18 Desember 2013

SUARA ANAK SANG PENYAIR


Sitok Srengenge (nama lahir Sitok Sudarto), seorang budayawan Indonesia yang mendalami seni teater serta telah menghasilkan banyak karya tulis itu kini sedang kena musibah.

Anak kelahiran Desa Dorolegi, Godong,... Grobogan, Jawa Tengah, 22 Agustus 1965 tersebut telah dilaporkan seorang mahasiswi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya-UI, RW (22) pada bulan November 2013 ke Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya. Ia hamil. Sitok dianggap tidak mau bertanggung jawab. Itu data sementara.Namun, keluarga Sitok sendiri menyangkal tuduhan perkosaan, melainkan mereka melakukannya atas dasar suka sama suka.

Siapa yang benar, nampaknya harus menunggu waktu. Memang sulit kalau kita bicara hubungan antara seorang laki-laki dan perempuan. Makanya saya lebih suka mengutip suara anak perempuan Sitok di web pribadinya.Bacalah pernyataannya:

“Surat Terbuka

By laire siwi mentari

Menanggapi kabar buruk yang sedang terjadi saat ini, saya berusaha untuk berbesar hati. Ini berat sekali. Rasanya hancur melihat reaksi beberapa teman saya sendiri nyinyir menanggapi masalah ini. Padahal tidak semua berita yang mereka baca di media itu benar. Banyak yang diplintir dan dibesar-besarkan.

Tuduhan bahwa ayah saya, Sitok Srengenge, memperkosa dan menghindar dari tanggung jawab itu tidak benar. Bahwa ayah saya berhubungan dengan RW memang benar, tapi sama sekali tak ada unsur paksaan. Berkali-kali ayah saya berniat untuk bertemu keluarga RW dan mempertanggunjawabkan perbuatannya. Tapi usahanya itu tidak ditanggapi oleh pendamping RW. Seolah-olah akses justru ditutup.

Selama beberapa bulan ini justru ayah saya menunggu kabar dari mediator tersebut. Sampai akhirnya kemarin berita beredar. Ayah saya dilaporkan ke polisi dengan tuduhan pemerkosaan dan tidak ada tanggung jawab.

Saya sangat kecewa kepada ayah saya. Tapi saya tidak akan membiarkan ayah saya menjadi seorang yang jahat. Saya akan dukung dia untuk terus berusaha bertanggung jawab kepada RW dan keluarganya. Dan sebisa mungkin saya akan selalu mendampingi ayah saya. Biar bagaimana pun, saya tetap bagian dari hidup ayah saya dan tak ada siapa pun yang ia miliki kecuali saya dan ibu saya.

Sekali lagi, ini tidak mudah untuk saya dan keluarga. Semua orang berhak kecewa bahkan marah kepada ayah saya. Bahkan saya, sebagai anak, berhak seribu kali lipat lebih marah dari siapa pun. Tapi kemarahan saya tidak akan mengubah kondisi menjadi lebih baik. Setelah marah, lalu apa?

Perlu disadari bahwa ada anak berumur 22 tahun sedang depresi menghadapi hidup. Ada janin yang sebentar lagi lahir. Dan ini juga pada akhirnya harus menjadi tanggung jawab saya untuk menguatkan RW dan calon adik saya.

Saya mohon doa dari seluruh teman yang sebesar-besarnya supaya saya dan ibu saya kuat menghadapi ini. RW dan janinnya juga senantiasa diberi kesehatan. Semoga semua ini cepat selesai dan tak ada kepentingan-kepentingan pihak tertentu yang memainkan masalah ini hingga bertambah rumit. Dan, jika berkenan, mohon untuk tidak menggunakan kata-kata kasar untuk menanggapi masalah ini. Tidak untuk membela siapa pun, tapi setidaknya untuk menjaga perasaan kedua keluarga.

Terima kasih sebesar-besarnya kepada para sahabat dan keluarga. Baik buruknya perlakuan kalian kepada kami, justru semakin menguatkan cinta keluarga kami.
Salam hangat

Laire Siwi Mentari”

FOTO: Rimanews.com
Lihat Selengkapnya

14 Desember 2013

CINTA TULUS SEORANG INGGIT !!!


Foto ini menggambarkan pertemuan ketika Bung Karno telah menjadi Presiden RI dengan mantan isterinya Inggit. Mengharukan, sekaligus membanggakan. Hingga akhir hayatnya, Inggit tetap memuja mantan suaminya itu. Cinta sejati dan penuh keikhlasan. Suatu ketika ia ditanya tentang hal-hal bersifat pribadi tentang seorang Soekarno, Inggit selalu melindungi. "Ah...itu pamali untuk dibicarakan," ujarnya. Soekarno menggambarkan sosok Inggit dalam buku Penyambung Lidah Rakyat Indonesia oleh Cindy Adams:" Inggit dan aku kawin di tahun 1923. Keluargaku tak pernah menyuarakan satu perkataan mencela ketika aku berpindah dari istriku yang masih gadis kepada istri lain yang selusin tahun lebih tua dari padaku...Inggit yang bermata besar dan memakai gelang di tangan itu tidak mempunyai masa lampau yang gemilang. Dia sama sekali tidak terpelajar, akan tetapi intelektualisme bagiku tidaklah penting dalam diri seorang perempuan. Yang kuhargai adalah kemanusiaannya. Perempuan itu sangat mencintaiku. Dia tidak memberikan pendapat-pendapat. Dia hanya memandang dan menungguku, dia mendorong dan memuja. Dia memberikan kepadaku segala sesuatu yang tidak bisa diberikan oleh ibuku. Dia memberiku kecintaan, kehangatan, tidak mementingkan diri sendiri."

09 Desember 2013

FOTO-FOTO KIRIMAN




FOTO-FOTO KIRIMAN ZUSNELI ZUBIR DAN FARIDA R.WARGADALEM DI ACARA SEMINAR NASIONAL "MAKNA KEMERDEKAAN: DULU, KINI DAN YANG AKAN DATANG" YANG DISELENGGARAKAN MUSEUM PERUMUSAN NASKAH PROKLAMASI DI MUSEUM NASIONAL, JAKARTA, 3 DESEMBER 2013. SESI KE-2, PEMBICARA: SLAMET RAHARDJO DJAROT DAN ARSWENDO ATMOWILOTO. MODERATOR: DASMAN DJAMALUDDIN,SH,M.HUM

08 Desember 2013

PATUNG PELUKIS ITU RESMI BERDIRI. AKHIR HIDUPNYA TRAGIS, MERENGGANG NYAWA DI TANGAN PENCURI


Jika kita mengunjungi Museum Pelukis Terkenal Basoeki Abdullah, di dekat Rumah Sakit Umum Fatmawati, Jl.Keuangan Raya No.19, Cilandak Barat, Jakarta Selatan, ada yang sedikit berubah.

Di depan Museum itu yang adalah juga rumah pribadi Basoeki yang dihibahkan kepada pemerintah, berdiri sebuah patung dirinya.Hari ini Sabtu, 7 Desember 2013, Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI Kacung Marijan meresmikan pendirian patung tersebut.

Basoeki Abdullah, adalah maestro pelukis Indonesia.Lahir di Solo, Jawa Tengah pada tanggal 27 Januari 1915.Meninggal pada 5 November 1993.

Meninggalnya tidak wajar. Ia dibunuh pencuri. Menurut informasi, tersangka pelaku adalah pembunuh tunggal dan ternyata pemuda yang tak punya pekerjaan tetap, yaitu Amd alias Nd (20) yang sudah enam kali melakukan pencurian di wilayah Jaksel.

Penangkapan yang berselang empat hari setelah Basoeki Abdullah meninggal itu dilaporkan kepada Kapolda Metro Jaya waktu itu (Mayjen (Pol) Hindarto) pagi harinya.Juga diteruskan kepada Presiden Soeharto pada pagi hari itu juga.

Tersangka pelaku pembunuhan dalam aksinya berkomplot dengan Why alias Waud (37), tukang kebun yang sudah bekerja sekitar 2 tahun di rumah korban merupakan otak pelaku kejahatan.

Sedangkan lainnya adalah Abd bin Skt (29) penadah barang-barang hasil kejahatan.

Ketiganya waktu itu ditahan di Polres Jaksel. Memang tidak secara khusus Kapolda Hindarto melaporkan perkembangan kasus pembunuhan itu kepada Presiden. Laporan itu terjadi ketika Presiden Soeharto memanggil Kapolda, yang sedang berada dalam antrian untuk memberikan ucapan selamat kepada para ahli waris penerima gelar pahlawan di Istana Merdeka.

Presiden ketika itu didampingi Ny Tien Soeharto. Saat Presiden dan Ny Tien Soeharto mendengar laporan Hindarto, Wapres dan Ny Try Sutrisno bergabung untuk mendengarkan laporan itu. Usai laporan, Presiden Soeharto kemudian tampak mengatakan sesuatu sebelum menyalami Hindarto. Kapolda juga kemudian disalami Ny Tien, Wapres dan Ny Try Sutrisno sebelum kembali masuk ke antrian.

Amd ditangkap langsung oleh Kapolres Metro Jakarta Selatan, Letkol (Pol) Drs Adang Rismanto dalam suatu penyergapan di daerah Cicurug, Sukabumi, Jawa Barat.

Kasus pembunuhan Basoeki Abdullah yang terungkap hanya dalam waktu empat hari, merupakan prestasi besar bagi jajaran Polda Metro Jaya.(Foto:Dasman Djamaluddin)

06 Desember 2013

MENJEMBATANI PEMIKIRAN ARSWENDO DAN SLAMET RAHARDJO (2)


SLAMET RAHARDJO: “KITA HARUS MERDEKA DARI KETIDAKTAHUAN DIRI SENDIRI”

Slamet Rahardjo Djarot, siapa yang tak kenal beliau. Dikenal sebagai Aktor Senior Indonesia. Kakak kandung penata musik dan politikus Indonesia, Eros Djarot. Slamet Rahardjo yang sering pula dipanggil dengan nama kecilnya memet ini, lahir di Serang, Banten, 21 Januari 1949.

Banyak film yang sudah dibintangi dan disutradarainya, antara lain “Badai Pasti Berlalu,”Tjut Nya Din,”Marsinah,”Laskar Pelangi,”Ketika Cinta Bertasbih,”Alangkah Lucunya Negeri ini.” Saya menekankan kata:”Alangkah Lucunya Negeri Ini,” karena memang bangsa kita sekarang sedang dilanda kegundahan. Korupsi di mana-mana. Ketidakjujuran sedang bersahut-sahutan untuk menampilkan tokoh-tokoh yang nota bene hanya tampil memakai topeng. Tidak asli wujudnya dan bahkan tidak mengenal siapa dirinya.

Inilah yang ditekankan Slamet Rahardjo di hadapan peserta Seminar Nasional:”Makna Kemerdekaan: Dulu, Kini, dan yang Akan datang,” yang diselenggarakan Museum Perumusan Naskah Proklamasi di Museum Nasional, Jakarta, Selasa, 3 Desember 2013.”Kita harus merdeka dari kebodohan dan merdeka dari ketidaktahuan diri kita sendiri,” ujar Slamet Rahardjo.

Sebagai seorang moderator, memang saya tidak terlalu sulit mengkaitkan pemikiran pembicara kedua di sesi kedua, Slamet Rahardjo Djarot dengan Arswendo Atmowiloto yang sudah menjadi pembicara pertama. Sama-sama menginginkan perbaikan bangsa ini ke depan. Mengisi kemerdekaan dengan hasil-hasil karya nyata.

“Saya anak tentara,” ujar Slamet Rahardjo memulai pembicaraannya. “Di lingkungan militer,” tegasnya. “Saya sejak awal sudah mengenal keterbatasan diri saya. Untuk itulah saya mengenal siapa saya. Dengan mengenal diri kita sendiri, bisa memacu seseorang untuk berbuat lebih baik, lebih baik dan lebih baik lagi."

"Kita muncul dengan kekuatan diri kita sendiri (dari dalam) dan bukan berdasarkan pengaruh luar,” tegas Slamet Rahardjo.

Di dalam makalahnya berjudul: “Film Kemerdekaan Versus Kemerdekaan Berkarya,” Slamet Rahardjo sangat perihatin dengan dunia perfilman sekarang ini. “Tanpa roh,” tegasnya dengan menyebut berbagai contoh film di mana jalan cerita film itu tidak sesuai dengan budaya bangsa.

”Pembuat film menyerah dan tidak bisa berbuat apa-apa karena posisinya sebagai pribadi yang dibayar sehingga tidak memiliki posisi tawar yang kuat. Kemerdekaan berkarya hancur lebur. Kekuatan kapitalis telah menghancurkan cita penciptaan. Kreativitas dikebiri sejak awal persiapan penciptaan sebuah karya film,” demikian Slamet Rahardjo mengutarakannya dengan tenang, tetapi penuh semangat.

“Oleh karena itu,” demikian Slamet Rahardjo, “Dukungan pemerintah sangat diperlukan mengingat banyaknya kenyataan kualitas film menjadi rusak karena menampilkan produk-produk sponsor yang dipaksakan, sehingga merusak nilai artistik, teknik dan yang terpenting menyalahi fakta sejarah.”

Sejauh ini, kembali Slamet Rahardjo menegaskan, pembahasan tentang perfilman nasional, UU Perfilman yang berlaku, kurang menampilkan tugas dan tanggung-jawab pemerintah, padahal jelas-jelas termaktub di dalamnya bahwa film adalah produk budaya.

“Jika negara Adikuasa menggunakan film sebagai media penakluk dunia, maka jika hari ini kita bicara soal Film Kemerdekaan yang bernafaskan perjuangan, maka sejak sekarang kita harus mulai lagi memaknai arti Merdeka, Kemerdekaan dan Memerdekakan," tambah Slamet Rahardjo.

“Pemerintah masih terbelenggu oleh rasa ewuh-pakewuh. Secara perundang-undangan, jelas perfilman di bawah Kementerian yang bertanggung-jawab pada masalah kebudayaan. Tetapi kegiatan perfilman saat ini berada di dua Kementerian, yaitu Kemendikbud dan Kemenparekraf. Pembagian kapling tugas dan tanggung jawab antar mereka dilakukan berdasarkan MoU dan kekuatannya tidak mungkin mentorpedir UU,” kembali Slamet Rahardjo menggarisbawahi.

“Kenyataan ini jelas merupakan gambaran bahwa kita belum Merdeka dari ketidaktahuan kita tentang film sebagai produk budaya,” ujar Slamet Rahardjo.”

“Lalu kemerdekaan apa yang kita miliki ketika politik kebudayaan kita lebih merapat pada semangat konsumtif dan bukan kreatif? Kebijakan impor di berbagai produk kebutuhan hidup merupakan bukti ketergantungan pada bangsa lain. Lalu bagaimana pula kita bisa melangkah pada upaya memerdekakan ketika kita masih erat terbelenggu dan kebijakan negara masih dikendalikan negara tertentu?.” (FOTO:Zusneli Zubir)

04 Desember 2013

MENJEMBATANI PEMIKIRAN ARSWENDO DAN SLAMET RAHARDJO (I)


SANG NOVELIS ARSWENDO ITU ADALAH JUGA SEJARAWAN 

Kehadiran dua orang budayawan, Arswendo Atmowiloto dan Slamet Rahardjo Djarot di berbagai pertemuan atau seminar-seminar sudah tentu menarik perhatian peserta. Demikian pula ketika berlangsung acara Seminar Nasional “Makna Kemerdekaan: Dulu, Kini, dan yang Akan Datang,” yang diselenggarakan Museum Perumusan Naskah Proklamasi di Museum Nasional Jakarta, Selasa, 3 Desember 2013.

Sebagai seorang moderator di sesi-kedua, sudah tentu saya sangat menghargai kehadiran dua budayawan tersebut. Minimal bisa mencerahkan pemikiran-pemikiran mengenai makna kemerdekaan itu sendiri terutama mengenai hasil-hasil karya mereka yang kalau boleh saya katakan melampaui batas-batas kemampuan rata-rata putera bangsa.

“Inilah sebetulnya makna kemerdekaan buat anak bangsa, karena mereka tidak berteori tapi berkarya,” ujar saya mengawali pembicaraan sebagai moderator. Juga sebagaimana diharapkan para pembicara di-sesi pertama, bahwa hendaknya untuk memaknai sebuah kemerdekaan kita harus jujur, dan konsekuen, maka dengan profesi kedua nara sumber ini membuktikan hal itu.

Sebagai pembicara pertama, Arswendo Atmowiloto megulas makalahnya dengan judul:”Nasionalisme Nasi Goreng.” Sekilas terasa aneh didengar, tetapi setelah diulas barulah kita bisa memahami bahwa Nasi Goreng itu menunjukan ciri khas masakan asli Indonesia. Arswendo ingin menggarisbawahi bahwa jati diri kita sebagai bangsa sudah pudar.

“Sayangnya nasi goreng tidak dikenali dalam bahasa komputer, sehingga setiap kali menuliskan goreng, otomatis berganti dengan goring. Seakan kata nasi goreng adalah salah dan perlu dikoreksi. Tetapi meskipun demikian, lanjut Arswendo, nasib nasi goreng tidak seburuk durian, terasi, kretek atau jamu kuat.

“Di negerinya sendiri durian tak leluasa disajikan di hotel, atau bahkan dalam kamar, atau sebagai tentengan ketika naik pesawat terbang. Terasi dianggap kotor, diganti bumbu masak plastikan.Kretek, juga rokok dianggap jelek, jorok dan berbahaya, sementara jamu kuat dianggap illegal,” ujar Arswendo.

Memakai bahasa sehari-hari yang mudah dicerna dan dipahami, Arswendo ingin mengungkapkan, kenapa bangsa ini tidak mencintai produksi dalam negeri? Inilah tragedi nasionalisme, tegas Arswendo.

“Bagaimana bisa hanya untuk menentukan kecantikan seorang gadis, harus diukur dan dibandingkan antara lingkar dada, pinggang dan pantat,” kembali Arswendo mengingatkan, seharusnya untuk menentukan seorang gadis cantik bukan dari ukuran itu.

Jadi Arswendo ingin menegaskan, ketergantungan kita kepada budaya asing dalam menilai sesuatu, sementara budaya asli bangsa ditinggalkan. Sebetulnya dari pemikiran Arswendo, dengan mencontohkan Nasionalisme Nasi Goreng, sudah tepat bahwa bangsa ini mencintai budayanya sendiri.

“Wujud budaya tidak lahir untuk meniadakan wujud yang lain, juga tidak memusuhi. Nasi goreng lahir tidak untuk meniadakan atau memusuhi nasi liwet, nasi uduk, atau rendang atau gudeg, atau apa pun. Kita boleh menikmati nasi goreng tanpa merasa bersalah, atau disalahkan,” jelas Arswendo menyimpulkan.

Kehadiran Arswendo memacu generasi muda, atau guru-guru sejarah, mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi,yang hadir di acara seminar itu agar lebih berkreatifitas untuk memaknai kemerdekaan. Arswendo tidak berteori, tetapi dia adalah novelis produktif. Arswendo itu nama aslinya Sarwendo, tetapi karena tidak populer diubahnya dengan Arswendo dan di belakang namanya ditambah nama ayah, Atmowiloto, sehingga terwujudlah namanya sebagaimana sekarang Arswendo Atmowiloto. Lahir di Surakarta, 26 November 1948.

Berbicara mengenai karya, mungkin sudah tidak bisa dihitung, baik berupa tulisan bersambung dan novel. Menurut saya kalau kita tinjau dari novel-novel yang ditulisnya, Arswendo boleh dianggap sebagai sejarawan. Novelnya yang lahir berisi jiwa-jiwa kepahlawan atau sejarah di antaranya, “Serangan Fajar,” “Air Langga,” Senopati Pamungkas,”dan “Penghianatan G.30.S/PKI.”

"Sebagaimana ungkap Dr.Kuntowijoyo, Sejarawan UGM, sebuah biografi adalah sejarah, maka saya juga boleh mengatakan bahwa Arswendo layak juga diakui sebagai sejarawan. Apalagi beliau selalu menulis, karena bagaimana pun kunci dari sejarawan itu menulis. Jika tidak menulis lagi, maka kesejarawanannya diragukan,” ujar saya sebagai moderator di awal pembukaan seminar.

26 November 2013

ULANG TAHUN KE-10 MITRA STRATEGIS ASEAN-CHINA

Menghadiri Resepsi Ulang Tahun ke-10 Mitra Strategis ASEAN-China, Senin, 25 November 2013,JW Marriott Hotel, Mega Kuningan,Jakarta.

21 November 2013

KENAPA HARUS SALING MENYALAHKAN ?

Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie atau yang biasa disapa Ical atau ARB akan melunasi sisa pembelian tanah warga Sidoarjo korban lumpur Lapindo yang masih tersisa sebanyak Rp 300 miliar. Pelunasan akan dilakukan sebelum Pemilihan Presiden 2014 digelar.”Itu bukan ganti rugi tetapi jual beli,” kata Wakil Sekretaris Jenderal Partai Golkar Tantowi Yahya. Tantowi menyebut itu bukan ganti rugi melainkan pembelian tanah oleh Ical dari korban Lapindo. Dan, lanjut dia, tanah itu sudah dihargai 20 kali lipat dari harga aslinya.Bahkan dikatakan Tantowi, bahwa ketua umumnya itu tidak lari dari masalah. Justru yang lari dari masalah adalah para pemilik PT Lapindo Inc yang lain. Lantaran, menurut Tantowi hanya, Ical yang mengganti kerugian warga Sidoarjo. Pernyataan ini keluar, pada 20 November 2013 menjelang Rapimnas Partai Golkar, 22-23 November 2013. Kenapa harus saling menyalahkan dan satu lebih merasa berjasa dari yang lain? Pertanyaan selanjutnya bukankah warga Sidoarjo harus memperoleh haknya dan tidak ada kaitannya jika Ical Calon Presiden RI atau bukan? Mengapa harus sebelum Pilres? Seandainya sebelum Pilpres janjinya tidak terbukti? Paling penting memang tanahnya dihargai 20 kali lipat? Mungkin 2 kali lipat.

14 November 2013

KETIKA KARYA BESAR SASTRAWAN MINANG ITU DIFILMKAN

Siapa pun pasti bangga mendengar Novel "Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck" salah satu novel karya Sastrawan Minangkabau Alm. Prof Dr Haji Abdullah Karim atau yang lebih populer dengan singkatan Hamka itu difilmkan.

Pada bulan Desember 2013, seluruh masyarakat Indonesia, kalau sesuai rencana, akan menyaksikannya di berbagai bioskop tanah air. Film ini diproduksi oleh Soraya Intercine Films. Sudah tentu seluruh peristiwa berdasarkan novel lagendaris Buya Hamka di tahun 1939, di mana sudah dicetak sebanyak 80 ribu eksemplar, bahkan lebih.

Yang jelas pemain film adalah putera bangsa Indonesia. Tetapi memang perlu memperoleh beberapa catatan. Pertama, apakah roh atau pesan-pesan yang disampaikan di dalam Novel seorang alim ulama Buya Hamka bisa terwakili? Kedua, peran yang dimainkan sesuaikah dengan budaya asli bangsa Indonesia dalam hal ini Minangkabau?

Bagaimana pun sebuah pesan yang disampaikan merupakan kunci utama dari sebuah Novel Buya Hamka. Keberhasilan penulisnya. Sama halnya dengan Novel Pramudya Ananta Toer yang kalah dalam pemilihan Nobel Sastra. Salah satu faktor kekalahannya, roh atau jiwa yang disampaikan dalam bahasa Indonesia tidak terwakili dalam terjemahan bahasa Inggrisnya. Menurut saya, roh dan jiwa itu jika di adaptasi ke film akan memiliki nilai yang sama.

Buya Hamka itu asli berasal dari Minangkabau. Ini yang perlu digarisbawahi. Berasal dari keluarga Muslim yang taat. Lahir di Sungai Batang, Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, 17 Februari 1908 dan meninggal di Jakarta, 24 Juli 1981 di usia 73 tahun. Beliau adalah sastrawan Indonesia, sekaligus ulama, ahli filsafat dan aktivis politik. Jangan hendaknya dengan munculnya film tersebut, membuat protes di kalangan berbagai pihak. Kita menginginkan dengan munculnya film ini menambah bobot dari ulama, sastrawan Indonesia itu. Jangan sebaliknya.

Cukup sudah beberapa fitnah yang dialamatkan kepadanya. Lebih menyakitkan novelnya “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck” ini pernah dituduh hasil plagiat dari novel "Magdalena" yang merupakan saduran penyair Mustafa Luthfi Al-Manfaluthi (1876-1942) dari roman yang ditulis pengarang Perancis Alphonse Karr, "Sous les Tilleuls". Tetapi sejauh ini tidak ada bukti-bukti bahwa Hamka adalah seorang Plagiator.

02 November 2013

HASIL PRA KONGRES MENGUNDANG TANYA


Hasil Pra Kongres IPPAT Mengundang Tanya di Majalah RENVOI terbaru."Oleh karena jika ada yang mengatakan sukses dan lancar, menurut saya sah sah saja menurut pandangan mereka, tetapi ya formalnya sebuah perhelatan resmi harus dilakukan penutupan secara resmi pula.Hasilnya harus diterima oleh seluruh anggota bukan sebagian anggota.Bukankah sebuah organisasi didirikan untuk kepentingan dan manfaat seluruh anggota bukan sebagian anggota?"

17 Oktober 2013

PETA MAJAPAHIT RAYA

Ini adalah peta Majapahit Raya yang berasal dari sumber sarjana Perancis, selon Bayer tahun 1926.Berbicara Majapahit sebelumnya memang terbatas Jawa Tengah dan Jawa Timur.Jadi tidak salah jika sejarah Majapahit dikaitkan dengan sejarah awal Majapahit yang hanya Jawa Tengah dan Jawa Timur.Tetapi selanjutnya meluas. Ke berbagai negara,Laos, Thailand, Vietnam.Kamboja,Malaysia, Brunei, Filipina dan Timor Leste sekarang.Pada waktu ini melihat Majapahit harus dibagi tiga.Pertama, Negara Agung merupakan daerah sekeliling ibukota kerajaan tempat raja memerintah. Ini yang sering diidentikkan wilayah Majapahit hanya sebatas Jawa Tengah dan Jawa Timur.Tetapi ada pula Negara Manca Negara yang merupakan daerah-daerah di Pulau Jawa dan sekitar di mana budayanya masih mirip dengan Negara Agung. Dalam hal ini Madura,Bali,Lampung, Palembang dianggap daerah Mancanegara. Ketiga, apa yang disebut Nusantara, yaitu daerah di luar pengaruh Jawa tetapi masih taklukan, para penguasanya harus membayar upeti. Kitab Negarakertagama menjelaskan tentang pengaruh Majapahit di Malaysia dan lain-lain sebagaimana di peta. Secara morfologi, Nusantara ini adalah kata majemuk yang diambil dari bahasa Jawa Kuna, nusa (pulau) dan antara (lain/seberang).

10 Oktober 2013

GAGALNYA NOVEL PRAM MERAIH NOBEL KESUSASTRAAN


Minggu pagi, 30 April 2006, Pramoedya Ananta Toer, salah seorang pujangga besar Indonesia, menghela nafas terakhirnya pada pukul 08.55 WIB, di usia 81 tahun dan jenazah disemayamkan di kediamannya Jalan Multikarya II No.26, Utan Kayu Jakarta Timur.

Pram sebutan khasnya sehari-hari, lahir di Kabupaten Blora, Jawa Tengah, 6 Februari 1925. Secara luas dianggap sebagai salah satu pengarang yang produktif dalam sejarah sastra Indonesia . Pram telah menghasilkan lebih dari 50 karya dan diterjemahkan ke dalam lebih dari 41 bahasa asing.

Nama aslinya sebagaimana diungkapkan dalam koleksi cerita pendek semi-otobiografinya yang berjudul “Cerita Dari Blora,” adalah Pramoedya Ananta Mastoer. Karena nama keluarga Mastoer (nama ayahnya) dirasakan terlalu aristokratik, ia menghilangkan awalan Jawa "Mas" dari nama tersebut dan menggunakan "Toer.”

Mengangkat kembali masalah Pram ke permukaan bukan dikarenakan saya adalah alumnus SMA di Kabupaten Blora, tetapi lebih dikaitkan karena seorang penulis dan peneliti yang menetap di Amsterdam, Joss Wibisono di dalam Majalah Tempo edisi 7,13 Oktober 2013 mengungkap kembali kenapa para Sastrawan Asia Tenggara, khususnya Indonesia, di mana Novel Pram berjudul “Tetrologi Buru,” yang dinominasikan meraih Nobel Kesusastraan bisa gagal.

Dalam hal ini Joss Wibisono mengutip Benedict Anderson, Guru Besar Universitas Cornell di New York, Amerika serikat dalam artikelnya “The Unrewarded” (Yang Tak Teranugerahi) di “New Left Review 80, “edisi Maret-April 2013. “Kelemahan panitia Nobel Kesusastraan di Stockholm, Swedia,” ujar Ben Anderson adalah kunci utamanya.”Terabaikannya Asia Tenggara jelas merupakan kelemahan dan sekaligus titik buta panitia Nobel,” tegasnya.

Diakui Ben Anderson, para Sastrawan Asia memang pernah meraihnya, semasa Rabindranath Tagore dari India. Tetapi India pada tahun 1913 itu masih jajahan Inggris. Belum sepenuhnya mewakili India. Permasalahan penterjemahan juga menjadi kendala utama. Terjemahan Novel Pram, “Tetrologi Buru,” ke dalam bahasa Inggris, roh kesusatraannya hilang begitu saja. Boleh dikatakan terjemahannya jelek. Kesimpulannya bangsa Indonesia yang juga merupakan negara jajahan Belanda, tidak bernasib sama dengan negara-negara jajahan lain. Negara Prancis, Inggris dan Spanyol telah melakukan lobi untuk sastrawan negara bekas jajahan mereka.Tetapi Belanda?

Tetapi perkembangan di Indonesia ada yang mengkaitkan bahwa pemerintah Indonesia tidak bersungguh-sungguh mendukung Novel Pram dikarenakan masa lalu Pram yang diduga terlibat Partai Komunis Indonesia sehingga dibuang ke Pulau Buru. Memang Novel “Tetra Buru”, atau “Tetra Pulau Buru,” atau “Tetralogi Bumi Manusia,” adalah nama dari empat Novel karya Pram yang terbit dari tahun 1980 hingga 1988. Novel ini pernah dilarang peredarannya oleh Jaksa Agung Indonesia selama beberapa masa. Menurut saya, sebaiknya ketika Novel Pram dinominasi, pemerintah mendukung hal tersebut. Saya berkesimpulan, banyak faktor yang mempengaruhi mengapa Novel Pram gagal meraih Nobel Kesusatraan, baik dari jeleknya penterjemahan sebagaimana diungkap Ben Anderson, kemauan negara penjajah Belanda melobi Komite Nobel hingga dukungan pemerintah Indonesia sendiri terhadap Novel Pram.(Foto: Sekapursirihh.Wordpress)

18 Agustus 2013

Soekarno-Hatta di Mata Seorang Tokoh Pers

Setiap tanggal 17 Agustus, nama Soekarno-Hatta kembali menggema di seluruh tanah air. Secara serentak nama itu disebut sebut ketika membacakan teks proklamasi. Bangsa ini tidak akan pernah melupaka...n jasa kedua orang proklamator itu selama negara Indonesia ini berdiri.

Tetapi bagaimana pandangan seorang tokoh Pers, Burhanudin Mohammad Diah (B.M.Diah/alm), pendiri Harian Merdeka, yang ikut hadir ketika Soekarno-Hatta merumuskan Naskah Proklamasi di Rumah Maeda malam 17 Agustus 1945?

"Saat yang saya lukiskan tidak lain dari suatu momentum, ketika Bung Karno, Bung Hatta, dengan disaksikan oleh wakil-wakil Bangsa Indonesia dari semua daerah selesai membuat naskah Proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia. Dan dari naskah yang disiapkan atas sepotong kertas tulis dengan tulisan pinsil hitam, lahirlah kembali satu nusa, satu bangsa...

Saya kagum sekali dengan Bung Karno, karena selain muda juga berpengaruh. Pada hakekatnya kemerdekaan Indonesia diperjuangkan oleh kaum mudanya, seperti Soekarno-Hatta, Sjahrir dan lain-lain...

Perjuangan Bung Karno tidak selesai di masa Belanda, tetapi diteruskan di masa Jepang. Beliau terus berjuang sesuai cita-citanya yang menghendaki rakyat merdeka.

Bung Hatta sebagai orang kedua yang mempunyai kharisma menghadapi bangsa Indonesia, memiliki sifat lebih tertutup. Bung Karno bolehlah dianggap sebagai seorang pemukul genderang perang. Bung Hatta berpembawaan yang tenang, mendidik, menjauhi agitasi dan lebih banyak berpikir riil. Ini bukan berarti Bung Karno tidak riil. Bung Hatta lebih berperhitungan, lebih awas, cekatan memakai kata-kata menuding Jepang sebagai penjajah. Rakyat tidak bergolak jika Bung Hatta berpidato. Sebaliknya, mendengar Bung Karno, rakyat tidak saja terpesona, tetapi juga bergetar ramai dan bergantungan pada bibirnya.

Akhirnya sampailah kejayaan Bung Karno sirna. Ia harus meletakkan jabatannya dan terasing sama sekali berhubungan dengan rakyat Indonesia. Ia memberikan kepada mereka kemerdekaan dan di saat-saat kejatuhannya, kemerdekaan dan kebebasan yang diberikannya itu dibalas oleh mereka dengan mengambil kemerdekaannnya sendiri. Ia dikenai tahanan. Ia tidak lenyap di masa penjajahan, tetapi di masa merdeka, ia mengakhiri hidupnya." /Dasman Djamaluddin,"Butir-Butir Padi B.M.Diah," (Jakarta, Pustaka Merdeka,1992), hal.66, 67, 92.

11 Mei 2013

SEBAIKNYA PAPUA JANGAN MERDEKA



Masalah Papua kembali mencuat kepermukaan setelah dibukanya “Kantor Free West Papua” di kota Oxford, Inggris. Bangsa Indonesia terkejut. Pemerintah Indonesia langsung menyampaikan protes keras dan keberatan yang mendalam terhadap perkembangan dimaksud. Atas instruksi Kementerian Luar Negeri, Dubes RI di London telah menyampaikan posisi pemerintah tersebut kepada Pemerintah Inggris”, ujar Menlu RI, R.M. Marty M. Natalegawa, di Jakarta, 4 Mei 2013. Hal yang sama juga dilakukan kepada Kedubes Inggris di Jakarta.

Menurut Kementerian Luar Negeri RI pembukaan kantor tersebut jelas tidak sesuai dan bertolak belakang dengan hubungan bersahabat yang selama ini terjalin di antara kedua negara dan bahkan posisi Pemerintah Inggris sendiri yang selama ini mendukung integritas wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) termasuk di dalamnya Papua dan Papua Barat sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari wilayah NKRI. Selain itu, tindakan tersebut juga bertolak belakang dengan pandangan masyarakat internasional yang secara tegas mendukung NKRI. “Perkembangan dimaksud sebenarnya lebih mencerminkan keputusasaan pihak separatis menghadapi kenyataan dimaksud” tegas Marty.

Sementara itu Pemerintah Inggris, melalui Kedubesnya di Jakarta telah menyampaikan tanggapan terhadap perkembangan dimaksud yang intinya menegaskan kembali sikapnya yang tidak mendukung kemerdekaan Provinsi Papua dan Papua Barat. Selanjutnya Pemerintah Inggris menegaskan pula bahwa Dewan Kota Oxford tidak mempengaruhi kebijakan politik luar negeri Inggris dan memandang bahwa keputusan untuk membuka kantor dimaksud sepenuhnya adalah keputusan Dewan Kota Oxford.

Dalam hal ini Pemerintah Indonesia sekali lagi mendorong agar Pemerintah Inggris senantiasa konsisten dan nyata menunjukkan kebijakannya untuk tidak mendukung tindakan apa pun yang terkait dengan separatisme Papua sesuai dengan hubungan bersahabat Indonesia dan Inggris dan sejalan dengan pandangan masyarakat internasional terkait integritas wilayah NKRI.

Pernyataan Kementerian Luar Negeri RI itu sudah tentu sangat tepat. Jangan ada lagi intervensi asing setelah kita mengalami penjajahan yang begitu lama.Berbagai negara di masa-masa Pemerintahan Soekarno memang ingin memasuki wilayah yang telah kita proklamirkan sejak 17 Agustus 1945, terutama Belanda pada waktu itu yang ingin kembali menjajah Indonesia. Diperkuat dengan Inggris atas nama Sekutu.

Papua yang dulunya bernama Irian Barat memiliki luas 22 persen dari luas daratan Indonesia, tetapi hanya menampung penduduk sebanyak 0.79 persen dari seluruh penduduk Indonesia. Kerenggangan penduduk ini merupakan salah satu kendala dalam pengembangan wilayah.

Saya pernah menulis di Harian Suara Karya, Selasa 13 Juni 2000, berjudul:”Belum Saatnya Berdiri Negara Papua Merdeka.” Intinya memang penduduk asli yang terdiri dari banyak suku di Papua tidak harus merdeka. Sama halnya dengan kepulauan lain di Indonesia seperti Sumatera, Sulawesi, Jawa, NTT dan lain-lainnya yang tergabung dalam NKRI. Jika kita berbicara asal suku sungguh tidak relevan lagi pada saat ini, karena di daerah-daerah lain juga memiliki identitas yang berbeda-beda. Namun tetap satu. Bangsa Indonesia. Yang menjadi masalah sekarang adalah person-personnya. Berintegritaskah dia, memiliki semangat cinta tanah air kah, mempunyai jiwa patriotikkah. Bahkan dikatakan bahwa cinta kepada tanah air merupakan sebagian dari iman.Mempertahankannnya dari intervensi asing merupakan kewajiban dari setiap warga negara.

Papua memang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Indonesia. Salah seorang pengarang asing, Gavriil Kesselbrenner yang di dalam bukunya berjudul:”Irian Barat: Wilayah yang Tak Terpisahkan dari Indonesia,” yang diterbitkan tahun 1961, mengatakan bahwa lama sebelum kedatangan kaum penjajah, antara Indonesia dengan Papua terdapat hubungan-hubungan politik, perdagangan dan kebudayaan.

“Para ahli sejarah dan etnografi Barat, Hille, Finsch, Kriger, Van Erde, Risenfeld dalam karya-karyanya mengutarakan, bahwa Papua (dalam bukunya itu memakai istilah Irian Barat) yang dalam masa lampau sering dikunjungi orang-orang Indonesia, mengalami pengaruh Indonesia yang bermanfaat dalam segala lapangan kebudayaan materiil. Bangunan-bangunan besar dari batu yang masih ada sampai kini di beberapa daerah Papua didirikan oleh orang-orang Indonesia,” ujarnya.

Pada sisi lain dengan adanya masalah ini, Pemerintah Indonesia memang diingatkan agar bersungguh-sungguh mewujudkan kesejahteraan kehidupan rakyat Papua. (Foto: Patung Pembebasan Irian Barat /Sekarang Papu di Lapangan Banteng, Jakarta)

25 Februari 2013

LAUNCHING BUKU "INDONESIA TANPA LIBERALISME MUNGKINKAH?"

LAUNCHING BUKU "INDONESIA TANPA LIBERALISME MUNGKINKAH?" Bertempat di Toko Buku Leksika Kompleks Apartemen Kalibata City, Minggu, 24 Februari 2013 diselenggarakan launching buku berjudul:"Indonesia Tanpa Liberalisme Mungkinkah?". ...

Saya hadir di antara 10 penyumbang tulisan di dalam buku tersebut.Buku setebal 194 halaman yang diterbitkan Komunitas Washaton ini tentu menarik karena Liberalisme itu problematis. Hanya saja, suka atau tidak,ide maupun praktik liberalisme telah menggurita di negeri ini.Kita dipaksa untuk menerimanya saja. Yang demikian tentu bukan sikap yang tepat. Tapi, kita juga dihadapkan pada persoalan pelik, apakah bisa menolak ide-ide liberalisme. Apakah kita juga bisa hidup di negeri ini tanpa liberalisme. Wacana ini, barangkali telah muncul jauh sebelum liberalisme benar-benar menancapkan pengaruhnya secara kuat, namun rasa-rasanya gaungnya belum cukup menggema.

Halaman 137 dan 138 buku ini dalam Bab 8 "Melawan Arus Liberalisme di Indonesia," saya berpendapat: "Secara umum, cita-cita liberalisme itu baik, mencita-citakan suatu masyarakat yang bebas. bebas berpikir bagi setiap individunya. Di sinilah letak perbedaan mendasar dengan paham kebangsaan Indonesia yang berdasarkan nilai gotong royong. Paham liberalisme menolak adanya pembatasan, khususnya dari pemerintah dan agama. Belum lagi dalam praktiknya yang akan kita lihat satu persatu."