10 Mei 2016

Harmoko:"Menjadi Wartawan Merdeka, Awal Cita-Cita"


Man,” ujar Pak Diah (Burhanudin Muhamad/BM Diah) kepada saya, sekitar tahun 1993. Waktu itu, saya baru saja menyelesaikan buku beliau:”Butir-Butir Padi BM Diah, Tokoh Sejarah yang Menghayati Zaman” (Jakarta: Pustaka Merdeka 1992). Selanjutnya dikatakan,“Moko (Harmoko) ingin bertemu Anda.”  Entah apa sebabnya, saya tidak pernah menemui Pak Harmoko. Baru pertamakalinya saya berjumpa beliau  di Situ Gintung, Ciputat,  di acara Reuni Awak Pers Grup Merdeka Jalan AM Sangaji 11 Jakarta Pusat pada hari Minggu, 24 April 2016.

Di acara itu saya ceritakan yang dikatakan Pak BM Diah kepada Pak Harmoko. Ia  membalasnya dengan senyuman. Selama percakapan, meski dengan nada pelan, di usia 77 tahun tersebut, daya ingat Pak Harmoko masih tajam. Sangatlah wajar jika di usia itu, ia bicara pelan-pelan di kursi rodanya. Bahkan Pak Harmoko sangat suka lagu-lagu kenangan masa lalu. Dua kali beliau memanggil saya agar dipesankan dua buah lagu kesukaannya. Ia senang dan terhibur saat mendengarkan.

Kalau kita membaca buku:”Aku Wartawan Merdeka,” terdapat tulisan Pak Harmoko di halaman 175-202 yang jelas-jelas mengatakan keinginannya setelah selesai SMA bergabubg dengan Grup Merdeka pimpinan BM Diah. Meski awalnya ditempatkan sebagai korektor, tetapi dirinya merasa puas dan sangat tekun mengoreksi berbagai tulisan-tulisan sebelum naik cetak. Lama kelamaan tercapai juga impinannya menjadi wartawan Merdeka.

“Di mata saya, setiap tokoh memiliki karakter tersendiri. Dari Pak Diah, saya banyak belajar tentang nasionalisme dan keberanian dalam berpolitik. Seringkalai saya terlibat diskusi dengan Pak Diah. Analisanya tajam,” ujar Pak Harmoko di halaman 182.

Suatu ketika di dalam rapat redaksi, BM Diah melontarkan pertanyaan.  Siapa yang bisa membuat karikatur? Tidak seorang pun menjawab, dan Pak Diah menunjuk Harmoko untuk membuat karikatur. “Saya dipercaya Pak Diah untuk membuat karikatur. Selain menyalurkan bakat melukis, karikatur bisa saya pakai sebagai ‘pisau tajam’ untuk melawan misi politik PKI,” komentar Harmoko di halaman 187.

Oleh karena itu dapatlah disimpulkan bahwa Harmoko yang lahir di Patianrowo, Nganjuk, Jawa Timur, 7 Februari 1939, awal kariernya menjadi wartawan bermula di Grup Merdeka pimpinan BM Diah. Seperti BM Diah sebagai seorang wartawan dan politikus, Harmoko demikian juga. Bahkan seakan-akan beriringinan dengan BM Diah. BM Diah menjadi Menteri Penerangan RI lalu kemudian diikuti Harmoko.

Bedanya, jika BM Diah berhasil juga sebagai Duta Besar, maka Harmoko berhasil menjadi Ketua MPR pada masa pemerintahan Presiden Soeharto.

Liku-liku kehidupan Harmoko sebagai wartawan tidak hanya di Harian Merdeka, tetapi juga di media lain, karena pada tahun 1964 ia bekerja juga sebagai wartawan di  Harian Angkatan Bersenjat, dan kemudian Harian API pada 1965. Pada saat yang sama, ia menjabat pula sebagai pemimpin redaksi majalah berbahasa Jawa, Merdiko (1965). Pada tahun berikutnya (1966-1968),  ia menjabat sebagai pemimpin dan penanggung jawab Harian Mimbar Kita. Pada tahun 1970 bersama beberapa temannya, ia menerbitkan harian Pos Kota.

Di bidang politik, sebagai Menteri Penerangan RI, Harmoko mencetuskan gerakan Kelompencapir(Kelompok pendengar, pembaca dan pemirsa) yang dimaksudkan sebagai alat untuk menyebarkan informasi dari pemerintah.
Harmoko pun dinilai berhasil memengaruhi hasil pemilihan umum (Pemilu) melalui apa yang disebut sebagai " Safari Ramadhan.”
Sebagai Ketua Umum DPP Golkar,  Harmoko dikenal pula sebagai pencetus istilah "Temu Kader.”Terakhir, ia menjabat sebagai Ketua DPR/MPR periode 1997-1999 yang mengangkat Soeharto selaku presiden untuk masa jabatannya yang ke-6. Namun dua bulan kemudian Harmoko pula memintanya turun ketika gerakan rakyat dan mahasiswa yang menuntut reformasi  tampaknya tidak lagi dapat dikendalikan.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar