Man,”
ujar Pak Diah (Burhanudin Muhamad/BM Diah) kepada saya, sekitar tahun 1993. Waktu
itu, saya baru saja menyelesaikan buku beliau:”Butir-Butir Padi BM Diah, Tokoh
Sejarah yang Menghayati Zaman” (Jakarta: Pustaka Merdeka 1992). Selanjutnya
dikatakan,“Moko (Harmoko) ingin bertemu Anda.”
Entah apa sebabnya, saya tidak pernah menemui Pak Harmoko. Baru
pertamakalinya saya berjumpa beliau di
Situ Gintung, Ciputat, di acara Reuni
Awak Pers Grup Merdeka Jalan AM Sangaji 11 Jakarta Pusat pada hari Minggu, 24
April 2016.
Di acara itu saya ceritakan yang dikatakan Pak BM
Diah kepada Pak Harmoko. Ia membalasnya
dengan senyuman. Selama percakapan, meski dengan nada pelan, di usia 77 tahun
tersebut, daya ingat Pak Harmoko masih tajam. Sangatlah wajar jika di usia itu,
ia bicara pelan-pelan di kursi rodanya. Bahkan Pak Harmoko sangat suka
lagu-lagu kenangan masa lalu. Dua kali beliau memanggil saya agar dipesankan
dua buah lagu kesukaannya. Ia senang dan terhibur saat mendengarkan.
Kalau kita membaca buku:”Aku Wartawan Merdeka,”
terdapat tulisan Pak Harmoko di halaman 175-202 yang jelas-jelas mengatakan
keinginannya setelah selesai SMA bergabubg dengan Grup Merdeka pimpinan BM
Diah. Meski awalnya ditempatkan sebagai korektor, tetapi dirinya merasa puas
dan sangat tekun mengoreksi berbagai tulisan-tulisan sebelum naik cetak. Lama
kelamaan tercapai juga impinannya menjadi wartawan Merdeka.
“Di mata saya, setiap tokoh memiliki karakter
tersendiri. Dari Pak Diah, saya banyak belajar tentang nasionalisme dan
keberanian dalam berpolitik. Seringkalai saya terlibat diskusi dengan Pak Diah.
Analisanya tajam,” ujar Pak Harmoko di halaman 182.
Oleh karena itu dapatlah disimpulkan bahwa Harmoko
yang lahir di Patianrowo, Nganjuk, Jawa Timur, 7 Februari 1939, awal kariernya
menjadi wartawan bermula di Grup Merdeka pimpinan BM Diah. Seperti BM Diah
sebagai seorang wartawan dan politikus, Harmoko demikian juga. Bahkan
seakan-akan beriringinan dengan BM Diah. BM Diah menjadi Menteri Penerangan RI
lalu kemudian diikuti Harmoko.
Bedanya, jika BM Diah berhasil juga sebagai Duta
Besar, maka Harmoko berhasil menjadi Ketua MPR pada masa pemerintahan Presiden
Soeharto.
Liku-liku kehidupan Harmoko sebagai wartawan tidak
hanya di Harian Merdeka, tetapi juga di media lain, karena pada tahun 1964 ia bekerja juga sebagai wartawan di Harian
Angkatan Bersenjat, dan kemudian Harian API pada 1965. Pada saat yang sama, ia
menjabat pula sebagai pemimpin redaksi majalah berbahasa Jawa, Merdiko (1965). Pada
tahun berikutnya (1966-1968), ia
menjabat sebagai pemimpin dan penanggung jawab Harian Mimbar Kita. Pada tahun
1970 bersama beberapa temannya, ia menerbitkan harian Pos Kota.
Di bidang politik, sebagai Menteri
Penerangan RI, Harmoko mencetuskan gerakan Kelompencapir(Kelompok pendengar,
pembaca dan pemirsa) yang dimaksudkan sebagai alat untuk menyebarkan informasi
dari pemerintah.
Harmoko pun dinilai berhasil memengaruhi
hasil pemilihan umum (Pemilu) melalui apa yang disebut sebagai " Safari
Ramadhan.”
Sebagai Ketua Umum DPP Golkar, Harmoko dikenal pula sebagai pencetus istilah
"Temu Kader.”Terakhir, ia menjabat sebagai Ketua DPR/MPR periode 1997-1999
yang mengangkat Soeharto selaku presiden untuk masa jabatannya yang ke-6.
Namun dua bulan kemudian Harmoko pula memintanya turun ketika gerakan rakyat dan
mahasiswa yang menuntut reformasi tampaknya tidak lagi dapat
dikendalikan.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar