18 Desember 2013

SUARA ANAK SANG PENYAIR


Sitok Srengenge (nama lahir Sitok Sudarto), seorang budayawan Indonesia yang mendalami seni teater serta telah menghasilkan banyak karya tulis itu kini sedang kena musibah.

Anak kelahiran Desa Dorolegi, Godong,... Grobogan, Jawa Tengah, 22 Agustus 1965 tersebut telah dilaporkan seorang mahasiswi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya-UI, RW (22) pada bulan November 2013 ke Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya. Ia hamil. Sitok dianggap tidak mau bertanggung jawab. Itu data sementara.Namun, keluarga Sitok sendiri menyangkal tuduhan perkosaan, melainkan mereka melakukannya atas dasar suka sama suka.

Siapa yang benar, nampaknya harus menunggu waktu. Memang sulit kalau kita bicara hubungan antara seorang laki-laki dan perempuan. Makanya saya lebih suka mengutip suara anak perempuan Sitok di web pribadinya.Bacalah pernyataannya:

“Surat Terbuka

By laire siwi mentari

Menanggapi kabar buruk yang sedang terjadi saat ini, saya berusaha untuk berbesar hati. Ini berat sekali. Rasanya hancur melihat reaksi beberapa teman saya sendiri nyinyir menanggapi masalah ini. Padahal tidak semua berita yang mereka baca di media itu benar. Banyak yang diplintir dan dibesar-besarkan.

Tuduhan bahwa ayah saya, Sitok Srengenge, memperkosa dan menghindar dari tanggung jawab itu tidak benar. Bahwa ayah saya berhubungan dengan RW memang benar, tapi sama sekali tak ada unsur paksaan. Berkali-kali ayah saya berniat untuk bertemu keluarga RW dan mempertanggunjawabkan perbuatannya. Tapi usahanya itu tidak ditanggapi oleh pendamping RW. Seolah-olah akses justru ditutup.

Selama beberapa bulan ini justru ayah saya menunggu kabar dari mediator tersebut. Sampai akhirnya kemarin berita beredar. Ayah saya dilaporkan ke polisi dengan tuduhan pemerkosaan dan tidak ada tanggung jawab.

Saya sangat kecewa kepada ayah saya. Tapi saya tidak akan membiarkan ayah saya menjadi seorang yang jahat. Saya akan dukung dia untuk terus berusaha bertanggung jawab kepada RW dan keluarganya. Dan sebisa mungkin saya akan selalu mendampingi ayah saya. Biar bagaimana pun, saya tetap bagian dari hidup ayah saya dan tak ada siapa pun yang ia miliki kecuali saya dan ibu saya.

Sekali lagi, ini tidak mudah untuk saya dan keluarga. Semua orang berhak kecewa bahkan marah kepada ayah saya. Bahkan saya, sebagai anak, berhak seribu kali lipat lebih marah dari siapa pun. Tapi kemarahan saya tidak akan mengubah kondisi menjadi lebih baik. Setelah marah, lalu apa?

Perlu disadari bahwa ada anak berumur 22 tahun sedang depresi menghadapi hidup. Ada janin yang sebentar lagi lahir. Dan ini juga pada akhirnya harus menjadi tanggung jawab saya untuk menguatkan RW dan calon adik saya.

Saya mohon doa dari seluruh teman yang sebesar-besarnya supaya saya dan ibu saya kuat menghadapi ini. RW dan janinnya juga senantiasa diberi kesehatan. Semoga semua ini cepat selesai dan tak ada kepentingan-kepentingan pihak tertentu yang memainkan masalah ini hingga bertambah rumit. Dan, jika berkenan, mohon untuk tidak menggunakan kata-kata kasar untuk menanggapi masalah ini. Tidak untuk membela siapa pun, tapi setidaknya untuk menjaga perasaan kedua keluarga.

Terima kasih sebesar-besarnya kepada para sahabat dan keluarga. Baik buruknya perlakuan kalian kepada kami, justru semakin menguatkan cinta keluarga kami.
Salam hangat

Laire Siwi Mentari”

FOTO: Rimanews.com
Lihat Selengkapnya

14 Desember 2013

CINTA TULUS SEORANG INGGIT !!!


Foto ini menggambarkan pertemuan ketika Bung Karno telah menjadi Presiden RI dengan mantan isterinya Inggit. Mengharukan, sekaligus membanggakan. Hingga akhir hayatnya, Inggit tetap memuja mantan suaminya itu. Cinta sejati dan penuh keikhlasan. Suatu ketika ia ditanya tentang hal-hal bersifat pribadi tentang seorang Soekarno, Inggit selalu melindungi. "Ah...itu pamali untuk dibicarakan," ujarnya. Soekarno menggambarkan sosok Inggit dalam buku Penyambung Lidah Rakyat Indonesia oleh Cindy Adams:" Inggit dan aku kawin di tahun 1923. Keluargaku tak pernah menyuarakan satu perkataan mencela ketika aku berpindah dari istriku yang masih gadis kepada istri lain yang selusin tahun lebih tua dari padaku...Inggit yang bermata besar dan memakai gelang di tangan itu tidak mempunyai masa lampau yang gemilang. Dia sama sekali tidak terpelajar, akan tetapi intelektualisme bagiku tidaklah penting dalam diri seorang perempuan. Yang kuhargai adalah kemanusiaannya. Perempuan itu sangat mencintaiku. Dia tidak memberikan pendapat-pendapat. Dia hanya memandang dan menungguku, dia mendorong dan memuja. Dia memberikan kepadaku segala sesuatu yang tidak bisa diberikan oleh ibuku. Dia memberiku kecintaan, kehangatan, tidak mementingkan diri sendiri."

09 Desember 2013

FOTO-FOTO KIRIMAN




FOTO-FOTO KIRIMAN ZUSNELI ZUBIR DAN FARIDA R.WARGADALEM DI ACARA SEMINAR NASIONAL "MAKNA KEMERDEKAAN: DULU, KINI DAN YANG AKAN DATANG" YANG DISELENGGARAKAN MUSEUM PERUMUSAN NASKAH PROKLAMASI DI MUSEUM NASIONAL, JAKARTA, 3 DESEMBER 2013. SESI KE-2, PEMBICARA: SLAMET RAHARDJO DJAROT DAN ARSWENDO ATMOWILOTO. MODERATOR: DASMAN DJAMALUDDIN,SH,M.HUM

08 Desember 2013

PATUNG PELUKIS ITU RESMI BERDIRI. AKHIR HIDUPNYA TRAGIS, MERENGGANG NYAWA DI TANGAN PENCURI


Jika kita mengunjungi Museum Pelukis Terkenal Basoeki Abdullah, di dekat Rumah Sakit Umum Fatmawati, Jl.Keuangan Raya No.19, Cilandak Barat, Jakarta Selatan, ada yang sedikit berubah.

Di depan Museum itu yang adalah juga rumah pribadi Basoeki yang dihibahkan kepada pemerintah, berdiri sebuah patung dirinya.Hari ini Sabtu, 7 Desember 2013, Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI Kacung Marijan meresmikan pendirian patung tersebut.

Basoeki Abdullah, adalah maestro pelukis Indonesia.Lahir di Solo, Jawa Tengah pada tanggal 27 Januari 1915.Meninggal pada 5 November 1993.

Meninggalnya tidak wajar. Ia dibunuh pencuri. Menurut informasi, tersangka pelaku adalah pembunuh tunggal dan ternyata pemuda yang tak punya pekerjaan tetap, yaitu Amd alias Nd (20) yang sudah enam kali melakukan pencurian di wilayah Jaksel.

Penangkapan yang berselang empat hari setelah Basoeki Abdullah meninggal itu dilaporkan kepada Kapolda Metro Jaya waktu itu (Mayjen (Pol) Hindarto) pagi harinya.Juga diteruskan kepada Presiden Soeharto pada pagi hari itu juga.

Tersangka pelaku pembunuhan dalam aksinya berkomplot dengan Why alias Waud (37), tukang kebun yang sudah bekerja sekitar 2 tahun di rumah korban merupakan otak pelaku kejahatan.

Sedangkan lainnya adalah Abd bin Skt (29) penadah barang-barang hasil kejahatan.

Ketiganya waktu itu ditahan di Polres Jaksel. Memang tidak secara khusus Kapolda Hindarto melaporkan perkembangan kasus pembunuhan itu kepada Presiden. Laporan itu terjadi ketika Presiden Soeharto memanggil Kapolda, yang sedang berada dalam antrian untuk memberikan ucapan selamat kepada para ahli waris penerima gelar pahlawan di Istana Merdeka.

Presiden ketika itu didampingi Ny Tien Soeharto. Saat Presiden dan Ny Tien Soeharto mendengar laporan Hindarto, Wapres dan Ny Try Sutrisno bergabung untuk mendengarkan laporan itu. Usai laporan, Presiden Soeharto kemudian tampak mengatakan sesuatu sebelum menyalami Hindarto. Kapolda juga kemudian disalami Ny Tien, Wapres dan Ny Try Sutrisno sebelum kembali masuk ke antrian.

Amd ditangkap langsung oleh Kapolres Metro Jakarta Selatan, Letkol (Pol) Drs Adang Rismanto dalam suatu penyergapan di daerah Cicurug, Sukabumi, Jawa Barat.

Kasus pembunuhan Basoeki Abdullah yang terungkap hanya dalam waktu empat hari, merupakan prestasi besar bagi jajaran Polda Metro Jaya.(Foto:Dasman Djamaluddin)

06 Desember 2013

MENJEMBATANI PEMIKIRAN ARSWENDO DAN SLAMET RAHARDJO (2)


SLAMET RAHARDJO: “KITA HARUS MERDEKA DARI KETIDAKTAHUAN DIRI SENDIRI”

Slamet Rahardjo Djarot, siapa yang tak kenal beliau. Dikenal sebagai Aktor Senior Indonesia. Kakak kandung penata musik dan politikus Indonesia, Eros Djarot. Slamet Rahardjo yang sering pula dipanggil dengan nama kecilnya memet ini, lahir di Serang, Banten, 21 Januari 1949.

Banyak film yang sudah dibintangi dan disutradarainya, antara lain “Badai Pasti Berlalu,”Tjut Nya Din,”Marsinah,”Laskar Pelangi,”Ketika Cinta Bertasbih,”Alangkah Lucunya Negeri ini.” Saya menekankan kata:”Alangkah Lucunya Negeri Ini,” karena memang bangsa kita sekarang sedang dilanda kegundahan. Korupsi di mana-mana. Ketidakjujuran sedang bersahut-sahutan untuk menampilkan tokoh-tokoh yang nota bene hanya tampil memakai topeng. Tidak asli wujudnya dan bahkan tidak mengenal siapa dirinya.

Inilah yang ditekankan Slamet Rahardjo di hadapan peserta Seminar Nasional:”Makna Kemerdekaan: Dulu, Kini, dan yang Akan datang,” yang diselenggarakan Museum Perumusan Naskah Proklamasi di Museum Nasional, Jakarta, Selasa, 3 Desember 2013.”Kita harus merdeka dari kebodohan dan merdeka dari ketidaktahuan diri kita sendiri,” ujar Slamet Rahardjo.

Sebagai seorang moderator, memang saya tidak terlalu sulit mengkaitkan pemikiran pembicara kedua di sesi kedua, Slamet Rahardjo Djarot dengan Arswendo Atmowiloto yang sudah menjadi pembicara pertama. Sama-sama menginginkan perbaikan bangsa ini ke depan. Mengisi kemerdekaan dengan hasil-hasil karya nyata.

“Saya anak tentara,” ujar Slamet Rahardjo memulai pembicaraannya. “Di lingkungan militer,” tegasnya. “Saya sejak awal sudah mengenal keterbatasan diri saya. Untuk itulah saya mengenal siapa saya. Dengan mengenal diri kita sendiri, bisa memacu seseorang untuk berbuat lebih baik, lebih baik dan lebih baik lagi."

"Kita muncul dengan kekuatan diri kita sendiri (dari dalam) dan bukan berdasarkan pengaruh luar,” tegas Slamet Rahardjo.

Di dalam makalahnya berjudul: “Film Kemerdekaan Versus Kemerdekaan Berkarya,” Slamet Rahardjo sangat perihatin dengan dunia perfilman sekarang ini. “Tanpa roh,” tegasnya dengan menyebut berbagai contoh film di mana jalan cerita film itu tidak sesuai dengan budaya bangsa.

”Pembuat film menyerah dan tidak bisa berbuat apa-apa karena posisinya sebagai pribadi yang dibayar sehingga tidak memiliki posisi tawar yang kuat. Kemerdekaan berkarya hancur lebur. Kekuatan kapitalis telah menghancurkan cita penciptaan. Kreativitas dikebiri sejak awal persiapan penciptaan sebuah karya film,” demikian Slamet Rahardjo mengutarakannya dengan tenang, tetapi penuh semangat.

“Oleh karena itu,” demikian Slamet Rahardjo, “Dukungan pemerintah sangat diperlukan mengingat banyaknya kenyataan kualitas film menjadi rusak karena menampilkan produk-produk sponsor yang dipaksakan, sehingga merusak nilai artistik, teknik dan yang terpenting menyalahi fakta sejarah.”

Sejauh ini, kembali Slamet Rahardjo menegaskan, pembahasan tentang perfilman nasional, UU Perfilman yang berlaku, kurang menampilkan tugas dan tanggung-jawab pemerintah, padahal jelas-jelas termaktub di dalamnya bahwa film adalah produk budaya.

“Jika negara Adikuasa menggunakan film sebagai media penakluk dunia, maka jika hari ini kita bicara soal Film Kemerdekaan yang bernafaskan perjuangan, maka sejak sekarang kita harus mulai lagi memaknai arti Merdeka, Kemerdekaan dan Memerdekakan," tambah Slamet Rahardjo.

“Pemerintah masih terbelenggu oleh rasa ewuh-pakewuh. Secara perundang-undangan, jelas perfilman di bawah Kementerian yang bertanggung-jawab pada masalah kebudayaan. Tetapi kegiatan perfilman saat ini berada di dua Kementerian, yaitu Kemendikbud dan Kemenparekraf. Pembagian kapling tugas dan tanggung jawab antar mereka dilakukan berdasarkan MoU dan kekuatannya tidak mungkin mentorpedir UU,” kembali Slamet Rahardjo menggarisbawahi.

“Kenyataan ini jelas merupakan gambaran bahwa kita belum Merdeka dari ketidaktahuan kita tentang film sebagai produk budaya,” ujar Slamet Rahardjo.”

“Lalu kemerdekaan apa yang kita miliki ketika politik kebudayaan kita lebih merapat pada semangat konsumtif dan bukan kreatif? Kebijakan impor di berbagai produk kebutuhan hidup merupakan bukti ketergantungan pada bangsa lain. Lalu bagaimana pula kita bisa melangkah pada upaya memerdekakan ketika kita masih erat terbelenggu dan kebijakan negara masih dikendalikan negara tertentu?.” (FOTO:Zusneli Zubir)

04 Desember 2013

MENJEMBATANI PEMIKIRAN ARSWENDO DAN SLAMET RAHARDJO (I)


SANG NOVELIS ARSWENDO ITU ADALAH JUGA SEJARAWAN 

Kehadiran dua orang budayawan, Arswendo Atmowiloto dan Slamet Rahardjo Djarot di berbagai pertemuan atau seminar-seminar sudah tentu menarik perhatian peserta. Demikian pula ketika berlangsung acara Seminar Nasional “Makna Kemerdekaan: Dulu, Kini, dan yang Akan Datang,” yang diselenggarakan Museum Perumusan Naskah Proklamasi di Museum Nasional Jakarta, Selasa, 3 Desember 2013.

Sebagai seorang moderator di sesi-kedua, sudah tentu saya sangat menghargai kehadiran dua budayawan tersebut. Minimal bisa mencerahkan pemikiran-pemikiran mengenai makna kemerdekaan itu sendiri terutama mengenai hasil-hasil karya mereka yang kalau boleh saya katakan melampaui batas-batas kemampuan rata-rata putera bangsa.

“Inilah sebetulnya makna kemerdekaan buat anak bangsa, karena mereka tidak berteori tapi berkarya,” ujar saya mengawali pembicaraan sebagai moderator. Juga sebagaimana diharapkan para pembicara di-sesi pertama, bahwa hendaknya untuk memaknai sebuah kemerdekaan kita harus jujur, dan konsekuen, maka dengan profesi kedua nara sumber ini membuktikan hal itu.

Sebagai pembicara pertama, Arswendo Atmowiloto megulas makalahnya dengan judul:”Nasionalisme Nasi Goreng.” Sekilas terasa aneh didengar, tetapi setelah diulas barulah kita bisa memahami bahwa Nasi Goreng itu menunjukan ciri khas masakan asli Indonesia. Arswendo ingin menggarisbawahi bahwa jati diri kita sebagai bangsa sudah pudar.

“Sayangnya nasi goreng tidak dikenali dalam bahasa komputer, sehingga setiap kali menuliskan goreng, otomatis berganti dengan goring. Seakan kata nasi goreng adalah salah dan perlu dikoreksi. Tetapi meskipun demikian, lanjut Arswendo, nasib nasi goreng tidak seburuk durian, terasi, kretek atau jamu kuat.

“Di negerinya sendiri durian tak leluasa disajikan di hotel, atau bahkan dalam kamar, atau sebagai tentengan ketika naik pesawat terbang. Terasi dianggap kotor, diganti bumbu masak plastikan.Kretek, juga rokok dianggap jelek, jorok dan berbahaya, sementara jamu kuat dianggap illegal,” ujar Arswendo.

Memakai bahasa sehari-hari yang mudah dicerna dan dipahami, Arswendo ingin mengungkapkan, kenapa bangsa ini tidak mencintai produksi dalam negeri? Inilah tragedi nasionalisme, tegas Arswendo.

“Bagaimana bisa hanya untuk menentukan kecantikan seorang gadis, harus diukur dan dibandingkan antara lingkar dada, pinggang dan pantat,” kembali Arswendo mengingatkan, seharusnya untuk menentukan seorang gadis cantik bukan dari ukuran itu.

Jadi Arswendo ingin menegaskan, ketergantungan kita kepada budaya asing dalam menilai sesuatu, sementara budaya asli bangsa ditinggalkan. Sebetulnya dari pemikiran Arswendo, dengan mencontohkan Nasionalisme Nasi Goreng, sudah tepat bahwa bangsa ini mencintai budayanya sendiri.

“Wujud budaya tidak lahir untuk meniadakan wujud yang lain, juga tidak memusuhi. Nasi goreng lahir tidak untuk meniadakan atau memusuhi nasi liwet, nasi uduk, atau rendang atau gudeg, atau apa pun. Kita boleh menikmati nasi goreng tanpa merasa bersalah, atau disalahkan,” jelas Arswendo menyimpulkan.

Kehadiran Arswendo memacu generasi muda, atau guru-guru sejarah, mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi,yang hadir di acara seminar itu agar lebih berkreatifitas untuk memaknai kemerdekaan. Arswendo tidak berteori, tetapi dia adalah novelis produktif. Arswendo itu nama aslinya Sarwendo, tetapi karena tidak populer diubahnya dengan Arswendo dan di belakang namanya ditambah nama ayah, Atmowiloto, sehingga terwujudlah namanya sebagaimana sekarang Arswendo Atmowiloto. Lahir di Surakarta, 26 November 1948.

Berbicara mengenai karya, mungkin sudah tidak bisa dihitung, baik berupa tulisan bersambung dan novel. Menurut saya kalau kita tinjau dari novel-novel yang ditulisnya, Arswendo boleh dianggap sebagai sejarawan. Novelnya yang lahir berisi jiwa-jiwa kepahlawan atau sejarah di antaranya, “Serangan Fajar,” “Air Langga,” Senopati Pamungkas,”dan “Penghianatan G.30.S/PKI.”

"Sebagaimana ungkap Dr.Kuntowijoyo, Sejarawan UGM, sebuah biografi adalah sejarah, maka saya juga boleh mengatakan bahwa Arswendo layak juga diakui sebagai sejarawan. Apalagi beliau selalu menulis, karena bagaimana pun kunci dari sejarawan itu menulis. Jika tidak menulis lagi, maka kesejarawanannya diragukan,” ujar saya sebagai moderator di awal pembukaan seminar.