B.M. Diah adalah satu-satunya saksi sejarah yang pada malam 17 Agustus 1945, di rumah Maeda, ikut bergabung bersama-sama Bung Karno-Bung Hatta dan lain-lainnya menyusun naskah proklamasi, sebagai seorang wartawan. Setelah itu, B.M. Diah menjadi Duta Besar Indonesia untuk Cekoslowakia, Inggris, dan Thailand. Akhirnya ia menjadi Menteri Penerangan RI. Ia orang dekat Bung Karno, dan sepak-terjangnya saat itu sesuai dengan garis Harian Merdeka waktu itu.
Ilustrasi/ IstimewaIlustrasi/ IstimewaKembali kepada Herawati Diah. Di kala menyusun buku B.M. Diah, saya berada di dalam dilema. Ketika bahan sudah terkumpul dan ingin naik cetak, ada orang kedua dalam kehidupan Herawati Diah, yaitu Julia, yang juga ada tersebut namanya di dalam buku yang saya tulis. Saya berhubungan baik dengan keduanya. Dan saat itu, ada keraguan untuk menerbitkan buku ini atau tidak. Namun karena di dalam buku itu juga ada nama-nama besar yang berhasil saya kumpulkan dengan susah-payah, seperti Dr. H. Roeslan Abdulgani, Mh. Isnaeni, Tjokropranolo, A.H. Nasution, SK. Trimurti, Hardi, Ibnu Sutowo, Manai Sophiaan, Ridwan Saidi, dan Aristides Katoppo, maka saya kemudian memutuskan untuk menerbitkannya. Saat itu pula Herawati bertanya kepada saya, "Bung Dasman, foto-foto yang saya berikan mana?" Saya bilang, "Foto-foto ibu disimpan Bapak (B.M. Diah), saya tidak bisa berbuat apa-apa karena saya menulis buku Bapak."
Ilustrasi/ IstimewaIlustrasi/ IstimewaAkhirnya, saya sarankan agar Herawati menulis buku, yang kemudian lahirlah buku Kembara Tiada Berakhir dan dikirim ke alamat saya, juga B.M. Diah Wartawan Serba Bisa. Tetapi ketika Rosihan Anwar meresensi buku terakhir ini, di Majalah Gatra, beliau meragukan data yang dikumpulkan, karena B.M. Diah sudah sakit-sakitan. Rosihan mendukung data saya, karena saya menulisnya saat B.M. Diah masih segar bugar, meski di usianya yang ke-75 tahun. Dan juga, buku Butir-butir Padi B.M. Diah, Tokoh Sejarah yang Menghayati Zaman yang saya tulis itu banyak dicuplik di bukuB.M. Diah Wartawan Serba Bisa ini.
Ilustrasi/ IstimewaIlustrasi/ IstimewaRasanya, tidak perlulah saya ceritakan bagaimana selanjutnya. Saya mungkin tidak memahami psikologi perempuan jika berhadapan dengan masalah seperti itu. Saya hanya ingin mengatakan, bahwa dengan apa yang telah dialaminya itu, Herawati Diah sangat tabah menjalani hidupnya hingga usia ke-95 tahun. Semoga Allah SWT terus memberkatinya. Selamat Ulang Tahun, Ibu. Mencapai usia hingga 95 tahun betul-betul merupakan anugerah dari Sang Maha Pencipta.