13 Juli 2014

MENHAN ISRAEL PERNAH SETUJU INDONESIA JADI PANGLIMA PASUKAN PERDAMAIAN PBB DI SINAI (1976)


Tidak berkelebihan jika saya menyarankan Indonesia agar bisa mengajak Israel maju ke meja perundingan dengan Palestina. Jadi tidak sekedar menghimbau, mengecam.Tidak terbatas mengontak hanya negara-negara Arab, karena tidak mungkin selesai secara menyeluruh. Menghimbau gencatan senjata, bisa saja dilakukan. Tetapi besoknya atau lusa terjadi lagi pembantaian terhadap warga Palestina. Kan pembantaian terhadap warga Palestina bukan hanya baru-baru ini saja? Sejak 1948, kan ? Saya mengharapkan Indonesia BERBUAT. Jadi inisiator, karena meskipun Indonesia tidak mengakui Israel, tetapi dalam sejarah, Israel
pernah menyetujui putera bangsa ini (Letjen/Purn Rais Abin) jadi Panglima Pasukan Perdamaian PBB (1976-1979). Apa kata Shimon Peres (yang kemudian menjadi Presiden Israel) waktu Rais Abin menemuinya di Jerusalem. "Terus terang saja merupakan suatu preseden yang unik bahwa kami menyetujui Panglima Pasukan PBB dari negara yang tidak mengakui Israel.Dari kami nggak ada keberatan, tetapi masih ada masalah politis," ujar Shimon Peres. (Foto Shimon Peres diambil dari FRONTPAGE MAG.COM)

Jika Ingin Jadi Penengah, Tidak Cukup Hanya Kontak Negara Arab




Jika Indonesia ingin jadi penengah antara Palestina-Israel tidak cukup mengontak negara-negara Arab, juga harus mengajak Israel. Ketika Rais Abin diangkat menjadi Panglima Pasukan Perdamaian PBB, ia disetujui Israel, meski Indonesia tidak memiliki hubungan persahabatan dengan Israel, sehingga mampu ikut menciptakan perdamaian Mesir-Israel. Jika tidak disetujui waktu itu, akan sia-sia. Berkat laporan beliau kepada Sekjen PBB Kurt Waldheim agar perundingan tingkat tinggi diselenggarakan karena di lapangan, ia sebagai Panglima melihat ada niat Mesir-Israel berdamai, maka diselenggarakan lah Perjanjian Camp David terkenal itu. Itu setelah ia mondar mandir menemui para pemimpin Mesir dan Israel.Begitu pula halnya dengan menciptakan perdamaian Palestina-Israel.