18 Agustus 2013

Soekarno-Hatta di Mata Seorang Tokoh Pers

Setiap tanggal 17 Agustus, nama Soekarno-Hatta kembali menggema di seluruh tanah air. Secara serentak nama itu disebut sebut ketika membacakan teks proklamasi. Bangsa ini tidak akan pernah melupaka...n jasa kedua orang proklamator itu selama negara Indonesia ini berdiri.

Tetapi bagaimana pandangan seorang tokoh Pers, Burhanudin Mohammad Diah (B.M.Diah/alm), pendiri Harian Merdeka, yang ikut hadir ketika Soekarno-Hatta merumuskan Naskah Proklamasi di Rumah Maeda malam 17 Agustus 1945?

"Saat yang saya lukiskan tidak lain dari suatu momentum, ketika Bung Karno, Bung Hatta, dengan disaksikan oleh wakil-wakil Bangsa Indonesia dari semua daerah selesai membuat naskah Proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia. Dan dari naskah yang disiapkan atas sepotong kertas tulis dengan tulisan pinsil hitam, lahirlah kembali satu nusa, satu bangsa...

Saya kagum sekali dengan Bung Karno, karena selain muda juga berpengaruh. Pada hakekatnya kemerdekaan Indonesia diperjuangkan oleh kaum mudanya, seperti Soekarno-Hatta, Sjahrir dan lain-lain...

Perjuangan Bung Karno tidak selesai di masa Belanda, tetapi diteruskan di masa Jepang. Beliau terus berjuang sesuai cita-citanya yang menghendaki rakyat merdeka.

Bung Hatta sebagai orang kedua yang mempunyai kharisma menghadapi bangsa Indonesia, memiliki sifat lebih tertutup. Bung Karno bolehlah dianggap sebagai seorang pemukul genderang perang. Bung Hatta berpembawaan yang tenang, mendidik, menjauhi agitasi dan lebih banyak berpikir riil. Ini bukan berarti Bung Karno tidak riil. Bung Hatta lebih berperhitungan, lebih awas, cekatan memakai kata-kata menuding Jepang sebagai penjajah. Rakyat tidak bergolak jika Bung Hatta berpidato. Sebaliknya, mendengar Bung Karno, rakyat tidak saja terpesona, tetapi juga bergetar ramai dan bergantungan pada bibirnya.

Akhirnya sampailah kejayaan Bung Karno sirna. Ia harus meletakkan jabatannya dan terasing sama sekali berhubungan dengan rakyat Indonesia. Ia memberikan kepada mereka kemerdekaan dan di saat-saat kejatuhannya, kemerdekaan dan kebebasan yang diberikannya itu dibalas oleh mereka dengan mengambil kemerdekaannnya sendiri. Ia dikenai tahanan. Ia tidak lenyap di masa penjajahan, tetapi di masa merdeka, ia mengakhiri hidupnya." /Dasman Djamaluddin,"Butir-Butir Padi B.M.Diah," (Jakarta, Pustaka Merdeka,1992), hal.66, 67, 92.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar