29 Juni 2014

WIRANTO: "PRABOWO DIPECAT"


Menarik membaca jawaban Jenderal (Purnawirawan) Wiranto ketika ditanya wartawan Gatra Andi Anggana melalui email di Majalah Gatra Edisi 26 Juni - 2 Juli 2014:"Penghentian Prabowo sebagai Pangkostrad karena terlibat penculikan ketika menjabat sebagai Komandan Jenderal (Danjen) Koppasus.Karena, tindakan itu dianggap melanggar Saptamarga dan Sumpah Prajurit." Sudah tentu membaca jawaban Jenderal (Purn) Wiranto ini, sudut pandang seorang peneliti sangat berbeda dengan sudut pandang seorang politikus. Saya menekankan dari sudut pandang seorang peneliti. Seorang ilmuwan. Bagi seorang peneliti sudah tentu sudut pandang melihat data ini berbeda dari politikus. Inilah yang membuat saya tertarik membacanya. Seorang peneliti tidak mempermasalahkan siapa yang mengeluarkan data. Ia pun untuk sementara (sementara) tidak harus cepat percaya dengan data tersebut. Karena data itu akan terus diteliti. Sasaran utamanya adalah menemukan data-data akurat yang bisa djadikan sebagai sumber sejarah.Tetapi.keberanian Jenderal (Purn) Wiranto bersaksi dan mengatakan maju terus kepada kebenaran untuk mengatakan bahwa memang Prabowo dipecat sedikit meringankan seorang peneliti, karena sikap Wiranto yang berkeyakinan mengenai apa yang diucapkannya, meski kita sebagai peneliti harus menceknya kembali. Tetapi bagaimana pun pekerjaan sebagai peneliti sudah terkurangi. Sejauh ini memang banyak di antara kita mencari data ke perpustakaan-perpustakaan di luar negeri. Hendaknya dengan munculnya perwira-perwira yang mau mengungkap data-data sejarah militer yang selama ini tabu diungkap memberi pencerahan kepada peneliti-peneliti Indonesia. Memang sebaiknya mengenai sejarah militer Indonesia lebih baik ditemukan sendiri oleh peneliti bangsanya sendiri. Tidak harus percaya dengan peneliti asing atau mencari jauh-jauh datanya hingga ke manca negara.Suatu ketika data militer Indonesia bisa saja diketahui masyarakat bangsa kita sendiri. Misalnya seperti peristiwa peralihan kekuasaan dari Soekarno ke Soeharto. Tidak ada satu pun data dari militer Indonesia yang menyatakan itu sebagai kudeta, karena peristiwa-peristiwa pada waktu itu dianggap sangat rahasia. Juga tidak ditemukannya Supersemar yang asli tetap menjadi pekerjaan rumah buat seorang peneliti untuk mengulas bagaimana sebenarnya sejarah perjalanan bangsa kita ini sejak 1945.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar