INI ADALAH PADANG KARBALA DI IRAK. DULUNYA SEBUAH PADANG PASIR YANG LUAS. DI SINILAH ANAK LAKI-LAKI ALI RA, HUSEIN DIPOTONG LEHERNYA DALAM PERTEMPURAN TIDAK SEIMBANG.SAYA KE SANA PADA HARI MINGGU, 21 SEPTEMBER 2014 BERSAMA STAF KEDUTAAN BESAR RI DI BAGHDAD. http://dasmandjamaluddinshmhum.blogspot.com 0812-198-6661
01 Februari 2014
PENGALAMAN SAYA DENGAN DUBES PENENTANG AS
Ketika kita mempertanyakan, apakah bangsa kita sekarang ini berdaulat penuh ? Pertanyaan ini sudah tentu tidak seorang pun bisa menjawabnya. Yang jelas kalau saya ditanyakan mengenai, apakah pernyataan Edward Snowden benar bahwa Australia menyadap pembicaraan Presiden RI dan pejabat lainnya? Kalau yang satu ini saya menjawabnya ke arah benar. Ini dunia intelijen. Kita pernah menyadap ketika Timor Timur bergejolak. Kalau tidak menyadap, intelijen sudah tentu tidak ada kerjanya.
Apalagi jika melihat kepentingan setiap negara, tidaklah aneh. Amerika memang perlu melihat sikap dan tindak tanduk setiap kepala negara di dunia. Apakah masih bersahabat dengan saya atau tidak ?
Indonesia sejak peralihan dari Presiden Soekarno ke Soeharto memang condong mengarah ke Barat. Situasilah yang menyebabkan hal ini terjadi dikarenakan Perang Dingin antara Barat dan Timur ketika itu sedang berlangsung. Cina dengan PKI nya sudah ingin menguasai Indonesia. Ini yang dikawatirkan Barat. Singkatnya Barat berhasil mengalihkan Indonesia tidak menjadi negara komunis, karena PKI berhasil dihancurkan oleh Soeharto bersama pasukannya.
Selanjutnya kita sangat tergantung ke Barat. Hal ini yang sangat disesalkan. Kita lupa kita adalah negara berdaulat. Setelah itu lihatlah berbagai perkembangan hingga Snowden menyatakan bahwa telepon Presiden SBY disadap.Ketika asyik-asyiknya kita marah, Menlu Australia bertemu Menlu Amerika Serikat.Setelah itu redalah kemarahan kita.
Sebetulnya saya hanya ingin mengungkapkan pengalaman saya, bagaimana jika sebuah negara dalam hal ini Irak menentang AS. Bagaimana pula jika kita menentang AS ?
Ketika saya menjadi wartawan Harian Merdeka B.M.Diah, sangat sering bertemu dengan Duta Besar Irak. Ini dikarenakan pada waktu itu, Harian Merdeka sangat mendukung perjuangan negara-negara Dunia Ketiga. Pemerintah RI melalui Menlu Ali Alatas pun demikian. Tetapi setelah Ali Alatas, kebijakan luar negeri Indonesia terhadap Irak bergeser.
Paling berkesan adalah ketika bertemu dengan Duta Besar Irak untuk Indonesia, Dr.Sa’doon J.al-Zubaydi. Mengapa berkesan, karena beliaulah tampilan sebenarnya Presiden Saddam Hussein di Indonesia. Pada tahun 1999 saya diundang beliau, ya setelah saya berkunjung ke Irak tahun 1992.Dubes Irak ini sudah tentu tidak mentolerir kearoganan Amerika Serikat dan Israel. Di samping itu beliau lulusan Sastra Inggris di Universitas Harvard dan penterjemah Presiden Irak Saddam Hussein bertahun-tahun lamanya. Ini yang saya katakan, penjelmaan Saddam Hussein di Indonesia, karena dekatnya hubungan kedua orang ini.
Yang terjadi apa ? Sayang perjuangan Dr.Sa'doon yang menjadi Duta Besar Irak untuk Indonesia yang saya temui tahun 1999 itu berakhir dengan hancurnya Irak oleh Pasukan NATO. Nasibnya juga tidak diketahui. Terakhir beliau sempat memberikan sebuah foto yang kemudian minta dimuat di buku yang sedang saya tulis" "Saddam Hussein Menghalau Tantangan." Foto itu adalah foto George Galloway yang sedang menyerahkan Panji Al-Kuds (Jerusalem) kepada Mantan Presiden Irak Saddam Hussein, pada tahun 1994. Di tengah-tengahnya berdiri Dr.Sa'doon al-Zubaydi sebagai penterjemah.
Dr.Sa'doon al Zulbaydi tidak pernah tampil lagi bersama Saddam Hussein, seiring jatuhnya Irak. Inilah akibat bagi siapa saja yang menentang AS. Pertanyaan saya waktu itu bagaimana posisi Indonesia ketika Irak diserang habis-habisan oleh NATO? Mengapa tidak ada hukuman bagi pihak si penyerang yang sangat jelas melakukan invasi ke negara berdaulat.
Kesimpulan yang saya ambil, hendaknya bangsa Indonesia kembali ke UUD 45 semurni-murninya. Jika boleh saya katakan, Amandemenlah UUD 45 itu untuk kelima kalinya. Karena UUD 45 yang sudah di amandemen empat kali memuat banyak pertentangan-pertentangan dengan keinginan rakyat, terutama Pasal 33 yang sudah ditambah dengan ayat 4 dan 5 nya, tanpa penjelasan. Jadikan kembali Indonesia berdaulat penuh dengan negaranya sendiri.
(Keterangan Foto: Saya bersama Duta Besar Irak untuk Indonesia, Dr.Sa'doon J.al-Zubaydi tahun 1999).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar