HITLER, SOEHARTO DAN SUPERSEMAR

Menyaksikan film Adolf Hitler sangat menarik. Terlihat jelas bagaimana trik trik yang dilakukan untuk merebut kekuasaan. Terlihat di sini bagaimana seorang sahabat dekat bisa menjadi lawan. Bagaimana fitnah-fitnah tentang penghianatan sengaja dibesar-besarkan, sehingga tidak ada lagi lawan politik. Hal ini kita lihat dalam rekaman sejarah dunia di mana pun. Yang penting kekuasaan itu harus direbut dan tidak pernah diberikan.Memang benar bahwa di dalam politik praktis berlaku juga adagium tidak ada kawan atau lawan, tetapi yang penting tujuan.

Masalah keadilan, kesejahteraan dan kebenaran itu hanya dimiliki tokoh-tokoh agama, tokoh-tokoh intelektual yang tidak berkhianat terhadap keprofesiannya. Bagi tokoh-tokoh politik hal itu jarang berlaku. Dogma-dogma yang disuarakan memang benar, sebagaimana di teriakan Hitler berkali-kali seperti perdamaian dsbnya. Tetapi apa yang dilakukan Hitler? Tidaklah sebagaimana yang dijanjikan atau diteriakkannya berkali-kali. Tidak hanya itu di Irak misalnya, apa yang membenarkan negara-negara besar seperti Amerika Serikat mengintervensi negara Dunia Ketiga yang kekuatannya tidak sebanding. Berapa ratus, atau juta rakyat yang menjadi korban. Bukanlah masalah yang terjadi sengaja dikacaukan sendiri oleh pihak luar, bukannya dari dalam. Lihatlah nasib Suriah dalam waktu dekat ini, pun nampaknya akan mengalami seperti Irak. Hitler juga melakukan demikian. Dalam negeri Jerman diacak-acak sendiri oleh Hitler agar kewibawaan pemerintahan yang sedang berjalan tidak lagi dihormati di mata rakyatnya. Pembakaran, pembunuhan memang diciptakan dan yang menyelesaikannya pasukan Hitler sendiri. Rakyat berteriak, Hitler penyelamat, Akhirnya Hitler tampil sebagai Kaisar dan kemudian?

Contoh-contoh seperti ini pula saya lihat di Indonesia, meski tidak sama dengan Hitler di Jerman. Di dalam politik praktis itu merupakan hal wajar. Oleh karena itu banyak yang berbicara, mantan Presiden Soeharto melakukan kudeta, itu pun biasa.Hampir semua penguasa tidak ingin ingin ditandingi dalam berbagai hal. Ketika saya bertemu dengan mantan Laksamana Soedomo saya memahami betul perjalanan politik Indonesia di masa Presiden Soeharto.Jadi kesimpulan saya tentang hal-hal kekuasaan Soeharto, termasuk raibnya Surat Asli Surat Perintah 11 Maret (Supersemar), ya hal itu menjadi biasa. Hanya kekeliruan kita, ketika hal itu terjadi ideologi kita Pancasila masih mencari-cari bentuk. Jadi Pancasila disesuaikan dengan keinginan penguasa.Tetapi sebagai seorang ilmuwan dan para tokoh agama apa pun, Islam, Kristen, dan Budha, kita jangan berhenti berjuang menyuarakan kebenaran, keadilan dan kesejahteraan untuk rakyat.Minimal kita berdoa, agar bagaimana Sang Pencipta tidak marah.

FOTO REUTER

IRAN TAMPIL KE MUKA SELAMATKAN TIMUR TENGAH

IRAN TAMPIL KE MUKA SELAMATKAN TIMUR TENGAH

Setelah Irak, sekarang Iran tampil ke depan untuk menyelamatkan negara-negara di Timur Tengah agar Amerika Serikat dan sekutunya menghentikan apa yang dinamakan "kolonialisme" di kawasan itu. Iran dilaporkan sukses menguji coba tiga misil yang disebutkan Teheran adalah rudal jarak jauh. Dua misil dapat terbang sejauh maksimum 200 kilometer, biasanya di...sebut senjata jarak dekat. Lainnya, sebuah misil anti-kapal perang, Nasr, jaraknya malah lebih pendek, yakni 35 kilometer saja.
Selain itu petinggi militer Iran memperingatkan kapal induk Amerika Serikat tidak kembali memasuki Teluk Persia. Kepala Staf Angkatan Darat Jendral Ataollah Salehi menegaskan "ancaman" itu saat berpidato menutup latihan perang laut Iran selama 10 hari. Latihan di dekat Selat Hormuz adalah unjuk kekuatan terbaru negeri itu menghadapi tekanan internasional atas program nuklirnya.

"Kami rekomendasikan… kepada kapal perang Amerika melintasi Selat Hormuz dan berlalu ke Teluk Oman, tidak kembali ke Teluk Persia," ujar Salehi.

Selat Hormuz adalah selat yang memisahkan Iran dengan Uni Emirat Arab. Selat ini terletak di antara Teluk Oman dan Teluk Persia.

Pada titik tersempit, lebar Selat Hormuz hanya mencapai 54 km. Selat ini merupakan satu-satunya jalur untuk mengirim minyak keluar Teluk Persia. Setiap hari 15 kapal tanker yang membawa 16.5 hingga 17 juta barel minyak bumi melewati selat ini.

"Perang Minyak", merupakan sasaran utama perang di abad ini. Hal ini sangat kelihatan ketika Amerika Serikat menuduh Presiden Irak Saddam Hussein waktu itu menyimpan senjata nuklir, ternyata hingga hari ini tidak terbukti. Pada waktu ini Amerika Serikat masih menduga-duga, tetapi sekarang Iran secara terbuka menyatakan kepada dunia bahwa mereka berhasil memproduksi senjata nuklir. Ini dibuktikannya ,Selasa 3 Januari 2011 , ketika mengakhiri latihan perangnya yang diwarnai uji coba tembakan tiga misil yang dirancang untuk menghantam kapal perang.

Amerika Serikat dan sekutunya pasti menerapkan pola lama sebagaimana Irak. Tanda-tanda ini sudah terlihat dari keinginan Perancis dan Amerika Serikat dan negara-negara Eropa lainnya untuk membicarakan menjatuhkan embargo ekspor minyak Iran, membekukan aset-aset bank sentral Iran, menjelang sidang para menteri luar negeri Uni Eropa yang dijadwalkan 30 Januari mendatang. Menurut saya embargo tidak mungkin berhasil memaksa Iran merubah sikapnya sbagaimana Irak sebelumnya. Satu-satunya jalan adalah Amerika Serikat memahami, kenapa negara lain dilarang memiliki nuklir sementara mereka sendiri dan sekutu dekatnya Israel boleh memproduksi senjata nuklir.

INDONESIA TIDAK KIRIM DUBES UNTUK IRAK?

Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) baru saja melantik 26 Duta Besar Baru RI untuk berbagai negara sahabat. Saya terkejut karena di antara nama-nama ke-26 itu tidak terdapat Duta Besar RI untuk Irak. Berkali-kali saya baca, takut salah membaca, tetap tidak ada nama Dubes RI untuk Irak. Adu dua alasan mengapa hal ini saya tanyakan:

Pertama, Pemerintah RI sejak 2008 melalui Direktur Timur Tengah Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI telah membuat Nota Diplomatik tanggal 19 Desember 2008 meminta informasi seputar perkembangan jumlah kantor perwakilan asing di Baghdad. Informasi yang diterima sangat menggembirakan karena banyak kantor perwakilan asing sudah berada kembali di Irak. Selanjutnya diadakan pertemuan-pertemuan, dan sepakati ada Calon Dubes RI untuk Irak.

Kedua, adalah sangat kebetulan saya mengenal calon Dubes tersebut, yang tidak lain adalah Letnan Jenderal TNI (Mar/Purn) Safzen Noerdin, S.IP.Beliau sekarang adalah Asistensi Bidang Pengawasan Internal Kementerian Pertahanan dan pernah menjadi Komandan Korps Marinir tahun 2005. Jadi kalau kita lihat sejarah panjang penjajakan membuka Kantor Perwakilan RI di Irak sudah terjadi sejak 2008. Calon Dubes pun sudah ditentukan dan sudah pula diseleksi oleh anggota DPR. Saya tidak melihat person Safzen Noerdin yang menurut saya semula sudah tepat seorang angkatan di tempatkan di negara yang sedang bergolak. Kalaulah seandainya bukan Safzen Noerdin, seharusnya sudah ada calon Dubes RI lain untuk Irak yang dilantik Presiden SBY. Di pihak lain sesuai dengan apa yang telah disampaikan Menlu RI pada acara Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi I DPR tanggal 21 Januari 2011, untuk mereaktivasi kembali KBRI di Bahdad telah memperoleh PERSETUJUAN dari Presiden RI. Pertanyaannya ada apa?

Bangsa ini sangat membutuhkan hubungan dengan Irak. Apalagi sebuah negara yang pertama kali mengakui kemerdekaan Indonesia.Juga di sisi ekonomi, Irak memiliki cadangan minyak hingga 143,1 miliar barel atau merupakan penghasil minyak terbesar kedua di dunia. Seharusnya Indonesia melihat peluang itu. Jika persoalan sengketa sektarian yang berlangsung setelah pasukan AS ditarik dari Irak, bagi Indonesia saya yakin tidak masalah, karena bukankah hanya Indonesia yang bisa mendamaikan kelompok syiah dan sunni, di Indonesia dalam kerukunan beragama sehingga disegani oleh kedua kelompok tersebut. Boleh jadi Indonesia bisa menjembati kedua kepentingan itu di Irak.Lebih-lebih kalau yang ditempatkan di sana seorang mantan militer.

Saya hanya masih mempertanyakan kebijakan luar negeri Indonesia terhadap Irak. Fakta mengatakan ketika Perang Teluk II berlangsung antara Amerika Serikat dan sekutunya dengan Irak, pada hari Senin,25 Februari 1991, Menteri Luar Negeri RI, Ali Alatas dengan lantang dan berani mengingatkan Amerika Serikat dan sekutunya agar jangan mencoba invasi atau menggulingkan Pemerintahan Irak."Tujuan utama resolusi Dewan Keamanan PBB adalah penarikan pasukan Irak dari Kuwait dan mengembalikan Pemerintahn Kuwait yang sah. Tetapi karena tujuan perang ini menghendaki Kuwait tidak hancur, maka jangan buat Irak hancur. Bukan kehancuran Irak yang dikehendaki, bukan pula penyerahan Irak, tetapi pengusiran Irak. Penghancuran Pemerintah Irak tidak termasuk dalam Resolusi PBB," kata Ali Alatas.

Beberapa bulan kalimat-kalimat itu ditelan bumi. Tidak ada lagi protes-protes keras dari bumi Indonesia.Indonesia menyesuaikan keadaan, kebijakan luar negeri Indonesia berubah.

HABIBIE DAN JALAN DI TEMPAT

Saya mencoba mengamati pernyataan mantan Presiden Republik Indonesia Bacharuddin Jusuf Habibie (75) dalam Kuliah Kenangan Sutan Takdir Alisjahbana di Taman Ismail Marzuki Jakarta, Rabu (14 Desember 2011) malam, mengambil judul, "Quo Vadis Indonesia? (Mau Kemana Indonesia)
Kita kaya tapi miskin kaya sumber daya alam, miskin penghasilan. Kita besar tapi kerdil besar wilayah dan penduduk, kerdil produktivitas dan daya saingnya. Merdeka tapi terjajah merdeka secara politik, terjajah secara ekonomi.
Habibie menguraikan kekinian tentang masyarakat yang menjadi konsumen produksi masyarakat negara lain. Habibie mempertanyakan, bagaimana masyarakat dapat berkembang dan menjadi unggul jika karya dan produksinya tidak dibina sedini mungkin? Bagaimana masyarakat harus bersaing dengan masyarakat (negara lain) yang telah menikmati insentif pembinaan dan pengembangan? "Sadarkah kita bahwa di dalam produk impor tersembunyi jam kerja masyarakat lain?" kata Habibie.

Habibie meenyebut, kita kaya tapi miskin (kaya sumber daya alam, miskin penghasilan). Kita besar tapi kerdil (besar wilayah dan penduduk, kerdil produktivitas dan daya saingnya). Merdeka tapi terjajah (merdeka secara politik, terjajah secara ekolemah (kuat dalam anarkisme, lemah dalam menghadapi tantangan global). Kemudian, kita itu indah tapi jelek (indah potensi dan prospeknya, jelek dan korup dalam pengelolaannya). "Mau ke mana kita? Quo vadis Indonesia?" kata Habibie.

Ya apa yang dikatakan Habibie semua benar. Tetapi kalau kita memutar jarum sejarah sejenak, Habibie memang berhasil di masanya ketika menjabat Menteri. Kita bangga pada waktu itu bisa mendesain pesawat-pesawat buatan sendiri. Bangsa Indonesia dikagumi dunia luar, termasuk bangsa kita sendiri. Semua orang berdecak kagum, ya Habibie telah membawa Indonesia ke luar dari kepesimisan.Indonesia setara dengan negara-negara lain.

Itu tidak lama, ketika Habibie menjadi Menteri dan terus ke puncak menjadi Presiden, tidak ada lagi otak sekaliber Habibie. Menteri yang ditunjuknya pun tidak sekaliber dia. Langkah-langkah untuk memperkenalkan bangsa Indonesia sebagai produksi pesawat semakin lama semakin tidak jelas, karena Habibie disibukkan dengan berbagai persoalan bukan hanya teknologi tetapi politik. Sekaliber apa pun seseorang kalau tidak terfokus pada bidangnya, jelas tidak mampu. Apalagi Habibie dihadapkan dengan masalah Timor Timur yang sebelumnya dengan susah payah diperjuangkan masuk ke dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) oleh Presiden Soeharto. Timor Timur merdeka dan lepas dari pangkuan NKRI.Sudah jelas Habibie berhadapan dengan Tentara Nasional Indonseia (TNI) dan Soeharto, yang juga adalah TNI yang tidak lagi menyukai Habibie.TNI memang kalau berbicara mengenai negara kesatuan tidak ada kompromi. Tanyalah kepada para veteran dari Timor Timur. Betapa marahnya mereka kepada Habibie.Banyak keluarga mereka menjadi korban, dan cacat dalam memperjuangkan Timor Timur agar masuk ke wilayah Indonesia.Tapi dengan lepasnya Timor Timur yang menjadi bagian dari Provinsi di Indonesia waktu itu, sangat kecewa.Yang jelas kebersamaan TNI-SIPIL yang sudah dibina sejak awal kemerdekaan pecah.

Selanjutnya beliau tidak lagi menjadi Presiden karena dijatuhkan.Setelah itu Habibie tidak lagi berada di Indonesia dan lebih banyak berada di Jerman. Menurut pemikiran saya sebagai Bangsa Indonesia beliau sebaiknya berada di Indonesia, karena bukankah beliau lebih memahami keadaan Indonesia dan juga pernah menjadi orang nomor satu di negara ini? Baiklah ada perpanjangan tangan beliau, ada pemikir-pemikir dari Ikatan Cendiakawan Muslim Indonesia membantu pemikiran-pemikiran beliau dari Jerman. Tetapi bangsa ini hanya bertanya di mana Habibie? Mengapa program Anda tidak berlanjut? Mengapa akhir dari perjalanan Anda tidak semulus yang diperkirakan yaitu bertentangan dengan orang yang pernah mencintai dan menyayangi Anda, Soeharto? Betapa sakit hatinya Soeharto, sebuah sumber yang saya dengar hingga menjelang ajalnya, Soeharto tidak mau berjumpa lagi dengan Habibie. Kalau ada acara-acara, Soeharto selalu bertanya apakah ada Habibie (sebenarnya ada beberapa orang lagi, tetapi saya fokus kepada Habibie). Jika ada Habibie, Pak Harto tidak mau datang, pun kalaupun datang setelah Habibie pulang.

Perjalanan bangsa ini terputus antara Soeharto dengan orang yang disayanginya Habibie. Program bangsa ini pun sudah jelas terbengkalai. Hal ini tidak boleh terulang kembali.Keberhasilan bangsa yang dicita-citakan selama ini gagal. Kalaulah seandainya Habibie fokus saja kepada bidangnya dan tidak terjun ke dunia politik, saya yakin Bangsa Indonesia telah maju sejak dulu. Itulah yang saya maksud pernyataan Habibie itu benar. Tetapi ya ada tetapinya. Sekarang bangsa ini tidak boleh menyesal. Saya selalu menyarankan agar para calon para pemimpin bangsa tahun 2014 ini mengambil contoh-contoh baik dari pemimpin sebelumnya. Lanjutkan program mereka yang terbengkalai. Jangan lagi dimulai dari nol. Kalau begitu terus, bangsa ini akan tetap jalan di tempat.


BERSAMA MANTAN WARTAWAN HARIAN PELITA DAN SRIWIJAYA POST

BERSAMA MANTAN WARTAWAN HARIAN PELITA DAN SRIWIJAYA POST
BERSAMA MANTAN WARTAWAN HARIAN PELITA DAN SRIWIJAYA POST 24 JULI 2011 DI RUMAH ERDI TAUFIK: Dari Kiri: Erdi Taufik (Sekarang Executive Producer SCTV), Nelly Fitri,Eyick Erizul Syafrida, Salmah Galuh Makaroesa, Hasanah Samhudi (Sekarang Pemimpin Redaksi Hr.Tribun Jambi), Syaiful Azram (koleksi foto), Dasman Djamaluddin, Faisal Haq, Suwidi Tono (koleksi foto), Bidrians Abidin, Rizani Usman, Budi Winarno (Sekarang Redaktur Pelaksana Hr.Jurnal Nasional) dan Syaefurrahman Al-banjary (koleksi foto).

B.M.DIAH,TOKOH SEJARAH YANG MENGHAYATI ZAMAN

B.M.DIAH,TOKOH SEJARAH YANG MENGHAYATI ZAMAN
BUKU KEDUA SAYA YANG TERBIT TAHUN 1992 SETELAH LETNAN JENDERAL ACHMAD TIRTOSUDIRO

SEMANGAT,JIWAI PELANTIKAN ICMI ORDA KOTA DEPOK

Oleh Dasman Djamaluddin

Gedung Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang terletak di Jalan Nusantara Raya 5-7 Depok, Minggu, 24 Juli 2011 malam, menjadi saksi sejarah kesinambungan dan kebangkitan Ikatan Cendikiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) Organisasi Daerah (Orda) Kota Depok.

Mengapa tidak? Sebelumnya gedung itu pun dipakai sebagai ajang pemilihan Ketua baru ICMI Orda Kota Depok dalam acara Musyawarah Daerah Pertama tanggal 22 Mei 2011. Bahkan gedung itu pula akan, di salah satu ruangannya, akan menjadi sekretariat tetap ICMI Orda Kota Depok.

Suasana Minggu malam itu memang tidak bersahabat. Hujan yang begitu deras mengguyur Kotamadya Depok. Tetapi, wajah-wajah pengurus yang akan dilantik yang berbaur dengan para pejabat Kota Depok, termasuk yang mewakili Walikota Depok, tetap ceria dan sumringah. Mereka seakan-akan tidak peduli dengan cuaca buruk di luar gedung. Semangat ini pula rupanya mendorong lancarnya acara Pengesahan Susunan Majelis Pengurus Daerah ICMI Orda Depok Periode 2011-2016.

Berlangsungnya pelantikan ini bersamaan dengan akan tibanya Bulan Suci Ramadhan buat pemeluk Agama Islam dan HUT Kemerdekaan Bangsa Indonesia 17 Agustus 2011. Boleh dikatakan pelantikan ini memberi makna khusus bagi pengurus, agar jiwa pengabdian ikhlas diperuntukkan betul untuk agama dan bangsa, khususnya untuk Orda Depok, ya di Kota Depok.

Berbicara tentang ICMI, ya, sudah tentu berbicara mengenai seorang figur Prof Dr BJ Habibie. Beliaulah yang pada waktu itu dipercaya Presiden Soeharto mengomandani organisasi tersebut yang kelahirannya ditandai dengan penyelenggaraan Simposium I ICMI di Malang,Jawa Timur, Desember 1990. Sejak itu ICMI berkembang pesat dengan memiliki surat kabar sendiri dan think-tank sendiri (CIDES), serta mengembangkan kepentingan-kepentingan ummat Islam dalam bentuk Bank Islam.

Dinamika ICMI sekarang disesuaikan dengan perkembangan zaman. Menarik untuk disimak adalah bahwa ICMI dipertahankan sebagai organisasi kemasyarakatan non politik. dan terus menjaga trilogi: kecendikiawanan, ke Islaman, dan ke Indonesiaan. ICMI tidak ingin terlibat dalam kondisi perpolitikan yang hanya menghabiskan enerji. Patutlah dimengerti bahwa dalam kondisi perpolitikan apa pun, ICMI bertekad, rakyat harus diberdayakan, karena konsumsi perpolitikan, sejatinya hanya menjadi ranah kalangan elite saja.

ICMI Orda Depok

Adalah Ir.Djoko Prabowo, pria kelahiran 22Januari 1965 diamanahkan ICMI Orda Kota Depok untuk memimpin organisasi ini periode 2011 - 2016 dalam Musda I, 22 Mei 2011.Keinginan Djoko memang sangat sederhana, yaitu bagaimana ke depan ICMI Orda Kota Depok memiliki tanggung jawab sosial, dan atau kepeduliaan sosial dalam pengertian yang lebih luas. Keberadaan itu, tegas Djoko, minimal harus mampu melakukan analisa dan evaluasi secara kritis persoalan-persoalan yang terjadi di masyarakat Depok. Lebih penting, ungkap Djoko, ICMI Orda Kota Depok harus mampu pula menunjukkan arah atau jalan bagi perkembangan masyarakat dengan konsisten,menggali ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kepentingan ummat. Dalam arti bukan untuk diri sendiri, kroni atau golongan, melainkan untuk masyarakat yang lebih luas.

Sejalan dengan keinginan ini, Djoko mengusung tema ketika berlangsung Musda I ICMI baru-baru ini: MEMBERDAYAKAN POTENSI KECENDIKIAWANAN ICMI. MARI KITA MENGHANTARKAN RAKYAT KOTA DEPOK LEBIH MAJU MENCAPAI PERADABAN MADANI. Tema ini kemudian dipertegas lagi oleh Djoko dalam sambutan sebagai Ketua Majelis Pengurus Daerah ICMI Orda Kota Depok Periode 2011-2016, 24 Juli 2011, hari Minggu malam.Realitasnya dalam program akan didasarkan pada prinsip 5 K: Pertama, Kualitas Iman dan Taqwa.Kedua,Kualitas Pikir. Ketiga,Kualitas Karya.Keempat,Kualitas Kerja.Kelima, Kualitas Hidup. Kualitas kehidupan ini dapat menjamin ketenteraman dan keadilan sehingga hak dan kewajiban dapat berjalan secara seimbang.

Dengan demikian:

1. ICMI Orda Kota Depok akan mengakomodasi semua golongan Cendikiawan tanpa melihat perbedaan jender, tingkat pendidikan, pembudayaan, profesi, usia dan kelompok, sebagai bagian dari komponen pembangunan bangsa yang akan dikenal oleh masyarakat Kota Depok secara luas.

2. ICMI Orda Kota Depok akan berupaya memobilisasi para Cendikiawan yang ada di Kota Depok, baik dari kalangan intelektual kampus, para profesional, para Enterpreneur, tokoh masyarakat, kalangan generasi muda maupun masyarakat luas yang memiliki potensi untuk memberikan sumbangsih kecendiakaannya.

3. ICMI Orda Kota Depok akan senantiasa memelihara Silaturrahmi kepada masyarakat, para Tokoh atau Sesepuh, pemerintah dan kelompok atau Organisasi lain yang ada di Kota Depok dalam rangka menciptakan Persatuan dan Keselarasan dalam menjalankan tugasnya, memberikan sumbangan pemikiran yang positif, produktif realistis serta dapat memenuhi harapan masyarakat Kota Depok.

4. ICMI Orda Kota Depok akan senantiasa melakukan tindakan nyata sebagai karya yang dapat menjadi tauladan dan sarana penggerak pembangunan masyarakat Depok secara keseluruhan. Dengan senantiasa mengkomunikasikan upaya-upaya pemikiran, karya nyata dan segala aktifitas organisasi kepada semua pihak agar terjadi keselarasan dalan saling pengertian dalam kebersamaan membangun masyarakat Depok.

5. ICMI Orda Kota Depok akan senahntiasa aktif berpartisipasi serta berkoordinasi dengan Badan Organisasi ICMI yang lebih tinggi (ORWIL dan ORPUS) guna menghasilkan keselarasan program dan cita-cita ICMI secara keseluruhan.

(Penulis adalah Ketua Divisi Hukum dan HAM ICMI Orda Kota Depok Periode 2011-2016).

RAPAT ILUNI-FHUI 19 JULI 2011

RAPAT ILUNI-FHUI 19 JULI 2011
, Dasman Djamaluddin (koleksi foto · hapus tanda), Esti Handayani (koleksi foto), Asti Soekanto (koleksi foto), Sofie Mandagi (koleksi foto), iluni fhui, Chandra Motik, Leni Indrawati (koleksi foto), Nani Ratna Kusumawati (koleksi foto), Nenden Dewi Anggraeni (koleksi foto), Hani Cahyanti (koleksi foto)

RAPAT ILUNI FHUI 19 JULI 2011

RAPAT ILUNI FHUI 19 JULI 2011
RAPAT ILUNI FHUI 19 JULI 2011 di Sekretariat ILUNI FHUI. Dari Kiri: Dasman Djamaluddin,Chandra Motik ,Hani Cahyanti dan RHS Rini Hastuti.

RAPAT ILUNI-FHUI 19 JULI 2011

RAPAT ILUNI-FHUI 19 JULI 2011
Rapat Iluni FHUI untuk Persiapan Tour Library ke Perpustakaan Baru UI, Sabtu,23 Juli 2011. , Asti Soekanto (Tengah), Dasman Djamaluddin (Kanan)

MERUMUSKAN HASIL SEMINAR NASIONAL SEJARAH DI HOTEL AMARIS II JAKARTA ,JULI 2011

MERUMUSKAN HASIL SEMINAR NASIONAL SEJARAH DI HOTEL AMARIS II JAKARTA ,JULI 2011
Merumuskan hasil Seminar Nasional Sejarah sesuatu yang melelahkan, tetapi mengasyikan karena diharapkan bangsa Indonesia akan lebih mengenal sejarahnya.Bung Karno pernah mengatakan, JAS MERAH, jangan sekali kali melupakan sejarah. KIRI: DASMAN DJAMALUDDIN KANAN: EDY SUWARDI (Kepala Museum Kebangkitan Nasional)

JENDERAL TNI ANUMERTA BASOEKI RACHMAT DAN SUPERSEMAR

JENDERAL TNI ANUMERTA BASOEKI RACHMAT DAN SUPERSEMAR
CETAKAN KEDUA

MERUMUSKAN HASIL SEMINAR NASIONAL SEJARAH DI HOTEL AMARIS II JAKARTA, JULI 2011

MERUMUSKAN HASIL SEMINAR NASIONAL SEJARAH DI HOTEL AMARIS II JAKARTA, JULI 2011
Merumuskan hasil Seminar Nasional Sejarah sesuatu yang melelahkan, tetapi mengasyikan karena diharapkan bangsa Indonesia akan lebih mengenal sejarahnya.Bung Karno pernah mengatakan, JAS MERAH, jangan sekali kali melupakan sejarah.Dasman Djamaluddin sedang berdiskusi dengan Edy Suwardi (Kepala Museum Kebangkitan Nasional)

JENDERAL BASOEKI RACHMAT DAN SUPERSEMAR CETAKAN PERTAMA

JENDERAL BASOEKI RACHMAT DAN SUPERSEMAR CETAKAN PERTAMA
BUKU SAYA SELANJUTNYA

MERUMUSKAN HASIL SEMINAR NASIONAL SEJARAH DI HOTEL AMARIS II JAKARTA, JULI 2011

MERUMUSKAN  HASIL SEMINAR NASIONAL SEJARAH DI HOTEL AMARIS II JAKARTA, JULI 2011
Dari Kiri: Dasman Djamaluddin (koleksi foto · hapus tanda), Erti Panestiati, Anna Wartono, Yeyen Brefinda Supiyani (koleksi foto), Edy Suwardi (koleksi foto)

GUNAWAN SATARI,PEJUANG,PENDIDIK DAN ILMUWAN

GUNAWAN SATARI,PEJUANG,PENDIDIK DAN ILMUWAN
BUKU SAYA BERIKUTNYA

SEMINAR SEHARI DI MUSEUM KEBANGKITAN NASIONAL, 8 JUNI 2011

SEMINAR SEHARI DI MUSEUM KEBANGKITAN NASIONAL, 8 JUNI 2011
Dari Kiri: Dasman Djamaluddin,SH,M.Hum (Moderator Seminar Nasional Sehari), Dra.Huriyati,MM (Kepala Museum Perumusan Naskah Proklamasi), Drs.Agus Nugroho (Kepala Museum Sumpah Pemuda) di Museum Kebangkitan Nasional, 8 Juni 2011

SADDAM HUSSEIN MENGHALAU TANTANGAN

SADDAM HUSSEIN MENGHALAU TANTANGAN
BUKU YANG MEMPEROLEH PENGHARGAAN DARI ISTANA KEPRESIDENAN IRAK

CATATAN DARI SEMINAR NASIONAL SEJARAH

TANPA KENAL SEJARAH TIDAK MUNGKIN KARAKTER DAN JATI DIRI BANGSA TERBENTUK

Oleh Dasman Djamaluddin

Seminar Nasional sehari yang diselenggarakan Museum Kebangkitan Nasional, Jakarta, 8 Juni 2011 lalu sangat menarik. Selain dihadiri para dosen dan mahasiswa sejarah dari berbagai provinsi di Indonesia, juga para pembicara yang dipilih sangat tepat karena minimal mampu mewakili thema yang diberikan: "Pemahaman Nilai-Nilai Kebangkitan Nasional untuk Memperkuat Karakter dan Jatidiri Bangsa."

Para pembicara yang hadir yaitu Dr.Anhar Gonggong (Sejarawan),Drs.Tarman Azzam,MSc (Ketua Dewan Kehormatan PWI, Pemred Hr.Terbit), Prof.Dr.Mestika Zed (Dosen dan Peneliti pada Pusat Kajian Sosial Budaya dan Ekonomi Fakultas Ilmu-Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang), Prof.Dr.Sapardi Djoko Damono (Guru Besar UI), Prof.Dr.Suhartono W.Paranoto (Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya UGM),dan Dr.Restu Gunawan (Kasubdit Peradaban Sejarah, Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala, Kemenbudpar).

Saya memperoleh giliran menjadi moderator pada Sesi II sementara Sesi I dimoderatori oleh Dr.dr.Rushdy Hoesein,M.Hum.

Sebelum melangkah ke podium pada sesi II, saya sempat diberi beberapa lembaran dari Pak Nunus Supardi Wakil Ketua Lembaga Sensor Film, di mana lembaran-lembaran itu sangat menarik tetapi tidak sempat saya bacakan karena terbatasnya waktu. Menariknya karena mengutip Pidato Bung Karno pada Pelantikan Panitia Sejarah Museum Tugu Nasional 3 Januari 1964, di mana Bung Karno berharap:

"Jika nanti museum sejarah ini dibuka
Pengunjung bangsa sendiri
atau yang datang dari negeri asing
akan tertegun di dalamnya.
Dan setelah mereka menjejakkan kakinya di luar
mereka akan berkata
Yes, the Indonesian people are great people
Yes, the Indonesian people are becoming a great people again
Kita adalah bangsa besar."

Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa sebuah museum memiliki nilai-nilai sejarah. Bagaimana sebagai anak bangsa, sejak awal sudah harus mengenal sejarah. Oleh karena itu tanpa mengenal sejarah, bangsa ini tidak akan mungkin membentuk karakter bangsa. Hal tersebut ditegaskan pula oleh Anhar Gonggong, bahkan ditambahkan oleh beliau "bagaimana akan membentuk karakter bangsa jika bangsanya sendiri tidak mengenal Pancasila sebagai dasar negara dan mempraktikannya dalam kehidupan sehari-hari ?"

"Dendam sejarah harus pula dihilangkan dan hendaknya para pemimpin bangsa bersatu sebagaimana di Korea Selatan ketika Korsel lepas dari krisis ekonomi 1997-1998 pada saat Presiden Kim Yong Sam memperkuat semangat Nasionalisme Korea dengan cara menarik dukungan Dunia Barat melalui liberalisasi perdagangan," ujar Tarman Azzam ketika mengetengahkan makalahnya. "Sudah saatnya para pemimpin bangsa menghilangkan dendam sejarah ini dan tidak gonto-gontokan satu sama lain sebagaimana kita lihat," tegas Tarman Azzam. Tarman juga menggarisbawahi:"Kalau para anak didik tidak mengenal sejarah perjuangan B.M.Diah, Soekarno dan lain-lain bagaimana kita bisa membangun karakter bangsa?."

Selanjutnya Mestika Zed mencoba melihat kontribusi tokoh-tokoh pergerakan dari Sumatera Barat dalam menegakkan Nasionalisme ke-Indonesia. Nama-nama besar seperti Hatta-Sjahrir, Tan Malaka, Haji Agus Salim, Abdul Muis, Mohammad Natsir adalah tokoh-tokoh Minang yang sangat berjasa besar bagi bangsa Indonesia."Tanpa mengurangi rasa hormat, dua di antara tiga konseptor "Indonesia Merdeka" di masa pergerakan berasal dari Minangkabau: pertama Mohammad Hatta (1902-1980), kedua Tan malaka (1896-1949) dan ketiga baru Soekarno (1901-1970)," ujar Mestika Zed.Adalah Hatta yang pertama-tema menulis risalahnya:"Indonesia Vrije" tahun 1928 sebagai pidato pembelaannya di depan pengadilan Belanda sehingga beliau masuk penjara di Den Haag. Gagasan Hatta ini lahir lebih dulu dibanding Tan Malaka yang menulis"Noor de Republiek Indonesia" (Menuju Republik Indonesia). Akhirnya yang ketiga barulah Soekarno dengan Risalahnya "Menuju Indonesia Merdeka," pada tahun 1933.

"Mengapa bangsa ini harus merdeka?," tanya Mestika Zed.Pertama, karena negara ingin melindungi seluruh warga negara,BUKAN MEMBIARKANNYA TERLANTAR. Kedua, karena negara ingin mensejahterakan rakyatnya dan BUKAN MENGEKSPOITASINYA UNTUK KEPETINGAN SEGELINTIR. Ketiga, karena negara ingin mencerdaskan kehidupan bangsa dan BUKAN MEMBODOHINYA, APALAGI MEMBOHONGINYA. Keempat, karena kita ingin terlibat dalam pergaulan internasional dan BUKAN UNTUK DIDIKTE BANGSA LAIN. "Tetapi sekarang?," tanya Mestika Zed.

Pada Sesi II, Suhartono W.Pranoto yang juga adalah dosen Anhar Gonggong dan Mestika Zed menggarisbawahi bahwa seorang sejarawan harus setia kepada profesinya, di mana di dalam mempelajari atau menulis sejarah harus mengutamakan teori dan metodelogi. Kepada para anak-anak muda diharapkan agar segera mempelajari biografi, karena kalau tidak tahu dengan biografi tokoh-tokoh bangsa, apa bisa seseorang mengenal sejarah?

Sapardi Djoko Damono melihat permasalahan karakter bangsa ini dari polemik kebudayaan yang pernah terjadi. Sapardi membahasnya dari esai Sutan Takdir Alisjahbana yang berjudul"Menuju Masyarakat dan Kebudayaan Baru" yang dimuat dalam esai pertama dalam buku Polemik Kebudayaan yang diedit oleh Achdiat Kartamihardja. Yang pada akhirnya, Restu Gunawan mencoba melihat pergerakan nasional dari sisi kaum elit modern. Bagaimana pun pergerakan nasional digerakan oleh orang-orang muda yang berpendidikan plus tercerahkan. Jika hanya sebatas berpendidikan, banyak di antara profesor-profesor bangsa ini sekarang masuk penjara karena korupsi.Mereka tidak memiliki integritas, hanya mengutamakan kepentingan sesaat, bukan untuk rakyatnya tetapi untuk dirinya atau golongannya. OLEH KARENA ITU harus pula tercerahkan, sebagaimana tokoh-tokoh bangsa yang memperjuangkan kemerdekaan di awal-awal kemerdekaan dengan darah dan air mata.

Sebagai penutup saya perlu pula mengutip Pidato Bung Karno pada Penyerahan Hadiah Pemenang Sayembara Rencana Tugu Nasional, 27 Juni 1960

"Buatlah Rakyat itu Rakyat yang berjiwa.
Buatlah Rakyat itu yang menuju kepada suatu kebudayaan yang tinggi.
Buatlah Rakyat itu satu Rakyat yang mempelajari dan melatih dirinya dalam yang tinggi.
Buatlah Rakyat itu Rakyat yang bangga atas dirinya sendiri.
Buatlah Rakyat itu satu Rakyat yang bangga atas perjuangannya.
Buatlah Rakyat itu yang menghormati pahlawan-pahlawannya yang telah gugur.
Bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa menghormati pahlawan-pahlawan yang gugur"







GOLKAR SEBAGAI PARTAI ALTERNATIF

GOLKAR SEBAGAI PARTAI ALTERNATIF
BUKU SAYA YANG DIBERI PENGANTAR OLEH DEKAN FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS INDONESIA

SEMINAR SEHARI DI MUSEUM KEBANGKITAN NASIONAL, 8 JUNI 2011

SEMINAR SEHARI DI MUSEUM KEBANGKITAN NASIONAL, 8 JUNI 2011
Dari Kiri: Prof.Dr.Suhartono (Sejarahwan UGM), Prof.Dr.Sapardi Djoko Damono (Guru Besar UI), Dr.Restu Gunawan (Kemenbudpar) dan Dasman Djamaluddin,SH,M.Hum (Moderator)

PENYERAHAN KENANG2AN DARI KEPALA MUSEUM KEBANGKITAN NASIONAL

PENYERAHAN KENANG2AN DARI KEPALA MUSEUM KEBANGKITAN NASIONAL
Dari Kiri: Penyerahan Kenang-Kenangan dari Drs.Edy Suwardi,M.Hum (Kepala Museum Kebangkitan Nasional) kepada Dasman Djamaluddin,SH,M.Hum (Moderator Seminar Sehari, 8 Juni 2011)

MENGENANG KEMBALI SUPERSEMAR PADA 11 MARET 2011

TDAK ADA SALAHNYA 11 MARET 2011 KALI INI SAYA MENURUNKAN MAKALAH LAMA SAYA TENTANG SUPERSEMAR. SAYA MENGANGGAPNYA MASIH RELEVAN KARENA SUPERSEMAR ASLI BELUM DITEMUKAN.

Makalah Seminar Nasional dan Diskusi Interaktif "Impilkasi Wafatnya Soeharto terhadap Kebenaran Sejarah Supersemar."

Makalah Seminar Nasional dan Diskusi Interaktif "Implikasi Wafatnya Soeharto terhadap Kebenaran Sejarah Supersemar" diselenggarakan oleh Fakultas Hukum Universitas YARSI di Ruang Auditorium Universitas YARSI, Jakarta, Selasa, 25 Maret 2008. Penulis adalah Direktur Eksekutif Lembaga Pengkajian Sejarah Supersemar (LPSS) dan Penulis Buku: Jenderal TNI Anumerta Basoeki Rachmat dan Supersemar. Nara sumber lain adalah: Dr.Anhar Gonggong (Sejarawan), Atmadji Sumarkidjo (Wapemred RCTI dan Penulis Buku: Jenderal M.Jusuf Panglima para Prajurit dan Abdul Kadir Besar (Sekretaris Umum MPRS 1966).


Supersemar, Sumber Sejarah yang Hilang


Oleh : Dasman Djamaluddin


Mantan Presiden RI kedua Soeharto yang wafat pada hari Ahad, 27 Januari 2008, memunculkan berbagai polemik sekitar pemerintahannya selama 32 tahun. Banyak di antaranya mendukung, tetapi banyak pula yang mengecam. kita berharap kepergian Soeharto merupakan awal dari terbukanya tabir kegelapan sejarah bangsa Indonesia yang selama ini ditutup-tutupi.

Kepergian orang nomor satu di Indonesia tersebut mendapat tempat yang istimewa di berbagai media massa. Ini membuktikan, lengsernya Soeharto sebagai seorang Presiden pada 21 Mei 1998 tidak memudarkan pengaruh yang telah dibinanya selama ini, karena hingga menghembuskan nafas terakhirnya, masih banyak para pejabat atau mantan pejabat dalam dan luar negeri berkunjung ke rumahnya di Jalan Cendana.

Selain itu, keterkaitan Soeharto dengan hilangnya Supersemar tidak dapat diragukan, karena naskah asli tersebut dipegang oleh beliau :

"Naskah asli Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) yang tidak diketahui keberadaannya selama 40 tahun saat ini berada di tangan mantan Presiden Soeharto," ujar Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla dalam sambutannya pada peluncuran buku memoir Jenderal M.Jusuf Panglima para Prajurit di Jakarta, Jumat malam (10 Maret) 2006. foot note : "Naskah asli Supersemar Dipegang Soeharto," Media Indonesia (Sabtu, 11 Maret 2006): 12

Kepergian Soeharto seakan-akan telah diatur sebelumnya, karena hari wafatnya berselang tidak lama dengan tahun peringatan ke-42 lahirnya Surat Perintah 11 Maret (Supersemar/ 11 Maret 1966-11 Maret 2008) yang merupakan titik tolak seorang anak dari Desa Kemusuk (Jawa Tengah) itu menapak langkahnya menjadi Presiden.

Hari ini dengan diselenggarakannya Seminar Nasional bertema: "Implikasi Wafatnya Soeharto terhadap Kebenaran Sejarah Supersemar," juga merupakan langkah terpuji buat seorang ilmuwan untuk mengkaji lebih mendalam tentang kebenaran sejarah 42 tahun lalu. Tujuannya antara lain untuk kepentingan umum. Ini pula yang dimaksud oleh Vaclav Havel (foot note: Vaclav Havel adalah Presiden Pertama dan terakhir Republik Cekoslovakia sesudah tahun 1989. Dia bukan berasal dari politikus, tetapi dari seorang seniman, penulis dan lakon teater yang berhasil mengantar rakyatnya membuang sistem komunis. Tetapi tidak lama kemudian dia sangat kecewa dengan hasil referendum di mana rakyatnya terpecah menjadi dua, bergabung dengan Ceko dan Slovia) bahwa seorang ilmuwan tugasnya adalah membaktikan hidupnya untuk berpikir demi kepentingan umum dan bahkan menafikan kepentingan pribadinya. Jika seseorang sudah lebih banyak memikirkan dirinya sendiri dan mengabaikan kepentingan umum, maka boleh jadi keilmuawan seseorang tersebut perlu diragukan, karena biasanya seorang ilmuwan atau juga disebut dengan intelektual, cendekiawan atau cerdik pandai mempraktikan hidup dalam kesederhanaan, jujur dan rela berkorban. Sehingga seorang cendekiawan, agamawan dan seniman di dalam menjalankan fungsinya masing-masing punya getaran gelombang yang sama.

Mempelajari dan menggali sejarah masa lalu buat seorang ilmuwan tidak mudah. Dia dihadapkan dengan berbagai kemungkinan-kemungkinan dari mana sumber bahan penulisannya diperoleh. Kalau sumbernya telah ditemukan, maka masih ada sederet pertanyaan yang harus diajukan. Apakah sumber yang diperolehnya itu otentik (asli), apakah sumbernya shahih, sah dan benar (validity), terpercaya, sungguh-sungguh benar (realibility) dan kuat (perihal dapat dipercaya tadi /kredebility) ? Jika hl ini telah terpenuhi, barulah ilmuwan tersebut memenuhi kreteria sebagaimana diungkapkan oleh W.S.Rendra bahwa seorang cendekiawan harus "berumah di angin", tidak mau terikat oleh suatu sistem yang menghalangi kebebasannya.

"Ia harus bebas pula dari ikatan bathin sehingga konsekuen menurut keyakinan intelektualnya dan jangan terjadi sebagaimana Julien Benda katakan sebagai 'pengkhianatan kaum cendekiawan'," ujar W.S.Rendra yang baru saja memperoleh Doktor Kehormatan dari Universitas Gajah Mada (foot note: Dick Hartoko (ed), Golongan Cendekiawan (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia dan PT.Gramedia, 1980), hal.ix)

Penghilangan Sumber

Sumber sangat penting bagi kemajuan sebuah bangsa, bahkan maju atau tidaknya peradaban sebuah bangsa ditentukan oleh sumber-sumbernya. Itulah sebabnya ketika sebuah bangsa berkeinginan menghancurkan bangsa lainnya, yang dilkukannya pertama kali adalah menghancurkan kebudayaannya dengan menghancurkan perpustakaan, museum dan pusat-pusat kesenian lainnya. Atau dengan istilah lain," menghancurkan peradabannya."

Jika hal tersebut telah dilakukan, maka bangsa tersebut tidak lagi punya harga diri dan tidak punya lagi sumber-sumber kebudayaan yang patut dibanggakannya, sehingga masuklah kebudayaan bangsa si penyerang sebagai pengganti budaya bangsa yang diserang.

Apa yang terjadi di Indonesia di masa Orde Baru--sebuah istilah yang sejak awal tidak saya setujui, karena istilah tersebut berkonotasi merendahkan apa yang telah dihasilkan pemerintahan sebelumnya, Orde Lama--sangat mirip dengan "penghilangan sumber" yang pernah dilakukan bangsa-bangsa terdahulu. Bedanya, di masa Orde Baru "penghilangan sebuah sumber" dilakukan oleh bangsanya sendiri, bukan oleh bangsa lain.

Berbagai penghilangan sumber di masa Orde Baru, salah satunya apa yang pernah diungkapkan oleh Majalah TEMPO, 28 Juli 2002. Majalah tersebut mengungkap penghilangan dokumentasi tentang aktivitas parlemen Indonesia sejak era Konstituante hingga MPRS. Dokumen ini dimusnahkan pemerintah Orde Baru. Buku yang diterbitkan sebnyak 120 jilid, berjudul Laporan MPRS 1966-1972 tidak lagi kita temukan di perpustakaan-perpustakaan sebagai pusat kebudayaan bangsa untuk mencerdaskan generasi penerus, begitu pula di Arsip Nasional. Pada tahun 1972, pemerintah melarang peredaran buku tersebut dan buku yang berhasil ditemukan dibakar.

"Abdul Kadir Besar, sejumlah pengurus MPRS, dan pengelola Percetakan Siliwangi malah sempat diinterogasi. Tudingannya seram, membocorkan rahasia negara. Pak Nasution dicekal dari tahun 1972 sampai 1993, sejak itu, penjagaan dan fasilitas ditarik. Bahkan air PAM di rumah dicabut. Setiap hari intelijen mengamati kami. Semua yang dekat-dekat Pak Nas akan dibikin susah, sehingga orang takut datang. Yang setia adalah Surono dan Wiyogo Admodarminto, Soepardjo Roestam juga pernah datang, tapi cuma sebentar, lalu pergi. Yang lain menjauh. Seolah-olah kami ini penderita lepra. Sewaktu Adam Malik meninggal, Bapak datang. Tiba-tiba ada tentara yang menarik Bapak dan menyuruh mundur dengan cara yang tidak sopan. Kurang ajar sekali mereka," ujar isteri Pak Nasution, Yohana Sunarti Nasution.

Selanjutnya Bu Nas mengatakan:

"Pak Nas bilang sudah memaafkan Pak Harto. Cuma ada satu orang yang tidak mau dia maafkan. Tapi saya tak akan bilang siapa. Bapak bilang TNI sudah meninggalkan tugas seharusnya. TNI harusnya dekat dengan rakyat, bukan ikut memeras rakyat. Mengapa sekarang jadi begini ? TNI sekarang masuk ke segala peran. Orang jadi mempermasalahkan Pak Nas sebagai penggagas dwi fungsi. Padahal dwifungsi yang dilakukan Pak Harto bukan yang dimaksud Pak Nas. Prinsipnya TNI punya hak juga di negeri ini. Tapi jangan di semua tempat."

Selain itu, tidak ditemukannya naskah pidato Presiden Soekarno pada bulan Mei 1966 di Sekretariat Negara, juga menjadi tanda tanya. Hal ini terungkap dari pernyataan Asvi Warman Adam, Sejarawan dan Peneliti Senior Lembaga Ilmu Pengetahuan Indoneisa (LIPI) di dalam kata pengantar buku: Revolusi Belum Selesai.

Buku yang diterbitkan dalam dua jilid itu berisi kumpulan sebagian pidato Presiden Soekarno, yang dimulai sejak pasca peristiwa Gerakan 30 September. Mengherankan, pidato politik yang disampaikan sebanyak 103 kali tersebut tidak memperoleh tanggapan dari rakyatnya. Majalah TEMPO memberi perhatian besar terhadap terbitnya buku tersebut dan berkomentar:

"...pidato itu juga melukiskan kesunyian seorang Bung Besar. Perintahnya tak dituruti, pidatonya hanya menjadi kembang api, membuncah lalu hilang bersama malam. Hampir dua tahun suara Bung Karno nyaris tidak terdengar. Ia seperti tokoh dalam novel Gabriel Garcia Marquez, lelaki yang melewati waktunya dalam 100 tahun kesendirian."

Sepertinya penghilangan dokumen masih saja terjadi hingga sekarang. Baru-baru ini, hilangnya berkas penyelidikan pro justia kasus pelanggaran hak asasi manusia berat dalam tragedi Trisakti tahun 1998, Semanggi I dan Semanggi II, serta peristiwa penghilangan orang yang ada di Kejaksaan Agung, sungguh disesalkan.

Peranan TNI

Orde Baru juga disebut kemenangan TNI (dulu istilahnya ABRI) terhadap Partai Komunis Indonesia (PKI), karena pada Masa Sistem Politik Demokrasi Terpimpin, golongan militer tidak mendapat kesempatan lebih besar dalam kegiatan politik. Peranan militer semakin jelas terlihat ketika sedang membahas konsep Orde Baru di dalam Seminar Angkatan darat (AD) II 1966 yang berlangsung di Graha Wiyata Yudha, Seskoad Bandung, 25 - 31 Agustus 1966. Wlaupun terdapat kalangan sipil, tetapi jumlahnya sangat sedikit. Tujuan seminar pada waktu itu adalah untuk mengoreksi total serbagai ketimpangan-ketimpangan di masa Orde Lama. Jadi koreksi total adalah semangat Orde Baru.


Sangat jelas, bahwa di saat-saat mendirikan Pemerintahan Orde Baru, peranan TNI khususnya Angkatan Darat sangat besar. Itulah sebabnya mengapa para pelaku sejarah Supersemar adalah dari kalangan militer, termasuk Jenderal TNI Anumerta Basoeki Rachmat yang bukunya telah diterbitkan thun 1998 dan sebelumnya telah memperoleh persetujuan keluarga untuk ditulis pada tanggal 7 November 1996.

Pada masa Orde Baru, TNI tidak hanya berpengaruh terhadap salah satu partai politik saat itu (Golkar), walaupun saat itu enggan disebut sebuah partai, tetapi juga terhadap posisi TNI yang secara terang-terangan berada di lingkaran kekuasaan. TNI tidak hanya menunjukkan pengaruhnya di pemerintahan, tetapi di parlemen berlaku aturan-aturan khusus untuk TNI. Hal tersebut dinyatakan dengan tegas dalam Sidang Pleno Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong (DPR-GR) pada bulan Februari 1967, di mana Fraksi ABRI mengemukakan, bahwa ikut sertanya ABRI dalam politik adalah suatu keharusan dalam kehidupan sistem politik di Indonesia. Dengan dalih menjaga kekompakan, maka masuknya wakil-wakil ABRI dalam badan perwakilan haruslah dengan pengangkatan. Sehingga Soeharto di masa Orde Baru memegang tiga wewenang sekaligus. Dia adalah Panglima Tertinggi ABRI, Kepala Eksekutif dan Ketua Dewan Pembina Golkar.


Tetapi bagaimana selanjutnya ? Pada satu sisi Pemerintahan Orde Baru berkeinginan mengoreksi total berbagai ketimpangan-ketimpangan di masa Orde Lama, tetapi pada saat bersamaan pula pemerintah Orde Baru juga membuat kekeliruan di dalam menjalankan roda pemerintahan selama 32 tahun.


Pertama, di dalam hal membuabarkan sebuah partai, yaitu PKI. Soeharto tidak mengacu kepada penetapan Presiden Republik Indonesia No.7 tahun 1959 yang masih berlaku saat itu. Di mana di dalam pasal 9 ayat 1 nya dinyatakan bahwa :
Presiden, sesudah mendengar MA dpat melarang dan/atau membubarkan partai yang:
1. Bertentangan dengan azas dan tujuan negara
2. Programnya bertentangan dengan azas dan tujuan Negara
3. Dan melakukan pemberontakan
4. Tidak memenuhi syarat-syarat lain yang ditentukan.

Dengan ketentuan ini jelaslah bahwa tindakan Soeharto membubarkan PKI telah menyalahi aturan hukum. Hanya dengan berbekal Supersemar, Soeharto yang mengatasnamakan Presiden Soekarno dapat membubarkan sebuah partai, yaitu PKI.

Kedua, Supersemar meningkat menjadi Tap MPRS sebenarnya menjadi tinggi sekali dan menjadi Sumber Hukum Tata Negara, tetapi pada dasarnya tidak layak. Supersemar tidak lebih hanyalah merupakan surat perintah, tidak termasuk di dalam perundang-undangan dan bukan pula suatu peraturan kebijakan. Jika dinyatakan bahwa Supersemar tersebut tidak perlu dipersoalkan lagi karena setelah dikeluarkan dan suratnya berlaku selesai, permasalahannya bukan terletak pada manfaat surat pada saat itu, tetapi kembali kepada uraian di atas, bahwa bangsa ini setelah masa reformasi tidak hanya mereformasi peraturan-peraturan atau lembaga-lembaga peraturan, tetapi yang lebih penting adalah mereformasi budaya hukumnya.

Supersemar muncul dalam ketetapan MPRS No.XIX/MPRS/1966 tentang Sumber, Tertib Hukum dan Tata Urutan Perundangan RI. Urutan Sumber Tertib Hukum pada waktu itu adalah: Pancasila, Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, Dekrit Presiden 5 Juli 1959, Undang-Undang dasar Proklamasi 1945 dan Surat Perintah 11 Maret 1966.

Selanjutnya terlihat sangat jelas bagaimana Soeharto sudah dipersiapkan menjadi Presiden. Hal ini dapat dibaca dalam Ketetapan MPRS No.XV/MPRS/1966 tentang Pemilihan/Penunjukan Wakil Presiden dan Tata Cara Pengangkatan Pejabat Presiden. Pada dasarnya dinyatakan bahwa berdasarkan pertimbangan-pertimbangan politik psychologis, MPRS menganggap lebih baik tidak mengisi lowongan jabatan Wakil Presiden. Selanjutnya ditegaskan, oleh karena itu dipandang perlu untuk membuat ketentuan mengenai pejabat Presiden, apabila Presiden sewaktu-waktu berhalangan, mangkat, berhenti, atau tidak dapat melakukan kewajibannya guna menghindarkan kekosongan dalam Pimpinan Negara dan Pemerintahan.

Ketiga, adanya Surat Perintah Presiden Soekarno, tanggal 13 Maret 1966 yang tidak diindahkan Soeharto. Surat tersebut dikeluarkan sebagai koreksi terhadap penyelewengan pelaksanaan Supersemar. Surat sepanjang satu pragraf itu baru disebarluaskan pada hari Senin, 14 Maret 1966. Isi surat tersebut diungkapkan kembali dalam pidato Bung Karno pada 17 Agustus 1966. Nasib surat ini sama dengan Supersemar, yaitu "hilang."

Keempat, telah terjadi penangkapan-penangkapan tanpa prosedur, termasuk penangkapan-penangkapan di jajaran eksekutif (para menteri Kabinet Dwikora yang tanpa sepengetahuan Bung Karno) dan anggota legislatif, sehingga memuluskan jalan bagi Soeharto mengemukakan gagasan-gagasannya. Pembersihan oknum-oknum partai di Parlemen bertujuan untuk membersihkan orang-orang yang dekat dengan sikap Bung Karno. Praktis di MPRS, Bung Karno tidak punya kekuatan. Pada komposisi MPRS yng demikian, Sidang istimewa berlangsung, maka menjadi hal yang sangat wajar bila Pidato Pertanggungjawaban Bung Karno, berjudul: Nawaksara ditolak.

Pada Sidang Istimewa yang berlangsung di Jakarta pada tanggal 7-12 Maret 1967 melalui Ketetapan No.XXXIII/MPRS/67, MPRS menetapkan mencabut kekuasaan pemerintah negara dari Presiden Soekarno dan dengan ketetapan yang sama, MPRS mengangkat Pengemban Ketetapan MPRS No.IX/MPRS/66, Jenderal Soeharto sebagai Pejabat Presiden hingga dipilihnya Presiden oleh MPR hasil pemilihan umum.

"untuk sementara waktu kami akan memberlakukan beliau sebagai Presiden yang tidak berkuasa lagi, sebagai Presiden yang tidak mempunyai kewenangan apa pun di bidang politik,kenegaraan dan pemerintahan." /foot note: Robert Edward Elson, Suharto Sebuah Biografi Politik (Suharto: a Political Biography), diterjemahkan oleh Satrio Wahono dan IG Harimoerti Bagoesoka (Jakarta: Pustaka Minda Utama, 2005), hal.298-299.

Pertanyaan yang muncul, siapa yang menandatangani surat keputusan pembentukan Kabinet Ampera yang Disempurnakan, karena pembentukan kabinet tersebut disebutkan berdasarkan Keputusan Presiden No.171 tahun 1967, apakah di dalam berbagai peraturan diperbolehkan seorang pejabat Presiden mengatasnamakan Presiden untuk menandatangani sebuah surat keputusan atau sejauh manakah sahnya sebuah surat keputusan bila ditandatangani oleh seorang presiden yang kekuasaannya telah dicopot ?

Jika kita kembali sejenak ke belakang, sejarah mencatat,bahwa telah terjadi pula berbagai penangkapan anggota PKI dan anggota organisasi yang terkait. Sampai Oktober 1965, sudah 1.334 orang di wilayah Jakarta yang ditahan dengan alasan terlibat PKI./foot note: Ibid, hal.239. Banyak sumber yang memberitakan jumlah pembantaian tahun 1965/1966 terutama di Jawa, Sumatera dan Bali, merupakan jumlah terbesar. Jumlah pembantaian itu tidak mudah diketahui persis, tetapi dari 39 artikel yang dikumpulkan Robert Cribb (1990:12), jumlah korban berkisar 78.000 jiwa hingga dua juta jiwa /foot note: Asvi Warman Adam,"Pembantaian 1965, Kekerasan Terbesar dan Rekonsiliasi," Kompas (4 Desember 2000): 40.

Selanjutnya Robert Cribb mengatakan bahwa pembantaian tahun 1965 dilakukan dengan memakai alat sederhana, seperti pisau, golok dan senjata api. Caranya juga sederhana, tanpa harus terlebih dulu dimasukkan ke kamar gas seperti dilakukan Nazi. Orang yang akan dieksekusi juga tidak dibawa jauh-jauh sebelum dibantai,biasanya mereka bunuh di dekat rumahnya. Ciri lain dari kejadian itu biasanya dilakukan pada malam hari.Pembunuhan berlangsung relatif cepat, hanya beberapa bulan. Nazi memerlukan waktu bertahun-tahun dan Khmer Merah melakukannya dalam empat tahun. Bahkan kasus kekejian tahun 1965 tersebut sempat menjadi perhatian mantan Ibu Negara Perancis, nyonya Francois Mitterand, yang bersama rombongan menyempatkan diri mengunjungi Klaten dan menengok lokasi "killing field" (ajang pembantaian) di daerah sekitar Pandansimping./footnote:Lihat Bernas, 4 September 2000,'Mantan Ibu Negara Perancis ke Klaten Tertarik Cerita "Killing Field" di Pandansimping. Lihat juga cerpen GM Sudarta, Kompas, 10 Februari 2005.

Pembersihan sisa-sisa PKI tidak hanya di Jawa, tetapi juga di Sumatera Utara.Pembersihan sisa-sisa PKI dilakukan tanpa mengindahkan rasa kemanusiaan. Ada nuansa balas dendam politik yang memang tak terelakkan.Ia menjadi soal, lantaran korban dendam itu tidak hanya dirasakan oleh mereka yang diduga terlibat G.30.S, teapi juga keturunan mereka. Tidak cuma antek, tetapi juga keturunan mereka. Tidak cuma anak, tetapi cucu dan menantu. Stigma PKI khas Orde Baru benar-benar membuat berjuta anak Indonesia mengalami kematian perdata./foot note: Tim Investigasi,"Sejarah Hitam Pasca G-30-S, Majalah Tajuk No.23, TH.II (3 Januari 2000):68-71.

Kelima, pers mengalami apa yang dinamakan "pemasungan", sehingga peristiwa-peristiwa pada saat peralihan kekuasaan dari Soekarno kepada Soeharto banyak yang tidak diketahui dengan pasti oleh masyarakat. Hal ini terkait dengan peristiwa sebelumnya, di mana pada bulan Februari 1965, Menteri Penerangan Achmadi melarang terbit 21 surat kabar di Jakarta dan Medan karena mendukung Badan Pendukung Soekarno (BPS). Hanya yang leluasa memberitakan peristiwa-peristiwa itu adalah media-media yang sangat dekat dengan kekuasaan militer, seperti Harian Angkatan Bersenjata dan Berita Yudha. Kedua surat kabar ini pula yang memberitakan masalah Supersemar. Harian Angkatan Bersenjata memberitakan tanggal 12 Maret 1966 pagi dan sore, anehnya harian itu sudah tahu lebih dahulu tentang Supersemar. Sedangkan Berita Yudha memberitakan tanggal 13 Maret 1966.

Keenam, Soeharto sebagai Menpangad pada waktu itu tidak lagi patuh kepada Presiden Soekarno, sebagaimana diungkapkannya :

"Beliau mempunyai satu pendirian, saya punya pendirian lain. Tetapi saya tidak menentang begitu saja. Saya sebagai bawahan, sebenarnya harus taat. Apa yang diperintahkannya seharusnya saya patuhi. Tetapi saya sebagai pejuang tidak mungkin patuh begitu saja." /foot note: G.Dwipayana dan Ramadhan, K.H., Soeharto, Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya (Jakarta:PT.Citra Lamtoro Gung Persada, 1989), hal.167.

Sebaliknya Presiden Soekarno, sejak awal telah menganggap Soeharto sebagai perwira yang "begudul" (kepala batu). Hal tersebut diungkapkan beliau pada pidato 20 November 1965 di depan ke empat panglima angkatan di Istana Bogor.

Bung Karno mengatakan bahwa ada perwira yang begudul. "Begudul! Itu apa ? Hei, Bung, apa itu begudul? ya, Kepala Batu. Saya yang ditunjuk MPRS menjadi Panglima Besar Revolusi. Terus terang bukan Soebandrio. Bukan Leimena. Bukan engkau Soeharto, bukan engkau Soeharto..." berbeda dari nama lain, Soeharto disebut dua kali secara berturut./foot note: Setiyono, loc.cit.

Supersemar dan Perang Dingin

Faktor penting munculnya Supersemar tidak dapat dilepaskan dari terjadinya "Perang Dingin" antara Amerika Serikat dengan Uni Soviet. Dimulai dengan konsep pembendungan komunisme melalui Doktrin Truman (Truman Doctrin) yang diumumkan pada tahun 1947 sebagai reaksi Amerika serikat terhadap ekspansi komunisme Uni Soviet setelah Perang Dunia II di Eropa Tengah dan Eropa Timur, dan yang kelihatan akan menjalar ke wilayah Laut Tengah, termasuk Turki dan Yunani./foot note: Lie Tek Tjeng, Percaturan Politik Di Kawasan Asia Pasifik Dilihat dari Jakarta (Jakarta: PT.Karya Unipress, 1983), hal.37

Konsep Doktrin Truman disusul oleh Marshall Plan yang bertujuan membantu rehabilitasi Negara-negara Eropa yang telah hancur sebagai akibat Perang Dunia II. Kemudian disusul dengan pembentukan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) yang merupakan persekutuan militer raksasa Barat untuk membendung komunisme mulai dari Samudera Atlantik sampai ke Laut Tengah. sasaran utamanya adalah Uni Soviet.

Pada tanggal 1 Oktober 1949 negara Republik Rakyat Tiongkok (RRT) berdiri sebagai akibat kemenangan kaum komunis terhadap Koumintang. Tugas Amerika Serikat dan sekutunya dalam hal membendung komunisme bertambah berat. Untuk membendung komunisme dari RRT ini, Amerika Serikat dan sekutunya menganggap perlu membentuk Pakta Pertahanan di Timur. Pada tahun 1954 dibentuklah SEATO (Southeast Asia Treaty Organization), sebuah kekuatan pertahanan militer di Asia Tenggara beranggotakan Amerika Serikat, Inggeris, Perancis, Australia dan Selandia Baru serta negara-negara Asia: Filipina, Thailand dan Pakistan. Dalam hal ini, Indonesia menolak pembentukan pakta militer tersebut dan sejak saat ini hubungan Indonesia-Amerika Serikat mendingin, meskipun tidak bermusuhan. Pada saat bersamaan pertentangan dua kekuatan antara Barat dan Timur semakin memuncak, hal tersebut terlihat dari pecahnya Perang Korea (1950-1953), Pemisahan Berlin dengan tembok (Agustus 1961), Krisis Kuba (1961-1962).

Di dalam situasi Dunia yang tidak menentu ini, Indonesia lalu memprakarsai Konferensi Asia Afrika pada tanggal 18 April 1955 di Bandung dan pada akhirnya menjadi landasan buat negara-negara yang tidak memihak ke Barat atau ke Timur, mendirikan sebuah gerakan bernama: Gerakan Non-Blok di Beograd tahun 1961. Pada saat bersamaan, bulan Mei 1955, Uni Soviet dan sekutunya membentuk pula sebuah pertahanan militer bernama Pakta Warsawa.

Perkembangan di luar negeri berpengaruh besar terhadap perkembangan di dalam negeri Indonesia, begitu pula sebaliknya. Munculnya PKI, setelah Hatta sebagai Wakil Presiden RI mengeluarkan Maklumat Wakil Presiden No.X (huruf eks, bukan angka 10 hitungan Romawi, tetapi abjad ke-24) dan ditindaklanjuti dengan Maklumat Pemerintah tanggal 3 November 1945 menjadi perhatian Amerika Serikat dan sekutunya. Apalagi secara tak terduga. di dalam Pemilihan Umum pertama di Indonesia pada tanggal 29 September 1955, yang hasilnya baru diumumkan tanggal 1 Maret 1956, PKI berhasil menduduki posisi ke-empat dalam jumlah pengumpulan suara untuk Parlemen/DPR (16,3 persen), setelah PNI (22,1 persen), Masyumi (20,9 persen) dan NU (18,4 persen).

Ketika Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) menyatakan berpisah dari Negara Kesatuan Republik Indonesia tanggal 15 Februari 1958, Amerika Serikat mulai ikut membantu PRRI dengan persenjataan. Pada saat ini dikerahkan Armada Ketujuh Pasifik Amerika Serikat dengan membentuk Satgas 75 yang ditempatkan di Singapura. Dalam hal ini Menteri Luar Negeri PRRI Kolonel Maludin Simbolon pernah disarankan pihak Amerika Serikat untuk meledakkan instalasi tambang minyak Caltex di Riau agar ada alasan Armada VII Amerika Serikat mendaratkan pasukan marinirnya. Tetapi ditolak Maludin Simbolon karena dia tidak menghendaki Indonesia mengalami seperti yang terjadi di Korea Utara dan Korea Selatan atau "balkanisasi" negara dan bangsanya./foot note: Payung Bangun, Kolonel Maludin Simbolon, Liku-liku Perjuangannya dalam Pembangunan Bangsa (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1996), hal.257.

Pemisahan PRRI ini tidak terlepas dari mundurnya Wakil Presiden Mohammad Hatta pada tanggal 1 Desember 1956. Sejak saat ini PKI semakin leluasa mempengaruhi Bung Karno. Buktinya, ketika pada 21 Februari 1957, pukul 20.05, Bung Karno berpidato di Istana Merdeka dan secara terus terang mengatakan bahwa dirinya menginginkan agar kaum komunis ikut serta di dalam menyelenggarakan pemerintahan. Pidato Soekarno tersebut sangat mengejutkan berbagai pihak, terutama kelompok-kelompok yang sejak awal tidak menghendaki kehadiran PKI di Indonesia, terutama kelompok militer. Soekarno mengatakan :

"Yah. Saya tahu saudara-saudara misalnya terhadap PKI ada beberapa saudara-saudara atau pihak yang keberatan dia duduk dalam kabinet. Saya bertanya dengan setenang-tenangnya, saudara, apakah kita dapat terus menerus mengabaikan satu golongan yang di dalam pemilu mempunyai suara enam juta manusia ? Sungguh. saudara-saudara, saya tidak memihak. Saya sekedar menghendaki adanya perdamaian nasional. Saya sekedar ingin mengadakan cara pemerintah gotong royong dengan tidak memihak sesuatu pihak."/foot note: Presiden Soekarno, Menyelamatkan Republik Proklamasi Konsepsi Bung Karno. Catatan Stenografis dari Pidato Presiden Soekarno tanggal 21 Februari 1957 jam 20.05 di Istana Merdeka (Jakarta: Kementerian Penerangan RI, 1957), hal.13

Oleh karena itu, adalah hal wajar apabila Amerika Serikat dan sekutunya sejak awal mengamati perkembangan di Indonesia. Kegigihan Amerika Serikat membendung komunisme di Asia Tenggara dengan menggelorakan bahkan memperluas Perang Vietnam sampai ke Laos dan Kamboja, yang ditentang keras oleh Indonesia, menjadi salah satu bukti ada keterkaitan pihak Amerika Serikat dengan Indonesia di era "Perang Dingin" tersebut. Apalagi setelah Indonesia membentuk poros Jakarta-Phnom Penh- Hanoi-Beijing-Pyongyang yang sudah dianggap oleh Amerika Serikat bahwa Indonesia semakin masuk ke kubu Komunisme yang justru adalah musuh utama negara adidaya itu. Tetapi bagaimana pun juga kita kembali ke konsep semula. Sebagai seorang ilmuwan yang berpikir untuk bangsanya, perlu adanya sebuah kejujuran dibalik peristiwa apa pun yang melatar belakanginya. Konsep seorang ilmuwan sangat jelas, yaitu berkeinginan melihat sejarah sebuah bangsa tidak dimanipulasi oleh kepentingan-kepentingan sesaat, termasuk di dalam hal melihat Sejarah Supersemar. Oleh Karena itu perlu kiranya kita menemukan sumber asli Supersemar tersebut.

DAFTAR BACAAN

A.BUKU


Amirmachmud. Surat Perintah 11 Maret 1966 (Supersemar) Tonggak Sejarah Perjuangan Orde Baru (tanpa penerbit dan tahun. Ditulis ketika menjadi Ketua MPR/DPR-RI).

Bangun, Payung. Kolonel Maludin Simbolon. Liku-liku Perjuangannya dalam Pembangunan Bangsa. Jakarta:Pustaka Sinar Harapan, 1996.

Budiawan. Mematahkan Pewarisan Ingatan. Jakarta: Elsam, 2004.

Djamaluddin, Dasman. Jenderal TNI Anumerta Basoeki Rachmat dan Supersemar. Jakarta: PT.Grasindo. 1998.

Dwipayana, G dan Ramadhan,K.H. Soeharto, Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya. Jakarta: PT.Citra Lamtoro Gung Persada, 1989.

Elson, Robert Edward. Suharto Sebuah Biografi Politik (Suharto: a Political Biography), diterjemahkan oleh Satrio Wahono dan IG Harimoerti Bagoesoka. Jakarta: Pustaka Minda Utama, 2005.

Feith, Herberth. Soekarno-Militer dalam Demokrasi Terpimpin. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1995.

Green, Marshal. Dari Sukarno ke Suharto. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 1995.

Hari-Hari Terakhir Bung Karno (tanpa penerbit dan tahun. Seri Dokumentar).

Hartoko, Dick (ed). Golongan Cendekiawan. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia dan PT.Gramedia, 1980.

May, Brian. The Indonesia Tragedy. Singapore: Graham Brash Ltd.1981.

Nasution,A.H. Kepemimpinan. Jakarta: tanpa penerbit, 1977.

Nawaksara. Jakarta: Central Klender Plaza, tanpa tahun.

Nishihara, Masashi. Sukarno, Ratna Sari Dewi dan Pampasan Perang. Jakarta: Grafiti, 1994).

Scott, Peter Dale. CIA dan Penggulingan Sukarno. Yogyakarta: Lembaga Analisis Informasi, tanpa tahun.

Sd, Subhan. Langkah Merah. Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya, 1996.

Setiyono, Budi dan Bonnie Triyana. Revolusi Belum Selesai. Jilid I. Jakarta: Messias, 2003.

Shill, Edward. The Intellectuals and the powers and other Essay. Chicago & London: The University of Chicago Press, 1972.

Soebandrio. Kesaksianku tentang G30S. Jakarta: Forum Pendukung Reformasi Total, 2001.

Soekarno, Presiden. Menyelamatkan Republik Proklamasi Konsepsi Bung Karno. Catatan Stenografis dari Pidato Presiden Soekarno tanggal 21 Februari 1957 jam 20.05 di Istana Merdeka. Jakarta: Kementerian penerangan RI, 1952.

Supersemar. Jakarta: Badan penerbit Almanak RI/B.P.Alda. 1977.

Suryohadiprojo, Sayidiman. Kepemimpinan ABRI Dalam Sejarah dan Perjuangannya. Jakarta: Penerbit Intermasa, 1996.

Tjeng, Lie Tek. Percaturan Politik Di Kawasan Asia Pasifik Dilihat dari Jakarta. Jakarta: PT.Karya Unipress, 1983.

B. Surat Kabar:

Adam, Asvi Warman."Pembantaian1965, Kekerasan Terbesar dan Rekonsiliasi", Kompas (4 Desember 2000):40.

______________."Seabad Kontroversi Sejarah," Kompas (17 Januari 2000) : 4

Luhulima, James."Peristiwa G30S Titik Balik Soekarno,"Kompas ( 1 Juni 2001): 69.

"Naskah Asli Supersemar Dipegang Soeharto", Media Indonesia (Sabtu, 11 Maret 2006): 12

C. Majalah

Anom, Andari Karina."Setumpuk Buku 30 Tahun yang lalu" dan"Kami Dijauhi Seperti Penderita Lepra,"Majalah TEMPO ( 28 Juli 2002) : 64 dan 69.

Iqra."Bung Karno 100 Tahun dalam Sunyi", Majalah TEMPO (26 Oktober 2003) : 71.

Tim Investigasi."Sejarah Hitam Pasca G-30-S."Majalah Tajuk No.23, Th.II (3 Januari 2000) : 68-71.















SAYA TIDAK MEMPERMASALAHKAN SUSILO BAMBANG YUDHOYONO (SBY) ATAU TIDAK

Karena banyaknya pertanyaan, maka saya ingin menjelaskan mengapa saya mau mengomentari buku Tokoh Betawi Ridwan Saidi yang adalah juga mantan Ketua Umum PB HMI (1974-1976) berjudul: "BENCANA BERSAMA SBY"?

Pertama, buku ini menarik karena didukung data akurat sekitar bencana yang terjadi di masa Pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Jika sudah membacanya kita akan tersentak, betapa Ridwan Saidi rajin membuat kronologis secara mendetail dan data itu menurut saya bisa dipertanggung jawabkan karena ditambah dengan angka-angka.

Kedua, kalaulah judulnya berkaitan dengan SBY saya serahkan kepada penulis, sebagai seorang komentator saya tidak berhak merubah judul yang sudah diberikan oleh penulis buku ini yaitu Ridwan Saidi.

Ketiga, saya tertarikdengan buku ini karena Ridwan Saidi mengulas kepemimpinan Khalifah Abu Bakar Shiddiq. Di dalam pidatonya pertama kali setelah dilantik, beliau mengatakan dan mengulanginya sampai tiga kali agar masyarakat mencabut dukungannya. Beliau ingin menegaskan bahwa dia menjadi pemimpin bukan karena keinginan atau ambisinya atau pernah berdoa kepada Allah SWT. Beliau minta agar masyarakat mencabut dukungan kepadanya dan memberikan pada yang lebih baik. Tetapi karena para sahabat menjawab,"Andalah yang terbaik dari kami. Demi Allah, Anda tidak boleh mundur!," tandas Ali bin Abi Thalib, maka Abu Bakar mau menerimanya. Apakah hal-hal seperti ini pernah terjadi di masa sekarang ini? Bahkan untuk menjadi pemimpin tidak jarang kita lihat terlalu dipaksakan, bila perlu menghancurkan pembunuhan karakter.

Keempat, lebih menarik lagi ketika Abu Bakar Shiddiq mengunci pidatonya dengan berkata,"TAATILAH AKU SELAMA AKU TAAT PADA ALLAH DAN RASULNYA." Logikanya jika Abu Bakar tidak mengikuti perintah Allah dan Rasulnya selama menjalankan pemerintahan, Jangan taat. Juga beliau adalah pemimpin yang hanya bersedia menerima gaji dan fasilitas jabatan yang pas-pasan saja. Kalaulah tidak dilarang karena bakal menimbulkan konflik kepentingan dan fitnah, ia lebih suka berdagang sendiri untuk menafkahi keluarganya.Ketika mendapati istrinya sempat menabung dari sisa uang belanja, Abu Bakar terkejut. Ia langsung meminta pengurangan gaji sebagai kepala negara. Menjelang wafat, beliau berpesan kepada Abdurrahman putranya,"Aku sudah bilang kepada Umar kalau aku tidak mau makan harta kaum muslimin. Tapi dia memaksaku menerima gaji dari Baitul Maal selama aku menjadi Khalifah. Aku telah menerima gaji 8000 dirham selama memerintah,tolong kembalikan semuanya ke Baitul Maal." Setelah Abu Bakar wafat, Abdurrahman menyampaikan wasiat ayahnya kepala Khalifah Umar. Ia menyerahkan ke kas negara uang sebesar 8000 dinar berikut fasilitas yang pernah diterima Khalifah Abu Bakar berupa seorang budak, seekor unta, dan sebuah permadani usang. Maka menangislah Khalifah Umar seraya berkata:"Semoga Allah memberkati Abu Bakar. Sungguh, ia telah mempersulit para khalifah penggantinya." Apakah hal ini bisa terjadi di masa sekarang ini?

Kelima, saya tertarik dengan ucapan yang dikutip Ridwan Saidi sebuah pernyataan dari Andre Vitchek, novelis dan senior fellow di Oakland Institute Amerika Serikat yang menulis esai panjang dan dimuat dua koran internasional, The International Herald Tribune dan The Financial Times edisi 12 Februari 2007, berjudul: Indonesia:Natural Disaster or Mass Murder," terjemahannya Bencana atau Pembunuhan Massal .Vitchek dalam tulisannya itu memaparkan, berbagai bencana yang terjadi di Indonesia sesungguhnya dapat dicegah terjadinya. Atau paling tidak diminimalisir dampak buruknya. Tapi upaya pencegahan ini dia nilai tidak ada. Bahkan menurutnya yang terjadi adalah pembiaran terhadap potensi-potensi berbahaya. Di balik wajah buram itu, Vitchek menuding Bangsa Indonesia sebagai bangsa yang berkarakter buruk.'KEHIDUPAN BERNEGARA DI INDONESIA DEWASA INI DIDORONG OLEH SEMANGAT MENCARI UNTUNG DALAM BENTUKNYA YANG PALING EKSTRIM. IA JUGA MERUPAKAN SALAH SATU DARI BANGSA YANG PALING KORUP DI MUKA BUMI. DAN KELIHATANNYA TIDAK ADA KEUNTUNGAN CEPAT YANG DAPAT DIPEROLEH DARI MENGAMBIL LANGKAH_LANGKAH PREVENTIF TERHADAP BENCANA ALAM INI," tulis Vitchek.


Keenam, buku ini dikomentari pula oleh Permadi, tokoh yang sangat vokal membicarakan kebenaran dan mantan Ketua Umum PB NU Hasyim Muzadi. Jadi secara tegas saya ingin mengatakan bahwa tidak pernah mempersoalkan masalah presiden kita SBY. Jadi saya hanya mengomentari hal-hal yang patut diteladani oleh para pemimpin kita maupun di dunia, agar berkacalah kepada kepemimpinan Khalifah Abu Bakar. Hindari negara ini dari korupsi sehingga suatu ketika kita akan mewarisi negara ini dalam keadaan terhormat. Mewarisi rakyatnya dengan sejahtera baik lahir maupun bathin. Lebih dari itu saya menghimbau jangan melupakan sejarah dan belajarlah dari sejarah.

BENCANA, AKIBAT DOSA PENGUASA?

BENCANA, AKIBAT DOSA PENGUASA?
Ketika berbicang bincang dengan Tokoh Betawi Ridwan Saidi yang adalah juga mantan Ketua Umum PB HMI (1974-1976) saya diberi buku berjudul: BENCANA BERSAMA SBY. Buku ini menarik karena didukung oleh data akurat sekitar bencana yang terjadi di masa Pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Di dalam kata pengantarnya Ridwan Saidi mengatakan,:"Tak Lama sejak pelantikan SBY sebagai Presiden RI, 6 tewas, dan 10 orang luka-luka. Itulah korban pertama akibat kecelakaan beruntun yang terjadi 10 menit sebelum konvoi presiden SBY melewati jalan tol Jagorawi pada 17 November 2004, lantaran aturan protokoler rombongan presiden SBY yang akan melewati jalan tersebut. Konyolnya supir bis langsung ditetapkan menjadi "kambing hitam." Selanjutnya Ridwan Saidi mencatat pada 24 Desember 2004, gempa tsunami terbesar sepanjang sejarah Indonesia menghajar Aceh dan sekitarnya. Hampir setengah juta korban tewas pun tak bisa dihindarkan. Korban luka luka dan kerugian materil, tak terhitung lagi. Aceh, luluh lantak bak kota mati. Rentetan bencana lain pun hadir mengikuti bencana-bencana yang sebelumnya telah terjadi, membentuk sebuah rangkaian bencana yang mengiringi masa kepemimpinannya; banjir tsunami, gempa tektonik, dan hentakan gunung berapi. Belum lagi serbuan penyakit ganas yang menyebar; DBD,AIDS, dan flu burung. Buku setebal 196 halaman ini sarat dengan data otentik.Tetapi menurut saya, menarik untuk direnungkan adalah tulisan Ridwan Saidi di sebuah bab halaman 35 berjudul: AKIBAT DOSA PENGUASA. Ridwan Saidi ingin sebentar mengajak pembaca ke Zaman Khalifah Abu Bakar Shiddiq saat dilantik menjadi khalifah. Beliau berpidato, dan mengulangi sampai tiga kali permintaan agar jamaah mencabut dukungan kepadanya dan memberikan pada yang lebih baik. Tetapi para sahabat menjawab,"Andalah yang terbaik dari kami. Demi Allah, Anda tidak boleh mundur!," tandas Ali bin Abi Thalib. Pidato Abu Bakar Shiddiq itu sebagai berikut: " WAHAI MANUSIA, JANGAN MENGIRA AKU MENJABAT KHALIFAH KARENA KEINGINAN DAN AMBISIKU.KETAHUILAH,AKU TIDAK PERNAH BERHARAP SEDIKIT PUN TERHADAP JABATAN INI, DAN TIDAK PERNAH BERDOA UNTUK MENDAPATKANNYA BAIK SECARA TERANG-TERANGAN MAUPUN TERSEMBUNYI.AKU DIPAKSA UNTUK MEMIKUL TUGAS BERAT INI,YANG TAK MUNGKIN DAPAT KUEMBAN TANPA BANTUAN ALLAH.DEMI ALLAH,BILA ADA SAHABAT RASULULLAH YANG MAMPU MEMIKULNYA PASTI AKAN KUSERAHKAN KEKUASAAN INI SEKARANG JUGA KEPADANYA. CABUTLAH BAI'AT KALIAN PADAKU, LALU BERIKAN PADA ORANG YANG LEBIH KALIAN SUKAI, SEBAB AKU JUGA SAMA SAJA DENGAN KALIAN." Karena terus didesak maka Abu Bakar pun berpesan, agar pemerintahannya terus dikontrol. Ia mengunci pidatonya dengan berkata,"TAATILAH AKU SELAMA AKU TAAT PADA ALLAH DAN RASULNYA." Selama memerintah, Khalifah Abu Bakar, hanya bersedia menerima gaji dan fasilitas jabatan yang pas-pasan saja. Kalaulah tidak dilarang karena bakal menimbulkan konflik kepentingan dan fitnah, ia lebih suka berdagang sendiri untuk menafkahi keluarganya. Ketika mendapati istrinya sempat menabung dari sisa uang belanja, Abu Bakar terkejut. Ia langsung meminta pengurangan gaji sebagai kepala negara. Menjelang wafat, beliau berpesan kepada Abdurrahman putranya,"Aku sudah bilang kepada Umar kalau aku tidak mau makan harta kaum muslimin. Tapi dia memaksaku menerima gaji dari Baitul Maal selama aku menjadi Khalifah. Aku telah menerima gaji 8000 dirham selama memerintah,tolong kembalikan semuanya ke Baitul Maal." Setelah Abu Bakar wafat, Abdurrahman menyampaikan wasiat ayahnya kepala Khalifah Umar. Ia menyerahkan ke kas negara uang sebesar 8000 dinar berikut fasilitas yang pernah diterima Khalifah Abu Bakar berupa seorang budak, seekor unta, dan sebuah permadani usang. Maka menangislah Khalifah Umar seraya berkata:"Semoga Allah memberkati Abu Bakar. Sungguh, ia telah mempersulit para khalifah penggantinya." Setelah memaparkan berbagai data mengenai bencana alam di Indonesia, Ridwan Saidi mencoba mengutip pernyataan Andre Vitchek, novelis dan senior fellow di Oakland Institute Amerika Serikat yang menulis esai panjang dan dimuat dua koran internasional, The International Herald Tribune dan The Financial Times edisi 12 Februari 2007. Judul tulisan itu cukup dramatis:"Indonesia:Natural Disaster or Mass Murder," terjemahannya Bencana atau Pembunuhan Massal, dengan isinya yang memuat miris. Vitchek memaparkan, berbagai bencana yang terjadi di Indonesia sesungguhnya dapat dicegah terjadinya. Atau paling tidak diminimalisir dampak buruknya. Tapi upaya pencegahan ini dia nilai tidak ada. Bahkan menurutnya yang terjadi adalah pembiaran terhadap potensi-potensi berbahaya. Di balik wajah buram itu, Vitchek menuding Bangsa Indonesia sebagai bangsa yang berkarakter buruk.'KEHIDUPAN BERNEGARA DI INDONESIA DEWASA INI DIDORONG OLEH SEMANGAT MENCARI UNTUNG DALAM BENTUKNYA YANG PALING EKSTRIM. IA JUGA MERUPAKAN SALAH SATU DARI BANGSA YANG PALING KORUP DI MUKA BUMI. DAN KELIHATANNYA TIDAK ADA KEUNTUNGAN CEPAT YANG DAPAT DIPEROLEH DARI MENGAMBIL LANGKAH_LANGKAH PREVENTIF TERHADAP BENCANA ALAM INI," tulis Vitchek.

CERAMAH TOKOH DR.RADJIMAN WEDYODININGRAT

CERAMAH TOKOH DR.RADJIMAN WEDYODININGRAT
Dr.Rushdy Hoesein (Kiri), Dasman Djamaluddin,SH,M.Hum (Tengah), Prof.Dr.dr. Retno Widowati Soebaryo/Kanan (Cucu Pak Radjiman)

SUPERSEMAR TAK MUNGKIN JADI SUMBER PENELITIAN

Oleh Dasman Djamaluddin

Ketika beberapa naskah kuno dan daun lontar akan didaftarkan menjadi warisan sejarah bangsa, saya bangga karena Indonesia memiliki sumber-sumber penelitian sangat banyak. Boleh jadi para peneliti dari dalam dan luar negeri tidak menemui kesulitan untuk menulis penelitiannya tentang Indonesia. Bahkan baru-baru ini Guru Besar Sosiologi Universitas Gajah Mada Sunyoto Usman, menyatakan hendaknya perguruan tinggi di Indonesia mengembangkan ilmu-ilmu berbasis keindonesiaan.

"Tak semua ilmu dan metodologi yang dikembangkan Barat bisa digunakan untuk melihat kondisi Indonesia... akibatnya, perguruan tinggi Indonesia tertinggal dari perguruan tinggi asing yang telah lama mengembangkan ilmu tersebut.," ujarnya. Di bahagian lain Ketua Pusat Studi Pancasila Universitas Gajah Mada Sindung Tjahyadi mengatakan, lemahnya pengembangan ilmu juga dipicu oleh perguruan tinggi yang semakin berorientasi pada pasar. Hanya ilmu yang diminati masyarakat yang diperhatikan. Ilmu-ilmu yang tak diminati pasar akhirnya tak dikembangkan.

Itu kalau berbicara mengenai naskah-naskah kuno, tetapi kalau kita berbicara mengenai sejarah mutakhir, misalnya tentang data mengenai Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) tahun 1966 apa yang bisa kita peroleh? Jawabannya tidak ada, karena surat asli yang akan menjadi dasar sebuah penelitian, tidak ada. Kalaulah ada, seorang peneliti tidak langsung percaya. Masih ada sederet pertanyaan yang harus diajukan, diuji. Pertama, apakah sumber yang diperolehnya itu otentik (asli). Kedua, apakah sumbernya shahih, sah dan benar (validity),Ketiga, apakah terpercaya, sungguh-sungguh benar (realibility_ dan kuat (perihal dapat dipercaya tadi?kredebility) ?

Oleh karena itulah saya menyimpulkan, Supersemar itu tidak akan pernah menjadi sumber penelitian, karena surat aslinya tidak ada. Jika sejarah Indonesia mengalami hal seperti ini, mulai dari mana kita mengembangkannya? Bagaimana pula kita akan mengembangkan Ilmu Keindonesiaan buat generasi-generasi yang berikutnya, karena kita tidak memberikan data yang lengkap mengenai Indonesia itu sendiri?


AKAN TERBIT

AKAN TERBIT
ALASAN MENULIS BUKU INI. Menulis membutuhkan seni tersendiri. Dibutuhkan sebuah pengalaman agar sebuah tulisan bisa menyatu dengan apa yang ditulis. Sudah tentu dibutuhkan data yang otentik agar tulisan yang kita sajikan tidak memunculkan polemik di kemudian hari atau menjadi bahan olok-olok karena tidak tersedianya data yang cukup. Setelah itu pula patut kita pertanyakan, siapa yang kita tulis. Karena menulis hanya sekedar menulis, sudah tidak asing lagi bagi kita. Tetapi menulis seorang tokoh yang mampu kita hadirkan sebagai panutan generasi berikutnya akan memiliki nilai-nilai tersendiri buat kemajuan bangsa dan negara. Saya kali ini dihadapkan dengan seorang tokoh militer yang sejak awal kemerdekaan telah berjuang untuk bangsa dan negara Republik Indonesia, yaitu Bapak Rais Abin. Perjalanan yang dilalui beliau sungguh berliku-liku, menyelundupkan senjata demi perjuangan kemerdekaan, menjadi militer karena panggilan jiwa, lebih dari itu, berhasil menjadi Panglima Pasukan Perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), di dalam Unitred Nations Emergency Force (UNEF) II, 1 Januari 1977, dalam hal mana pasukan ini dibentuk Majelis Umum PBB berdasarkan Resolusi 1001 (ES-I) tanggal 7 November 1956. Tugas pasukan pimpinan Rais Abin ini untuk memantau Perjanjian Gencatan Senjata tanggal 4 September 1975 di perbatasan kedua negara antara Mesir dan Israel. Sebelumnya kedua negara ini terlibat dalam Perang Sinai, di mana Israel dengan dibantu langsung oleh Perancis dan Inggris melancarkan serangan terhadap Mesir pada tanggal 29 Oktober 1956. Pada waktu ini Israel berhasil mencaplok Sinai, sementara Inggris dan Perancis menguasai Terusan Suez. Sudah tentu untuk menjadi Panglima pasukan badan dunia tersebut tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dibutuhkan kriteria-kriteria terukur agar bisa diterima menjadi seorang Panglima. Berbagai tahapan harus dilakukan. Mulai dari menilai tokoh yang akan dicalonkan sebagai Panglima oleh Sekretaris Jenderal PBB dan pembantunya, persetujuan pihak yang bersengketa dalam hal ini Mesir dan Israel, persetujuan dari seluruh negara-negara penyumbang kontingen hingga persetujuan kelima anggota tetap Dewan Kemanan PBB. Apabila salah satu syarat tidak terpenuhi, maka pencalonan gagal. Menarik untuk disimak adalah persetujuan Israel terhadap pencalonan Rais Abin sebagai Panglima UNEF II, karena sejak awal Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik dengan negara Yahudi tersebut berkaitan dukungan penuh terhadap perjuangan Bangsa Palestina untuk memperoleh wilayahnya kembali dan menjadikannya negara merdeka dan berdaulat. Sejauh ini orang boleh saja menggantikan posisi Rais Abin sebagai Duta Besar, Ketua Umum LVRI, dan jabatan-jabatan lain yang pernah dipegangnya, tetapi satu hal yang perlu dicatat, adalah bahwa belum ada lagi orang Asia atau Indonesia menduduki posisi sebagai Panglima dalam Pasukan Perdamaian PBB. Sekarang, beliau masih tercatat sebagai orang Indonesia dan Asia pertama sebagai Panglima pasukan cinta damai itu. Sudah tentu dengan harapan, hal tersebut bisa terulang kembali, karena bukan saja menaikkan harkat dan martabat bangsa di Asia dan Dunia Internasional, tetapi lebih meyakinkan lagi kepada dunia bahwa Bangsa Indonesia dengan memimpin pasukan perdamaian adalah bangsa yang betul-betul cinta damai. Alasan-alasan inilah yang kemudian menjadi latar belakang kenapa buku ini ditulis. Dasman Djamaluddin. BUKU INI JUGA DIPERKAYA DENGAN KOMENTAR_KOMENTAR Jenderal TNI (Purn) H.Try Sutrisno, (Mantan Wakil Presiden RI),Laksamana TNI (Pur) Soedomo (Mantan Pangkopkamtib), Letjen (Purn) Himawan Soetanto, Jenderal Polisi (Pur) Awaloedin Djamin (Mantan Kapolri), Salim Said (Pengamat Militer),Achmad Mubarok (anggota MPR Fraksi Utusan Golongan 1999-2004, sekarang Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Demoktrat), Hariyadi B.Sukamdani (anggota MPR Fraksi Utusan Golongan 1999-2004, sekarang Wakil Komisaris Utama PT.Hotel Sahidjaya Internasional), Ahmad Zacky Siradj ( anggota MPR Fraksi Utusan Golongan 1999-2004) dan Fikri Thalib (Ketua Dewan Nasional Penyandang Cacat Indonesia)

SUARA DARI PAPUA

Subuh ini saya merasa terhibur membaca email nostalgik dari Bang Dasman. Hahaha. Bagian pertama, ia masih ingat betul bilangan tahun saat beliau jadi 'pejabat' HMI di Jayapura. Hormat Pak Ketua LHMI. Satu hal yang Bang Dasman tidak boleh lupa, di periode anda inilah LHMI menandatangani sebuah kerjasama 2 Tahun dengan Dewan Mahasiswa Sekolah Tinggi Teologia Kristen GKI. Sejumlah diksusi dan bakti sosial di gagas. Sampai kemudian dihentikan oleh Pangdam XVII Cenderawasih, Brigjend C.I. Santoso lantaran teman" akan menggelar kajian bertema komunis di Indonesia.Buah dari kerjasama HMI - STT GKI inilah yang terus memberi inspirasi bagi kerjasama serupa saat ini. Ini pula yang membuat kawan" Pendeta GKI, Baptis dan Kingmi begitu getol mendukung Muktamar I Majelis Muslim Papua. Sebuah gagasan kerjasama lintas agama, telah diletakan pada semangat anak" muda, waktu itu.
Satu hal yang kami ingin Bang Dasman serta kawan" lainnya mau bantu kasi dukungan, pikiran adalah kenyataan bahwa biarpun di kampung" adat orang Papua yang muslim ini ada Masjid/langgar, tetapi disetiap Jumat atau Ramadhan misalnya nyaris tidak ada Shalat Jumat lantaran tdk ada Imam. Atau terpaksa mereka harus cari dan gunakan Imam seadanya. Itu sebabnya, MMP merancang pembukaan Sekolah Imam di Tanah Papua. Semacam seminari Islam. Satu program pendidikan 5 tahunan (SMA-Dipl 2) yang sengaja diabdikan untuk mencetak Imam-Imam yang diambil dari komunitas muslim dari setiap kantong pemukiman dan kelak harus kembali hidup bersama realita sosialnya. Imam dalam orientasi pendidikan ini, tidak terbatas memimpin shalat, urus jenazah saja, tetapi Imam dalam cakupan luas. Termasuk, pengembangan ekonomi, budaya, lingkungan sampai pada pembelaan HAM dan Hak" dasar...
Kira" inilah catatan kecil menyambut tulisan nostalgia dari Pak Dasman. Saya ingan betul, waktu itu saya jadi Sekretarisnya dan sering kena marah. Pace Dasman ini jugalah yang ajari saya mengetik (pake mesin tik tua), konsep surat" HMI dll. Itu sangat menolong, terutama sejak tahun 2000 terpilih menjadi Sekretaris Jenderal Dewan Papua. Thanks....
Akhirnya, saya usul. Sebagai seorang yang selalu menulis sejarah, Pak Dasman harusnya tidak boleh lupa bahwa satu saat di tahun 1978, Pengurus cabang pernah beberapa kali meningirim surat ke PB HMI dengan memakai stempel warna Merah...., katanya biar kelihatan menyala bagus, padahalsebenarnya lantaran kita semua belum paham HMI. Sampai Bang Rasyid Bansok, Bang Zacky Siradj dan Bang Karmin datang barulah mereka perbaiki anak" cabang Jayapura punya isi kepala tentang HMI.
Kita semua memang berhutang banyak pada HMI. Salam hangat
Wassalam
Thaha Moh, Alhamid

Me at University of Indonesia (1996)

Me at University of Indonesia (1996)
I AM GIVING INFORMATION TO NEW STUDENTS OF FACULTY OF LAW UNIVERSITY OF INDONESIA IN JAKARTA

KAMPANYE CALON KETUA ILUNI FHUI, 10 JULI 2008

“‘Bila tua nanti kita telah hidup masing-masing ingatlah hari ini”, demikian potongan lirik dari lagu berjudul ‘ingatlah hari ini’ dari Project Pop. Ternyata lirik tersebut dapat dinyanyikan untuk para alumni FH UI yang kembali berkumpul dalam suatu acara bertajuk “warming up party” di Bugs Café, Pondok Indah (10/7). Usia tak akan menjadi hambatan dalam sebuah kenangan akan persahabatan…

Pada Hari Kamis, 10 Juli 2008 di Bugs Café Pondok Indah telah diadakan acara kampanye calon ketua ILUNI Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FHUI). Acara tersebut dihadiri oleh alumni FHUI dari berbagai angkatan. Adapun lima calon ketua ILUNI FHUI yang terdaftar yaitu:

Dasman Djamaluddin, S.H., M.H.
Pria kelahiran Jambi, 22 September 1955 ini merupakan alumnus FH UI program ekstensi angkatan 1995. Setelah lulus pada tahun 2003, ia melanjutan pendidikan di FIB Ui jurusan ilmu sejarah. Dasman bekerja sebagai pimpinan redaksi majalah Fakta dan Hukum, direktur eksekutif LPSS (Lembaga Pengkajian Sejarah Supersemar). Sosoknya yang pendiam ternyata ramai dalam prestasi khususnya karya berupa buku dan tulisan, salah satu bukunya yang terkenal adalah Jenderal TNI Anumerta Jenderal Basoeki Rachmat dan Supersemar. Dasman mengatakan perasaannya saat dicalonkan sebagai alah satu kandidat cukup berbangga bahkan ini merupakan pencalonan ketiga kalinya untuk menjadi calon ketua ILUNI. ” Saya tidak mempersoalkan menang atau kalah” ujar Dasman saat ditanya mengenai kansnya sebagai pemenang diantara kelima kandidat. Singkat kata, Dasman merupakan sosok alumni FH UI yang ingin memimpin ILUNI untuk menjadi lebih baik lagi di kemudian hari dan ILUNI FH UI kelak dapat merangkul semua angkatan tanpa hanya terpusat di satu angkatan.

DR. Chandra Motik Yusuf, S.H., M.Sc.

Chandra Motik merupakan nama yang familier di telinga namun siapakah Chandra Motik?
Ia adalah sosok wanita feminim tercantik diantara kelima kandidat tentunya karena ia merupakan satu-satunya kandidat wanita, yang terkenal dengan rambutnya yang indah. Chandra Motik bekerja sebagai penasehat ahli kepala staf TNI AL bidang maritim dan hukum dan sebagai legal consultants law firm miliknya. Chandra Motik terpilih menjadi salah satu kandidat setelah melalui perbincangan ringan dengan para sahabatnya yang zaman mahasiswa dahulu merupakan gank warung senggol. Dari perbincangan itu lah muncul ide untuk mencalonkan dirinya yang datang dari para sahabat. Visi seorang Chandra Motik terhadap ILUNI adalah bagaimana kelak ILUNI FH UI dapat menjadi wadah berkumpulnya para alumni FH UI yang solid dan bersatu.

Asrul Harun, S.H., M.Kn.
Pria murah senyum yang saat warming up party datang mengenakan jas rapi ini merupakan salah seorang alumni FH UI dari angkatan 1995. Asrul lahir di Medan, 23 Oktober 1948 dan kini ia berprofesi sebagai pengusaha dan konsultan hukum di ”ASA” law firm Jakarta. Asrul berbangga hati karena dapat dicalonkan sebagai salah satu kandidat calon ketua ILUNI oleh beberapa rekannya semasa di FH UI dahulu. Sebagai calon kandidat Ketua ILUNI FH UI Asrul berpesan pada adik-adik mahasiswa FH UI untuk berpikir positif tentang dosen walau segalak apapun dosen itu. ”Jangan pernah berpikir tentang dosen killer, killer itu datang dari diri kita sendiri dan jangan pernah putus sekolah hanya karena biaya, selalu rajinlah belajar maka bantuan pasti akan datang” ujarnya di sela-sela warming up party.

Gandjar Laksmana Bonaprata Bondan, S.H., M.H.
Diantara kelima kandidat ketua ILUNI, Gandjar merupakan kandidat termuda. Pria kelahiran Pekalongan, 9 Februari 1971 yang akrab disapa bang Gandjar ini saat warming up party datang mengenakan training dan helm sepeda di tangan setelah menempuh perjalanan dengan menggunakan sepeda dari kampus UI menuju pondok indah. Gandjar yang berprofesi sebagai dosen di FH UI dan pengacara, sosoknya yang karismatik menyimpan segudang mimpi untuk ILUNI kelak. Visi seorang Gandjar untuk ILUNI adalah agar kelak ILUNI dapat menjadi organisasi yang mampu menjadi mitra pengembangan universitas.

Chudry Sitompul, S.H., M.H.
Sama halnya dengan Gandjar Laksmana, Chaudry Sitompul merupakan salah seorang kandidat Ketua ILUNI yang berprofesi sebagai dosen di FH UI. Chudry lahir di Jakarta, 12 Desember 1955 dan merupakan alumni FH UI dari angkatan 1986. Sama halnya dengan kandidat lainnya Chudry pun memiliki keinginan untuk memajukan ILUNI FH UI sebagai atu organisasi kealumnian yang memiliki sekretariat jelas dan bergerak sebagai penghubung antar alumni kelak.


Setiap calon masing-masing diberi waktu lima menit untuk melakukan kampanyenya. Bapak Djasman memperoleh kesempatan pertama untuk melakukan kampanye. Ini adalah kali kedua bagi Beliau mencalonkan diri sebagai calon Ketua ILUNI FHUI. Beliau mengungkapkan visinya bahwa Beliau ingin memangkas birokrasi dan menginginkan ILUNI FHUI memiliki kejujuran. Dalam kampanyenya, Bapak Djasman mengatakan bahwa Beliau adalah seorang penulis buku, Beliau juga memperlihatkan sebuah majalah yang bernama FAHUM (Fakta Hukum) yang dibuatnya bekerja sama dengan Mabes POLRI.

Usai Bapak Djasman melakukan kampanye, Bapak Choudry Sitompul atau lebih dikenal dengan Bang Ucok memperoleh giliran kedua untuk melakukan kampanye. Bang Ucok mengatakan bahwa Beliau tidak mau terlalu muluk-muluk asalkan workable, ”Saya ingin ILUNI FHUI menjadi organisasi yang berperan untuk mencapai cita-cita bangsa,” ujar pria yang saat ini tercatat sebagai Dosen Tetap FHUI. Kampanye ketiga disusul oleh Ibu Chandra Motik yang menjadi satu-satunya kandidat wanita dalam pencalonan Ketua ILUNI FHUI. Menurutnya, menjadi ketua ILUNI FHUI bukanlah tugas yang mudah, ”Ia harus bersedia mengorbankan materi, waktu, dan mau kerja keras.” Kandidat keempat calon Ketua ILUNI FHUI disusul oleh Gandjar Laksmana Bonaprapta Bondan yang sering dipanggil oleh mahasiswa Bang Gandjar. Uniknya, Bang Gandjar yang memang terkenal humoris ini datang menuju Bugs Cafe dengan menggunakan sepeda. Beliau mengusung tema Kebersamaan, Kebanggaan, dan Kehormatan dalam kampanyenya. Usai Bang Gandjar melakukan kampanya, disusul oleh Bapak Asrul Harun sebagai kandidat terakhir yang melakukan kampanye. Dalam kampanyenya, Beliau bersedia menyediakan kantornya untuk dijadikan sekretariat ILUNI FHUI.

Di sela-sela kampanye Tim Jurnalistik menyempatkan untuk melakukan wawancara dengan beberapa alumni FHUI. Bapak Teuku Nasrullah atau lebih dikenal dengan Bang Ullah dari angkatan ’82, praktisi hukum terkenal sekaligus pengajar Mata Kuliah Hukum Acara Pidana paling fenomenal di FHUI mengatakan bahwa acara seperti ini dapat menjadi sarana silaturahmi begitu para alumni lulus. Beliau mengaku bahwa setelah lulus kuliah, sulit sekali untuk dapat bertemu dengan teman-teman, ”ini dapat menjadi momentum untuk membangun UI ke depan dan memberi sikap,” ucapnya. Ketika ditanya mengapa Beliau tidak turut mencalonkan diri padahal begitu banyak alumni yang mendukungnya untuk maju, Beliau mengatakan, ”Saya tidak ikut mencalonkan karena Saya sadar diri, sadar kemampuan. Kalau hanya ingin sekedar memperoleh jabatan, Saya mungkin dapat ikut. Akan tetapi, kalau dilihat dari segi motivasi, Saya tidak punya kemampuan untuk itu.” Beliau juga menambahkan bahwa seorang Ketua ILUNI FHUI harus bersedia mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, dan biaya. ”Saya merasa masih terbatas baik waktu, tenaga, pikiran, apa lagi biaya.” ujarnya sambil tertawa dan mengatakan bahwa tidak menuntup kemungkinan bila Beliau ikut untuk pencalonan ILUNI FHUI ke depan. Menurutya, seorang Ketua ILUNI FHUI harus memiliki keluasan jaringan dan siap berkorban.

Mba Dayu dari angkatan’77 yang masih terlihat cantik dan muda mengatakan hal senada bahwa acara ini dapat menjadi sarana untuk silaturahmi, bertemu teman-teman lama, dan membangun network, ”Oppurtunity always come from relationship, buat saya FHUI seperti keluarga kedua,” ucapnya sambil tersenyum. Ketika ditanya mengenai calon ketua ILUNI FHUI, mba Dayu mengatakan bahwa semua calon memiliki konsep dan visi yang baik hanya tinggal dihayati dan direalisasikan. Mba Dayu juga berharap agar ILUNI FHUI memiliki peran dalam berbagai isu hukum baik nasional dan internasional. Beliau amat menyayangkan bahwa ILUNI FHUI terutama akademisi selama ini kurang berperan serta dalam merumuskan isu hukum secara bersama-sama seperti UU Pos, UU ITE, dan UU lain yang amat sangat berperan penting dalam mewarnai transaksi kita.

Bang Budi dari angkatan ’98 mengatakan bahwa tujuannya datang ke kampanye ILUNI FHUI adalah untuk bertemu dengan teman-teman dan senior-senior. Bang Budi mengaku bahwa tempat pertemuan ini dekat dengan kantor dan rumahnya, akan tetapi Ia akan lebih senang lagi kalau pertemuan semacam ini diadakan di Kampus FHUI. Bang Budi berharap agar Ketua ILUNI FHUI yang terpilih merupakan orang yang peduli dengan ILUNI, almamater, serta realistis. (AQ/CK/DA)

ISLAM DI PAPUA

Oleh Dasman Djamaluddin

Ketika saya menjadi Sekretaris I HMI Cabang Jayapura (1977-1978) dan Ketua Umum LHMI-HMI Cabang Jayapura (1978-1979 dan 1979-1980) banyak memang pengalaman menarik di Bumi Cenderawasih itu, terutama dalam hal kerukunan beragama. Pada waktu itu saling menghormati sangat terasa meski Islam adalah minoritas.Di Papua kebanyakan warga Muslim berasal dari para pendatang, Makasar dan daerah-daerah sekitarnya di samping banyak pula warga asli yang memeluknya.


Menurut sumber yang saya terima dari Majelis Muslim Papua (MMP), sekarang ini penduduk pribumi (masyarakat asli) Papua yang memeluk Islam tersebar di kantong-kantong pemukiman "tradisional" sekitar kawasan Pesisir di bagian barat ke selatan (Raja Ampat, Teluk Bintuni, Babo, Inanwatan, Kokoda, Kokas, Fakfak, Kaimana, Teluk Arguni sampai Kayu Merah di Distrik Teluk Etna). Di kawasan Budaya Animha (Merauke), walaupun tidak banyak, namun terdapat juga komunitas Muslim Papua di Okaba dan Asmat. Demikian pula di Pegunungan Tengah, mereka berasal dan tinggal di Walessi, Hitigima, Air Garam dan di bebarapa perkampungan asli sekitar Lembah Baliem.


Dalam berbagai laporan para ahli dan seminar-seminar menunjukkan bahwa sebelum agama-agama besar lainnya datang ke Papua, Islam sudah lebih awal masuk ke Papua. Sebagaimana hal ini dilaporkan seorang Antropolog Papua Dr.J.R. Mansoben (1977):"Agama besar pertama yang masuk ke Irian Jaya (Papua) adalah Islam." Menurut Van der Leeder (1980,22), agama Islam masuk di kepulauan Raja Ampat atas pengaruh dari Kesultanan Tidore tidak lama sesudah agama tersebut masuk di Maluku pada Abad XIII.


Maka tidaklah mengherankan bila kedatangan Missionaris Kristen paertama justeru diantar oleh Muballigh Islam (Muhammad Arfan: Penduduk Asli Raja Ampat) utusan dari Kerajaan Tidore pada 5 Februari 1855 di sebuah Pulau Kecil Mansinam di perairan Manokwari. Dua Missionaris dari Jerman itu adalah C.W.Ottow dan G.J.Geisseir.


Di bagian lain Papua yakni di daerah Pegunungan Tengah Papua, Islam juga berkembang dan dianut oleh masyarakat pribumi. Pusat perkembangan Islam di daerah pegunungan ini berada di Kampung Walesi Kabupaten Jayawijaya yang kemudian menyebar ke 12 kampung lain disekitarnya. Pada tahun-tahun 1960-an akhir pasca istegrasi, penduduknya telah menganut Agama Islam. Kampung-kampung itu adalah Hitigima, Air Garam, Okilik, Apenas, Jagara, Ibele, Araboda,Megapura, Pasema, Mapenduma, Kurulu dan Pugima.

Kampung Walessi yang berasda di Distrik Wamena Kabupaten Jayawijaya ini dikenal sebagai "Perkampungan Muslim Tertinggi di Dunia" berada pada ketinggian 3000 di atas permukaan air laut dengan suhu rata-rata 14 - 26 Derajat Celcius. Kampung Walesi menjadi pusat pengembangan dan dakwah Islam "Islamic Center" bagi daerah-daerah sekitarnya di Pegunungan Tengah Papua.


Tahun 1974 mencuat berita mengejutkan, yaitu masuk Islamnya "Kepala Suku Perang" Aipon Asso. Keislaman Aipon Asso diikuti oleh 600 orang warganya di Desa Walesi. H,Aipon yang waktu itu sudah berusia 70 tahun menjadi kepala suku yang sangat disegani di seluruh Lembah Baliem. Wilayah kekuasaannya membentang hampir 2/3 cekungan mangkuk Lembah Baliem.


Dia benar-benar sosok kepala suku Muajahid yang sangat diperhirungkan di kawasan ini. Bahkan ketia dia baru pulang dari menunaikan ibadah haji (1985), dengan mengenakan surban dan baju gamis panjang, secara demonstratif dia turun ke jalan dan melakukan pawai di pusat Kota Wamena sambil mengerahkan ratusan warganya yang masih mengenakan koteka dan bertelanjang dada.


Teringatlah kita pada kisah sahabat Nabi Muhammad yakni Umar bin Khattab ketika akan melakukan hijrah dari Mekah ke Madinah yang tingkah lakunya tanpa sembunyi-sembunyi dan tanpa ada rasa takut.

Tahun 2007, AiponAsso sempat hadir di Jayapura untuk mengikuti Muktamar I Majelis Muslim Papua pada tanggal 10 - 13 April 2007. Setelah acara itu, beliau pulang ke Jayawijaya dan segera mengundang seluruh muslim Jayawijaya untuk membentuk Majelis Muslim Papua wilayah kabupaten Jayawijaya. Musyawarah Wilayah Majelis Muslim Papua memberikan amanah kepada H. Aipon Asso sebagai Ketua Dewan Ukhuwah Majelis Muslim Papua Wilayah Jayawijaya. Sebelum dilantik, dia terlebih dahulu dipanggil Sang Khalik untuk menghadap selama-lamanya.


CERAMAH TOKOH Dr.KRT RADJIMAN WEDYODININGRAT

CERAMAH TOKOH Dr.KRT RADJIMAN WEDYODININGRAT
Dr.Rushdy Hoesein (Kiri), Dasman Djamaluddin,SH,M.Hum (Tengah), Prof.Dr.dr.Retno Widowati Soebaryo,SpKK(K)/Kanan (Cucu Pak Radjiman)

EDUCATION DISCUSSION

EDUCATION DISCUSSION
From Left to Right: H.LARDI (Division Head of Management of Senior and Junior High School DKI Province), DASMAN DJAMALUDDIN (Journal of Indonesia Diplomatic/Historian), TIKA BISONO (Psycholog) and SHAFA TASYA KAMILA (Actress)

MAKNA KEHADIRAN Hj.BRA MOORYATI SOEDIBYO

MAKNA KEHADIRAN  Hj.BRA MOORYATI SOEDIBYO
Dr.Rushdy Hoesein (Kiri), Dasman Djamaluddin,SH,M.Hum (Tengah), Prof.Dr.dr.Retno Widowati Soebaryo,SpKK (K)/Kanan (Cucu Pak Radjiman) dan berdiri Hj.BRA Mooryati Soedibyo

MAKNA KEHADIRAN MOORYATI SOEDIBYO DI ACARA RADJIMAN WEDYODININGRAT

Ceramah Tokoh Radjiman Wedyodingrat: "Pemikiran dan Perjuangannya," di Museum Perumusan Naskah Proklamasi (bekas Rumah Maeda ) pada Selasa, 29 Maret 2011 telah berjalan dengan baik. Menariknya acara ini dihadiri pula Mooryati Soedibyo, Wakil Ketua II Majelis Permusyawaratan Rakyat, Presiden Direktur Mustika Ratu, sekaligus Cucu Sri Susuhan Pakoe Boewono X Keraton Surakarta.

Kehadiran Mooryati yang nama lengkapnya Hj.BRA.Mooryati Soedibyo,SS.,M.Hum itu menunjukkan bahwa jati diri Dr. K.R.T. Radjiman Wedyodiningrat patut menjadi teladan generasi muda bangsa Indonesia. Putera bangsa yang lahir di Yogyakarta, 21 April 1879 – meninggal di Ngawi, Jawa Timur, 20 September 1952 pada umur 73 tahun ini adalah seorang dokter yang juga merupakan salah satu tokoh pendiri Republik Indonesia.

Rumah kediamannya yang sekarang telah menjadi situs sudah berusia 134 tahun. Begitu dekatnya Radjiman dengan Bung Karno sampai-sampai Bung Karno pun telah bertandang dua kali ke rumah tersebut.

Dr. Radjiman adalah adalah juga salah seorang pendiri organisasi Boedi Oetomo dan sempat menjadi ketuanya pada tahun 1914-1915.

Dalam perjalanan sejarah menuju kemerdekaan Indonesia, dr. Radjiman adalah satu-satunya orang yang terlibat secara akif dalam kancah perjuangan berbangsa dimulai dari munculnya Boedi Utomo sampai pembentukan BPUPKI. Manuvernya di saat memimpin Budi Utomo yang mengusulkan pembentukan milisi rakyat disetiap daerah Indonesia (kesadaran memiliki tentara rakyat) dijawab Belanda dengan kompensasi membentuk Volksraad dan dr. Radjiman masuk di dalamnya sebagai wakil dari Boedi Utomo.

Pada sidang BPUPKI pada 29 Mei 1945, ia mengajukan pertanyaan “apa dasar negara Indonesia jika kelak merdeka?” Pertanyaan ini dijawab oleh Bung Karno dengan Pancasila. Jawaban dan uraian Bung Karno tentang Pancasila sebagai dasar negara Indonesia ini kemudian ditulis oleh Radjiman selaku ketua BPUPKI dalam sebuah pengantar penerbitan buku Pancasila yang pertama tahun 1948 di Desa Dirgo, Kecamatan Widodaren, Kabupaten Ngawi. Terbongkarnya dokumen yang berada di Desa Dirgo, Kecamatan Widodaren, Kabupaten Ngawi ini menjadi temuan baru dalam sejarah Indonesia yang memaparkan kembali fakta bahwa Soekarno adalah Bapak Bangsa pencetus Pancasila.

Pada tanggal 9 Agustus 1945 ia membawa Bung Karno dan Bung Hatta ke Saigon dan Da Lat untuk menemui pimpinan tentara Jepang untuk Asia Timur Raya terkait dengan pemboman Hiroshima dan Nagasaki yang menyebabkan Jepang berencana menyerah tanpa syarat kepada Sekutu, yang akan menciptakan kekosongan kekuasaan di Indonesia.

Di masa setelah kemerdekaan RI Radjiman pernah menjadi anggota DPA, KNIP dan pemimpin sidang DPR pertama di saat Indonesia kembali menjadi negara kesatuan dari RIS.

Selain itu, adalah Dr.Radjiman yang sebelumnya memperkenalkan istilah yang diucapkan Presiden Amerika Serikat JF Kennedy, :" Jangan pernah tanya apa yang diberikan Negara kepadamu, tetapi tanyalah apa yang Kamu berikan kepada Negara."

Pada saat acara berlangsung, banyak di antara peserta mengusulkan Dr.Radjiman diusulkan sebagai Pahlawan Nasional. Keluarga Dr.Radjiman sedikit keberatan kalau usulan datang dari pihak keluarga, karena Dr.Radjiman tidak pernah meminta balas jasa. Tetapi mendukung kalau ada di antara bangsa Indonesia mengusulkannya.Sudah tentu saya adalah salah seorang yang ikut mengusul.

IBU AINUN HABIBIE

IBU AINUN HABIBIE
SAAT PAK HABIBIE MENCIUM IBU

WAKIL PRESIDEN BOEDIONO DI ACARA SETAHUN WAFATNYA IBU HASRI AINUN HABIBIE

Tanggal 25 Mei 2011 malam merupakan kesempatan bagi keluarga besar Ikatan Cendikiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) dan organisasi Islam lainnya memanjatkan do'a kepada Almarhumah Dr.Hj.Hasri Ainun Habibie. Sebelumnya acara yang sama pun telah dilakukan yang dihadiri Bapak Presiden RI Soesilo Bambang Yudhoyono.Saya mewakili Orda Depok ikut bergabung dengan para undangan lainnya dan pergi bersama Sekretaris Dewan Penasehat Majelis Pimpinan Pusat ICMI Ahmad Zacky Siradj yang juga adalah mantan Ketua Umum PB.HMI ke rumah Bapak BJ.Habibie di Patra Kuningan.

Acara didahului sholat maghrib dan dilanjutkan do'a bersama untuk Ibu Hasri Ainun Habibie.Sehabis Isya muncullah Bapak B.J.Habibie dengan didampingi Bapak Wakil Presiden RI Prof.Dr.Boediono.M.Ec. Bagi saya ini pertamakalinya melihat langsung penampilan Bapak Habibie setelah Ibu Hasri Ainun wafat pada hari Sabtu, tanggal 22 Mei 2010, pukul 17.30 waktu Jerman, di Rumah Sakit Muenchen, Jerman karena sakit.

"Tegar dan tetap memiliki otak yang cerdas," sebagaimana sebelumnya.Beliau mengungkapkan liku-liku perjalanan jenazah yang pada waktu wafatnya Ibu Ainun bertepatan dengan hari libur di Jerman. Hari Sabtu, tanggal 22 Mei, Minggu, 23 Mei, Senin, 24 Mei hingga Selasa, 25Mei 2010.

"Saya minta bantuan sebuah organisasi Islam Internasional, di mana saya ICMI ikut membidaninya. Pada waktu itu ada 6 organisasi Islam dunia ikut menanda tangani berdirinya Organisasi Islam Internasional itu. Di tandatangani di depan Ka'bah, Arab Saudi sebuah hal yang tidak terpikirkan sebelumnya," ujar Habibie penuh semangat seraya menyatakan mengapa harus ditandatangi di depan Ka'bah. Maksudnya agar saksinya hanya Allah. Habibie boleh tidak ada, siapa pun boleh tidak ada, tetapi Allah akan menjadi saksi pendirian organisasi itu.

"Pada waktu itu ketuanya saya kontak dan beliaulah yang mengumpulkan anggota Muslim di Eropa karena memang Muslim di tempat saya tinggal pun minoritas."

Habibie juga menjelaskan bahwa jenazah di luar negeri dianggap juga sebagai barang oleh karena itu memakai paspor jenazah. "Maksudnya agar jangan ada hal-hal tidak diinginkan misalnya berlabel jenazah tetapi diselundupkan barang-barang yang dilarang," ujar Habibie.

Pada waktu itu Pak Soesilo Bambamg Yudhoyono dan Pak Boediono ikut membantu pemulangan jenazah, mulai prosesi pemulangan jenazah hingga pemakaman di Taman Pahlawan Kalibata, Jakarta. Diceritakan pula oleh Pak Habibie, beliau akan tetap berada di dekat isterinya, meski tidak harus di Taman Makam Pahlawan. Untuk itulah Pemerintah sudah menyiapkan satu makam kosong di samping makam Ibu Ainun.

Pada saat Wakil Presiden Boediono mengucapkan sambutan, beliau merasa sangat berterimakasih dan kaget, yaitu ketika Pak Habibie menjadi Presiden, ia ditunjuk sebagai menteri pada tahun 1998. "Ini merupakan jabatan saya pertama kali sebagai menteri, entah apa kreterianya sehingga saya terpilih sebagai menteri," ujar Pak Boediono. Pada waktu ini Pak Boediono diangkat dalam Kabinet Reformasi Pembangunan sebagai Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional .

Yang menarik untuk disimak lagi adalah bahwa para anggota ICMI bisa melihat dua tokoh ICMI antara ayah dan anak duduk sejajar, di mana kedua-duanya punya pengaruh besar terhadap perjalanan ICMI. Pak Habibie sendiri di masa Presiden Soeharto dan Ilham Akbar Habibie yang baru-baru ini terpilih sebagai Ketua Presidium ICMI. Tujuan ICMI ke depan pun berbeda dengan di masa Presiden Soeharto, sekarang menurut Ilham Akbar Habibie,kader ICMI harus menciptakan program yang dirasakan masyarakat lapisan bawah (akar rumput).

















NOSTALGIA PENGURUS HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM (HMI)

NOSTALGIA PENGURUS HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM (HMI)
Dari kiri: DASMAN DJAMALUDDIN (Sekretaris I HMI Cabang Jayapura 1977-1978, Ketua Umum LHMI HMI Cabang Jayapura 1978-1979 dan 1979-1980, Ketua Umum LHMI HMI Cabang Padang 1980-1981. AHMAD ZACKY SIRADJ (Ketua Umum PB HMI 1981-1983. KHAIMUDDIEN ACHMAD (Ketua Umum HMI Cabang Jayapura 1977-1978)

Ridwan Saidi dan Dasman Djamaluddin (April 2010)

Ridwan Saidi dan Dasman Djamaluddin (April 2010)
Ridwan Saidi (mantan Ketua Umum PB.HMI 1974-1976) berbicang dengan Dasman Djamaluddin, termasuk membicarakan Tragedi Tanjung Priok.

ACHMAD TIRTOSUDIRO

ACHMAD TIRTOSUDIRO
ACHMAD TIRTOSUDIRO

ACHMAD TIRTOSUDIRO MENGENANG SEORANG PRAJURIT PENGABDI

Innaa lillahi wa innaa ilaihi rojiun

Telah wafat Bapak Achmad Tirtosudiro, Rabu, 9 Maret 2011 Pukul 00.15 WIB dalam usia 89 tahun.Dimakamkan di Tanah Kusir, sebelah makam ibu, pukul 14.00 WIB, berangkat dari Cinere.

Pesan singkat ini dikirim kepada saya pada pagi hari, Rabu 9 Maret 2011 oleh Achmad Zacky Siradj, mantan Ketua Umum Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Pesan ini mengingatkan kembali kenangan saya pada tahun 1992 sewaktu bertemu dengan Almarhum Bapak Achmad Tirtosudiro dalam rangka menyusun biografi beliau: Kenangan 70 Tahun Achmad Tirtosudiro.

Pak Achmad sebutan sehari-hari beliau, terakhir berpangkat Letnan Jenderal TNI AD/Infantri. Lahir pada tanggal 8 April 1922 di Plered, Purwakarta, Jawa Barat. Kesan mendalam yang saya alami ketika bertemu beliau beberapa kali adalah kedisiplinannya dalam segala bidang.

Pernah suatu ketika, saya bersama tim penulis lainnya berjanji bertemu Pak Achmad Tirtosudiro pukul 15.00 di Bandung. Kami pagi sekali telah berangkat dari Jakarta. Karena macet di Jakarta dari Bandung, terlambat sampai ke rumah beliau. Kami tiba pukul 15.05, jadi terlambat lima menit. Apa yang terjadi? Ajudannya bilang: "Pak Achmad sudah tidur dan jadual wawancara diatur kembali besok."

Itulah yang saya alami. Lima menit terlambat sudah tidak ada kompromi. Pak Achmad sosok yang disiplin, di samping konsisten.

Mendirikan Seskoad

Sebagai seorang militer, Pak Achmad antara tahun 1945-1947 sudah menjabat Komandan Kompi Tentara Republik Kereta Api (TRI-KA) di Bandung. Adalah Abdul Haris Nasution yang mendorong Pak Achmad terjun ke dunia militer. Sejak di Jawa Barat itulah karier militernya sungguh-sungguh dirintis.

Sewaktu bertugas di Cirebon, Pak Achmad meminta dengan sangat kepada Kepala Staf Divisi Siliwangi agar ia secepatnya dapat memperoleh kesempatan untuk mengikuti pendidikan (disekolahkan). Padahal waktu itu, orang-orang lain disekolahkan.

"Rasanya seperti disingkirkan karena tidak dibutuhkan,' ujar Pak Achmad masuk SSKAD tahap I (Sekolah Staf Komando Angkatan Darat). Kebetulan sekolah ini baru saja dipindahkan dari Cililitan (Jakarta) ke Bandung sehingga semua siswa saat itu disediakan kompleks baru. Menyelesaikan sekolah ini pada tahun 1954 dan diangkat oleh Pak Bambang Soegeng, ketika itu sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) sebagai Komandan Resimen XVIII Brawijaya. Pak Achmad satu-satunya lulusan waktu itu yang diangkat sebagai komandan resimen. Tahun 1956 hingga 1957 tugas belajar pada CGSC di Amerika Serikat. Sepulangnya di Tanah Air, KSAD, Abdul Haris Nasution memberi tugas dan mengangkat Pak Achmad sebagai Ketua Panitia pendirian Sekolah komando Angkatan Darat (Seskoad). Langkah awal waktu mendirikan sekolah ini mengumpulkan orang-orang yang pernah belajar di luar negeri, baik dari Jerman, India, Pakistan maupun Belanda. Mereka semuanya dilibatkan sebagai anggota Panitia. Seperti Sastraprawira lulusan HKS Belanda, Alibasa Satari lulusan India, Leo Lepolisa lulusan Pakistan, Yasin lulusan Rusia, Surono lulusan Fort Leavenworth, Kansas, Amerika Serikat dan Tambunan (mantan Gubernur Sumatera Utara dan mantan Panglima manado).

Kabulog Pertama

Tahun 1966 pada saat Indonesia sedang mengalami krisis pangan, Pak Achmad ditunjuk sebagai Kabulog (Kepala Badan Urusan Logistik). Kata Bulog ini jelmaan baru dari Kolognas (Komando Logistik Nasional). Kolognas pada waktu itu banyak memperoleh sorotan, malah mosi dari Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). Akhirnya kolognas dibubarkan karena dianggap tidak konstitusional. Pak Harto bilang,"Ya,bubarkan saja, itukan sudah menjadi keputusan MPR."

Di samping jabatan-jabatan yang dipegangnya di atas, Pak Achmad pernah menjabat Ketua G-7/Koti pada tanggal 18 Nopember 1965, Duta Besar RI di Bonn 1973-1976, Duta Besar RI untuk Saudi Arabia, Rep.Arab Yaman dan Kesultanan Oman pada 1982-1985.

Di samping itu, Pak Achmad merupakan salah seorang pendiri Himpunan Mahasiswa islam (HMI). Di dunia pendirikan pernah menjadi Rektor Universitas Bandung (UNISBA).Menguasai lima bahasa asing, Belanda (aktif),Inggris (aktif), Perancis (aktif), Jerman (aktif) dan Arab (pasif).

Tentang Pak Achmad, Habibie, mantan Presiden RI pernah berkomentar:

"Orang pernah bertanya kepada saya,'Pak Habibie, bagaimana sih caranya orang bisa jadi unggul seperti Pak Habibie?' Saya jawab,'Shalat lima waktu. Itulah yang saya lakukan.' Rupanya itu pulalah yang dilakukan Pak Achmad," ujar Habibie.

(Tulisan ini telah dimuat di Majalah Veteran Vol.I.N o.3. Maret 2011 hal.56-57. Sebahagian besar sumber diambil dari buku: Ahmad Zacky Siradj,Dasman Djamaluddin,Toto Izul Fatah, Kenangan 70 Tahun Achmad Tirtosudiro Profil Prajurit Pengabdi/Jakarta: PT.Intermasa, 1992)

ROSIHAN ANWAR

ROSIHAN ANWAR
ROSIHAN ANWAR

ROSIHAN TIDAK PERNAH MENJAWAB KOMENTAR B.M.DIAH

Rosihan Anwar, Tokoh Pers itu baru saja meninggalkan kita. Banyak hal menarik yang perlu diketahui sekitar tokoh yang satu ini. Bila beliau tidak berkenan maka tak mau berkomentar. Itulah yang saya amati sikap beliau terhadap B.M.Diah.

Rosihan Anwar, B.M.Diah dan Mochtar Lubis adalah Tokoh Pers di zamannya. Pada masa perjuangan, personal journalism sangat akrab dengan sebuah surat kabar. Secara signifikan tampil di muka khalayak dengan suara dan sikap yang seirama dengan pikiran, pandangan dan idealisme pemimpin redaksinya. Tak heran apabila suatu hari seseorang dapat saja menyebut bahwa Harian Pedoman identik dengan Rosihan Anwar, Harian Merdeka identik dengan B.M.Diah dan Harian Indonesia Raya identik dengan Mochtar Lubis.

Sekarang ketiga-tiga tokoh itu telah tiada. Berakhir sudah era tokoh personal journalism.Saya mencoba melihat sosok Rosihan Anwar dari sisi lain, yaitu ketika sebuah buku : B.M.Diah Wartawan Serba Bisa ditulis oleh Toeti Kakiailatu, Rosihan menyebut dengan jelas bahwa tulisan Toeti tidak berbeda dengan buku yang saya tulis: Butir-butir Padi B.M.Diah. Bahkan ditegaskan oleh Rosihan Anwar ketika Toeti menghampiri B.M.Diah beliau sedang sakit-sakitan. Faktanya Toeti banyak mengambil sumber dari buku yang saya tulis Butir-butir Padi B.M.Diah yang ditulis tahun 1992 ketika B.M.Diah masih sehat diusia 75 tahun.

Ketika pada hari Senin, 10 Juni 1996, Burhanudin Mohamad Diah atau lebih dikenal dengan singkat B.M.Diah meninggal dunia, yang juga dimakamkan di Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta, Rosihan Anwar menulis dan menyinggung permasalahannya dengan B.M.Diah. Tetapi tidak ingin berkomentar lebih lanjut. Di dua peristiwa inilah saya bisa melihat sosok Rosihan Anwar yang begitu memahami kapan dan bilamana beliau harus berkomentar.

Beberapa kutipan yang saya ambil dari buku saya: Butir-butir Padi B.M.Diah (hal 117 - 118) mengenai komentar B.M.Diah terhadap Rosihan Anwar yang tidak pernah dikomentari Rosihan hingga akhir hayatnya:

Surat Kabar Merdeka pada saat berikutnya begitu bebas menjadi pendorong pemikiran yang menghendaki suatu negara bersifat demokratis. Akibatnya, surat kabar ini selalu memunculkan ciri khasnya, meskipun harus bertentangan dengan kemauan Pemerintah Republik Indonseia, yang kala itu perdana menterinya dipercayakan kepada Sjahrir. Memang pada sat itu dilema bagi Merdeka, karena Sjahrir kelihatannya ingin bersedia berunding dengan pihak Belanda untuk mencapai kemerdekaan sesungguhnya bagi bangsa Indonesia. Sebaliknya Merdeka tidak menyetujui sikap Sjahrir tersebut, karena sejak lama surat kabar ini berpenderian anti Sekutu, tegasnya anti Belanda. Dan menghendaki kemerdekaan 100% bagi Indonesia. Tetapi Sjahrir sebaliknya sedia berunding dengan Belanda serta sedia melepaskan tuntutan kemerdekaan 100% itu !

Pola pikir yang bertentangan ini rupanya berpengaruh dalam tubuh Surat Kabar Merdeka sendiri. Saya (B.M.Diah) yang ingin tetap konsekwen menjalankan garis Merdeka harus sedikit sibuk menghadapi Rosihan Anwar yang ingin tetap mendukung sikap Sjahrir. Kala itu induk karangan Merdeka sudah menyimpang, bahkan simpang siur. Tidak konsekwen. Hari ini bersikap anti sikap Sjahrir, besoknya berubah menjadi mendukung. Hal ini tidak lain karena usaha Rosihan Anwar tersebut.

Adalah hal yang lumrah bila pendukung Sosialisme ide Sjahrir berusaha untuk mempunyai penerbitan sendiri agar di dalam menjalankan fungsinya tidak memperoleh hambatan. Inilah yang dilakukan Rosihan Anwar terhadap saya, yaitu berkeinginan sekali menguasai Surat Kabar Merdeka yang berarti harus terlebih dulu menyingkirkan saya. Pada bulan Juli 1946 pertentangan saya dengan Rosihan Anwar memuncak. Saya waktu itu baru saja pulang dari Jalan Imam Bonjol, rumah kediaman Konsul Jenderal Inggeris, menghadiri perundingan antara Sjahrir dan van Mook, setelah Soekarno-Hatta hijrah ke Yogyakarta (3 Januari 1946). Saya melihat ke bagian percetakan sambil menurunkan naskah laporan lengkap tentang perundingan antara Sjahrir sebagai Perdana Menteri Indonesia dengan Hubertus van Mook, Letnan Gubernur Jenderal Hindia Belanda di bawah pengawasan Inggeris, yang diwakili oleh Lord Killearn. Telah dipersiapkan pengumuman yang berupazetsel , bahwa saya diberhentikan mulai hari itu! Saya menganggap hal ini betul-betul telah telah merongrong kewibawaan Surat Kabar Merdeka yang berarti pula mendongkel saya melalui berita tersebut. Kemudian saya melakukan pemberseihan-pembersihan dengan memberhentikan Rosihan Anwar dan beberapa pengikutnya...

GUS DUR

GUS DUR
GUS DUR

KOMENTAR TULISAN SAYA "GUS DUR DAN PAPUA" DI WIKIMU:

Rabu, 18-05-2011 14:25:27 oleh: Reka Renhoran Gus Dur adalah tokoh Bangasa,Bapak Pularisme dan Pahlawa/nabi bagi kwum minoritas. sosok seperti Gusdur tidak akan kita temui lg di bawa kolom langit ini,semangat dan perjuangan beliau harus di teruskan dan di idiologiskan oleh kami generasi muda.kedekatan Gusdur dengan tokoh2 Papua memberikan isyarat bahan dukungan terhadap perjuangan orang Papua, ada yang salah dari pemahaman publik terkait Perjuangan Masyarakat Papua...Keadilan,kesejahtraan yg tidak dirasakan Masyarakat papua memaksa harus adanya gerakan perlawanan atau bisa dibilang gerkan untuk menuntut Hak orang Papua yg selama ini di sunat oleh Pemerinta Pusat, ketika adanya Pemerataan Pembangunan,pendidikan dan kesehatan yang sama antara pulaw jawa dan pulaw luar jawa dalam hal ini Papua Maluku dan NTT, maka yakin tidak akan ada gerakan Perlawanan terhadap Perintah.

TULISAN SAYA SEBELUMNYA:

GUS DUR DAN PAPUA

Thaha Al-Hamid, Sekretaris Jenderal Presidium Dewan Papua (PDP) itu tidak dapat menahan haru ketika berbicara mengenai sosok KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Dengan terbata-bata dan mata memerah dia mengambil tisu di atas meja dan menyeka air matanya. Thaha menganggap, Gus Dur sangat paham akan jati diri orang asli Papua.

Selama bergaul dengan Thaha, ketika dia menjadi sekretaris saya di Lembaga Hukum Mahasiswa Islam (LHMI/HMI) Cabang Jayapura, 1978-1979 dan 1979-1980, saya menilai Thaha adalah orang yang berprinsip, berani dan tegar. Orangnya sederhana, dan rendah hati. Oleh karena itu ketika saya melihat Thaha menitikkan air mata yang diliput oleh salah satu stasiun televisi nasional, saya pun tersentak untuk menulis.

Thaha yang tegar itu larut dalam suasana ketika menceriterakan kunjungan Gus Dur sebagai seorang Presiden RI ketika dia dan kawan-kawan ditahan. Pada kunjungannya di tahun 2000, Gus Dur sempat mengunjungi para anggota PDP di tahanan yang saat itu ditahan atas tuduhan makar. Beliau minta ke Kepala Kepolisian Daerah Papua yang waktu itu dijabat Pak Wenas.

"Lalu Gus Dur katakan, saya harus ketemu ke lima orang PDP, Theys dan kawan-kawan. Hubungan Gus Dur dengan Theys luar biasa sekali. Terus pada kunjungannya di tahun 2006, Gus Dur juga sempat minta pemerintah Indonesia agar almarhum Ketua PDP, Theys Hiyo Eluay dinobatkan sebagai pahlawan nasional,” ujar Thaha.

Theys, nama lengkapnya adalah Theys Hiyo Eluay. Dia tewas saat berumur 64 tahun, tepat pada Hari Pahlawan 10 November 2001, setelah menghadiri upacara Hari Pahlawan yang diselenggarakan Pemerintah Daerah (Pemda) Irian Jaya di Jayapura. Sepulangnya menghadiri Hari Pahlawan itu menuju rumahnya di Jalan bestirpos 5, Sentani Kota, yang berjarak sekitar 55 km, Theys tidak pernah lagi pulang ke rumah. Setelah dicari-cari, akhirnya jenazah Theys ditemukan tertelungkup di jok mobil miliknya, jenis Toyota Kijang bernomor polisi B 8997 TO dengan wajah babak belur dan luka dipelipis, dahi dan leher. Posisi mobil nyaris masuk jurang. Mobil yang kaca depannya hancur itu, masih tertahan pada sebatang pohon. Dari kondisi jenazah, muncul dugaan, Theys dibunuh setelah diculik.

Sebagaimana sosok Thaha Al-Hamid yang taat beragama Islam, Theys sebenarnya bukanlah tokoh oposisi. Theys adalah mantan anggota
Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) tahun 1969. Dia sangat berjasa dalam mempertahankan masuknya Irian Jaya ke wilayah Indonesia. Bahkan pernah juga menjadi anggota DPRD Irian Jaya dari Golkar selama tiga periode. Tetapi entah apa yang melatarbelakanginya , akhirnya Theys menyebut dirinya Pemimpin Besar Dewan Papua Merdeka sekaligus menjadi Ketua Presidium Dewan Papua.

Kembali ke sosok Gus Dur, Thaha menganggap bukan hanya dirinya merasa cukup dekat dengan Gus Dur, juga hampir seluruh orang Papua merasa dekat dengan Gus Dur. Misalnya, Gus Dur juga sangat dekat dengan Ketua Dewan Adat Papua dan tokoh-tokoh adat lainnya di Papua, termasuk Tom Beanal.

"Bahkan beberapa kali jika kami sudah jarang mengunjunginya, Gus Dur akan tanya dan pasti kami datang mengunjungi beliau. Jadi silaturahmi kami dengan beliau tetap jalan, walau sudah tak menjabat presiden,” ungkapnya.

Makna sosok Gus Dur, kata Thaha, terlalu luar biasa bagi Papua dan orang Papua. “Kita tak hanya kehilangan seorang kiai, seorang bekas
presiden, dan seorang guru, tapi sebenarnya kita kehilangan kitab hidup. Sebuah kitab yang terus memberikan nasihat,” tutur Thaha
mengenang sosok Gus Dur.

Beberapa Alasan

Menurut Thaha, ada beberapa alasan masyarakat di Papua tak pernah melupakan sosok Gus Dur. Misalnya, pada 31 Desember 1999, tanpa perlu berpikir panjang, Gus Dur yang saat itu sebagai Presiden Indonesia, mengganti nama Irian Jaya menjadi Papua.

Tentang nama ini, seperti diketahui, pada tahun 1961, Komite Nasional Papua yang pertama menetapkan nama PAPUA BARAT bagi Papua. Pada masa Pemerintahan Sementera PBB (UNTEA), digunakan dua nama, WEST NEW GUINEA/WEST IRIAN.

Selanjutnya pada tanggal 1 Mei 1963, Republik Indonesia menggunakan nama IRIAN BARAT. Setelah Proklamasi kemerdekaan tanggal 1 Juli 1971, Pemerintah Revolusioner sementara Republik West Papua di Markas Victoria, menggunakan nama WEST PAPUA.

Pada tahun 1973, Pemerintah Republik Indonesia di West Papua mengubah nama IRIAN BARAT menjadi IRIAN JAYA.

Pada tahun 2000 nama Irian Jaya kembali menjadi Papua hingga kini.

Menurut beberapa sumber, nama Papua, aslinya Papa-Ua, asal dari bahasa Maluku Utara. Maksud sebenarnya bahwa di pulau ini tidak terdapat seorang raja yang memerintah di sini sebagai seorang bapak, itulah sebabnya pulau dan penduduknya disebut demikian.

Papa-Ua artinya anak piatu. Dari sekian nama yang sudah disebut, Komite Nasional Papua pada tahun 1961, memilih dan menetapkan nama PAPUA, karena rakyat di sini kelak disebut bangsa Papua dan tanah airnya Papua Barat (West Papua).

Alasan memilih nama Papua, karena sesuai dengan kenyataan bahwa penduduk pulau Papua sejak nenek moyang tidak terdapat dinasti yang memerintah atau raja di sini sebagaimana yang ada dibagian bumi yang lain. Orang Papua berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah.

Tidak ada yang dipertuan untuk disembah dan tidak ada yang diperbudak untuk diperhamba. Raja-raja yang tumbuh seperti jamur di Indonesia, adalah akibat pengaruh pedagang bangsa Hindu dan Arab di masa lampau.

Inilah sebabnya maka rakyat Papua anti kolonialisme, imperialisme dan neo-kolonialisme. Nenek moyang mereka tidak pernah menyembah-nyembah kepada orang lain, baik dalam lingkungan sendiri. Mereka lahir dan tumbuh diatas tanah airnya sendiri sebagai orang merdeka.

Berbicara mengenai nama Irian, adalah satu nama yang mengandung arti politik. Frans Kaisiepo, almarhum, orang yang pertama mengumumkan nama ini pada konperensi di Malino-Ujung Pandang pada tahun 1945, antara lain berkata: “Perubahan nama Papua menjadi Irian, kecuali mempunyai arti historis, juga mengandung semangat perjuangan: IRIAN artinya Ikut Republik Indonesia Anti Nederland”. (Buku PEPERA 1969 terbitan tahun 1972, hal. 107-108).

Nama Irian diciptakan oleh seorang Indonesia asal Jawa bernama Soegoro, bekas buangan Digul-Atas tetapi dibebaskan sehabis Perang Dunia kedua dan pernah menjabat Direktur Sekolah Pendidikan administrasi pemerintahan di Hollandia antara tahun 1945-1946.

Perubahan nama Irian Barat menjadi Irian Jaya, terjadi pada tahun 1973, juga mengandung arti politik. Rejim Militer Indonesia tidak menginginkan adanya pembagian Pulau Papua menjadi dua dan berambisi guna menguasai seluruhnya. Pendirian ini berdasarkan pengalaman tentang adanya dua Vietnam-Selatan dan Utara, tentang adanya dua Jerman-Barat dan Timur, dan tentang adanya dua Korea-Selatan dan Utara. Irian Jaya, Irian yang dimenangkan. . Jaya, victoria atau kemenangan. Jika huruf “Y” dipotong kakinya, maka akan terbaca Irian Java alias Irian Jawa. Sumbernya bisa dilihat di http://digoel. wordpress. com/2008/ 01/06/ tentang-nama- papua.

Kemudian selama hidupnya, Gus Dur beberapa kali mengunjungi Papua, yakni pada 1999, selanjutnya pada 2000 dan terakhir pada 2006. Inilah sekilas catatan tentang Papua. Semoga bermanfaat







2010 TANPA GUS DUR

Setiap tokoh memiliki zamannya sendiri. Begitu pula Gus Dur. Dia memiliki segudang pengalaman di mana banyak nilai yang perlu kita pelajari. Tahun 2010 tidak ada lagi Gus Dur, tetapi nilai-nilai perjuangan yang dipraktikannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara punya arti tersendiri. Misalnya Gus Dur selalu menganjurkan agar kejujuran dalam politik harus ditegakkan. Kebenaran harus diperjuangkan. Semua itu harus dibekali dengan keberanian. Tetapi bagaimana kalau kita gagal ? Yenni Wahid, anaknya baru-baru ini mengatakan:"Jika saya kecewa Bapak sering menghibur. Tidak apa-apa, asalkan yang kita perjuangkan itu kebenaran." Oleh karena itu apa yang kita perjuangkan belum tentu berhasil. Meski sudah benar. Semua itu membutuhkan waktu. Jangan berharap apa yang kini inginkan sama halnya dengan membolak balikan telapak tangan, sehari bisa diselesaikan. Memperjuangkan kebenaran di samping membutuhkan keberanian, juga membutuhkan kesabaran. Kita harus ikhlas dan jujur karena apa yang kita lakukan adalah ibadah. Lebih penting ada kerendahan hati di dalamnya, tidak mengharapkan sesuatu dibalik apa yang kita kerjakan. Nilai-nilai inilah yang terkandung dalam syair Robi'ah al Adawiyah di Abad 13 yang sering dilantunkan para sufi, termasuk Gus Dur : " Illahi lastu lil firdausi ahla, wala aqwa' ala nari jahiimi, fahabli taubatan waqfir dzunnubii, fainnaka ghoofiri dzanbil 'adziimi." "WAHAI TUHANKU, AKU BUKANLAH ORANG YANG PANTAS MASUK SURGA. TETAPI AKU JUGA TIDAK KUAT DENGAN API NERAKA. KARENA ITU BERIKAN PADAKU KEMAMPUAN BERTOBAT DAN AMPUNI DOSAKU. KARENA HANYA ENGKAULAH YANG DAPAT MEMBERIKAN MAAF ATAS DOSA YANG BESAR."

DUA JAM BERTEMU SAYIDIMAN SURYOHADIPROJO

DUA JAM BERTEMU SAYIDIMAN SURYOHADIPROJO
Bertemu dengan pejuang yang ikut mendirikan republik ini bukanlah perkerjaan yang sia-sia. Orang boleh aja menjuluki mereka "pasukan tanpa laskar." Orang boleh saja menjuluki pasukan "gaek-gaek." Tetapi jangan duliu berbicara fisik.Lihatlah semangat mereka. Usia boleh tua, karena sudah 83 tahun, tetapi soal semangat, soal masih mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia, ituah yang pertama saya rekam ketika dua jam bersama Sayidiman Suryohadiprojo, hari Senin, 18 Oktober 2010 pagi di rumahnya Jl.Kartanegara, Kebayoran Baru. Tak tersirat rasa lelah di wajahnya. Guratan guratan wajah boleh saja tidak bisa disembunyikan, tetapi tubuh meski kurus, masih tegap sebagai seorang pejuang. Lahir di Bojonegoro (Jawa Timur) tahun 1927. Lulusan Akademi Militer RI di Yogyakarta tahun 1948. Sebagai amggota TNI-AD, ia telah aktif dalam perang kemerdekaan dan sesudah itu, juga dalam masalah-masalah keamanan dalam negeri, seperti Darul Islam, PRRI-PERMESTA dan Gestapu PKI. Ia mulai kariernya sebagai Komandan Peleton di Divisi Siliwangi dan selanjutnya meningkat menjadi Komandan Kompi dan Komandan Bataliyon. Setelah itu menjadi Komandan Resimen Taruna di Akademi Militer Nasional, sebelum menjadi Perwira staf di Markas Besar Angkatan Darat. Pada tahun 1968, ia diangkat sebagai Panglima Kodam XIVHasanuddin di Sulawesi Selatan. Tahun 1974, Gubernur Lembaga Pertahanan Nasional sebelum diangkat menjadi Duta Besar RI di Jepang tahun 1979. Sayidiman dikenal pula sebagai penulis, Banyak buku militer yang ditulisnya. Ada rasa kecewa yang diungkapkannya ketika pembicaraan sudah berlangsung agak lama. Dia sangat memprihatinkan bahwa Pancasila belum menjadi kenyataan di bumi Indonesia. Pancasila yang digali oleh Bung Karno, pun pada saat-saat terakhir pun gagal diwujudkan oleh Proklamator kita itu. "Pada saat itu kita gagal mensejahterakan rakyat. Bangsa kita di akhir pemerintahan Soekarno miskin sekali," ujarnya lirih. "Bukankah tujuan didirikan negara ini untuk mensejahterakan rakyat secara keseluruhan, bukan hanya untuk segelintir orang atau golongan?," tanyanya. Begitu pula di masa Soeharto. Awalnya memang Orde Baru ingin menegakkan Pancasila dengan konsekuen. Pun di akhir pemerintahan Soeharto, Pancasila seakan-akan disamakan dengan budaya kapitalisme, Materialisme, Individualisme dan pragmatisme, untung rugi. "Ini tidak cocok dengan budaya bangsa Indonesia yang asli, yang penuh dengan hidup bergotong royong dan sikap hidup berdasarkan prinsip," tegasnya. "Ini sangat terlihat dari Amandemen UUD 1945 di masa Reformasi. Saya menganggap ini bukan lagi UUD 1945. Oleh karena itu kembalikan jati diri bangsa agar bangsa ini memiiliki jati dirinya yang khas. Evaluasi UUD 1945 yang di amandemen itu," seru Sayidiman.

SOEDOMO

SOEDOMO
SOEDOMO

LAKSAMANA TNI (PURN) SOEDOMO YANG SAYA KENAL

Perjalanan ke sebuah tempat selalu membawa kesan tersendiri. Apa lagi kalau melakukan kunjungan ke sebuah rumah seorang pejabat yang pernah berpengaruh di masanya. Itulah yang saya lakukan pada Hari Senin, 8 Februari 2010, berkunjung ke rumah mantan Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib), sebuah lembaga yang didirikan setelah terjadi Gerakan 30 September/PKI, 10 Oktober 1965. Di lihat dari luar, rumah Soedomo yang terletak di Pondok Indah, tidak berbeda dengan rumah-rumah di sekitarnya. Ya, untuk ukuran masyarakat bawah, pasti terkesan...wah! Tetapi jika masuk ke dalam, sangat sederhana sekali. Kursi perabotan tertata rapi, rak-rak buku yang juga tersusun rapi.Untuk ini Jenderal Polisi Anton Tabah, mantan Ajudan Presiden Soeharto pernah mengatakan kepada saya bahwa Rumah Pak Harto juga sangat sederhana. Tetapi saya baru sebatas mendengar, belum pernah ke Jalan Cendana. Sebelum masuk ke rumah, saya memang sedikit agak canggung. Maklumlah orang yang pernah terkenal di masa Presiden Soeharto itu belum pernah saya temui. Kalau pun melihat wajah dan perawakannya, hanya melalui televisi. Bahkan sejak menjadi wartawan tahun 1983, belum pernah saya bertatap muka, karena saya banyak meliput berita-berita di Departemen Luar Negeri. Wah, seperti apa Soedomo ini. Angkerkah? Kejamkah? Mengapa pada masanya selalu ditakuti ? Sebelum bertatap muka saya hanya ditemani seorang asisten dan dari dialah saya sedikit mengetahui apa saja kegiatannya sekarang ini setelah usianya sudah lanjut karena lahir di Malang, 20 September 1920. "Bapak sekarang sering ke Masjid. Sebagai anak muda, jika waktu Shubuh, saya kalah langkah. Bapak sudah duluan ada di Masjid," ujar asistennya itu. "Sekarang hidup Bapak banyak beribadah dan beramal. Untuk beramal bukan sekarang saja, sejak dulu Bapak rajin beramal. Uang gajinya malah saya yang mengambil dan selalu dipesankan untuk memberikan kepada orang-orang yang membutuhkan.," tambahnya lagi. Tepat pukul 10 WIB, karena Soedomo selalu tepat waktu, saya diterima oleh beliau di ruang tengah. Saya melihat wajah beliau masih seperti dulu, segar dan langkah-langkahnya masih tegap. Menjelaskan persoalan juga masih jernih. Kalimatnya yang bermanfaat untuk dijadikan bekal kehidupan,"Manusia itu ada batasnya." "Kalau orang berkata hidup dimulai umur 40 tahun, saya justru mulai umur 75 tahun. Terus terang saja dan bukan rahasia umum, saya dulu kan murtad. Kasih sayang Allah SWT kepada hamba-Nya lebih luas dari pada murka-Nya," kata Soedomo. "Apakah saya angker? Ah, tidak. Dari luar saja demikian karena melaksanakan tugas. Lagi pula Kopkamtib itu tugasnya untuk memelihara dan meningkatkan stabilitas keamanan dan ketertiban. Buktinya ketika Mala Petaka Lima Belas Januari (Malari) terjadi, betul Hariman Siregar dan Sjahrir saya amankan. Tetapi di balik itu saya sekolahkan dia ke luar negeri, karena dia masih muda waktu itu, bangsa dan negara ini masih memerlukan tenaga dan pikirannya" jelas Soedomo menjelaskan apakah dia betul-betul angker atau sebaliknya. Banyak cerita yang tidak perlu saya ungkapkan, mengapa Soedomo melakukan berbagai tindakannya yang kebanyakan orang tidak memahami dia harus melakukan itu. Banyak pula cerita-cerita lucu yang saya peroleh, bahkan saya sering terpingkal-pingkal. Saya berkesimpulan, betapa pun seseorang itu pada akhirnya bisa menemukan dirinya sendiri. Menurut agama saya, Islam, Taubat Nasuha adalah perjalanan yang sebaik-baiknya.

RAIS ABIN, LT.GEN.TNI (retd)

RAIS ABIN, LT.GEN.TNI (retd)

HIDAYAT TOKOH DI BALIK PDRI

Oleh Dasman Djamaluddin

Seorang pengamat buku, Pracoyo Wiryoutomo pernah berkomentar bahwa sebuah buku akan berarti bagi pembaca bila memberikan wawasan, gagasan dan pengetahuan baru. Bukan hanya itu, buku yang banyak dijekar pembaca juga harus menyajikan fakta, data, dan temuan baru. Terlebih lagi bagi bacaan kesejarahan, keakuraisn fakta dan kronologi peristiwa menjadi kunci utama untuk menarik pembaca.

Apa yang dapat saya komentari ketika membaca buku Hidayat, Father, Friend and Gentlemen (Jakarta: Legiun Veteran Republik Indonesia,2007) ? Pertama-tama saya ingin mengatakan, bahwa yang dimaksud Pracoyo juga sebuah biografi. Karena Alm.Kuntowijoyo, salah seorang dosesn di Universitas Gajahmada dalam bukunya Metodologi Sejarah menegaskan bahwa biografi itu adalah sejarah.

Selanjutnya tentang kakurasian fakta dan kronologi peristiwa, Buku Hidayat, Father, Friend and Gentleman, tebal 218 halaman, ditulis anak perempuannya, mantan Wartawan Pedoman, Dewi Asiah Rais Abin. Jadi kekurasian fakta dapat dipertanggung jawabkan. Buku ini tidak ada bedanya, sebagaimana seorang ayah bertutur kepada anak perempuannya dari halaman 33-87 tentang berbagai masalah, juga perasaan bathin seorang ayah, sama halnya ketika Presiden Soekarno menumpahkan unek-uneknya kepada Megawati, anak perempuannya. Di halaman ini banyak hal menarik dan masalah-masalah baru yang ditemukan tentang Hidayat, seorang Jenderal yang rendah hati.

Nama Letnan Jenderal Hidayat Martaatmadja tidak begitu mencuat ke permukaan, tetapi beliau adalah tokoh yang sangat berperan ketika Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) dibentuk di Sumatera Barat. Sebagai seorang militer, Hidayat cepat mengambil keputusan dan tak pernah ragu-ragu. Beliau mendesak dan mendukung penuh Syafruddin Prawiranegara yang masih ragu-ragu. Dalam hal ini Hidayat menuturkan sebagaimana (halaman 116):

"Untuk mempertahankan kelangsungan pemerintah Republik Indonesia yang praktis tidak ada lagi, Sdr.Syafruddin cs sudah memikirkan untuk membantuk Pemerintahan Darurat Republik Indonesia. Tetapi Saudara Syafruddin kelihatannya belum sampai kepada keputusan yang tuntas. Oleh karena itu, kawan-kawan, antara lain, Kapten Islam Salim yang menjadi ADC/Asisten saya, membesarkan hati saya supaya mendorong Sdr.Syafruddin Prawiranegara. Dengan begitu saya (sebagai Panglima Sumatra) memberi jaminan dukungan sepenuhnya, sehingga Pak Syafruddin menjadi bulat pendiriannya membentuk Pemerintah Darurat Republik Indonesia," ujar Hidayat.

Ketika Jenderal Hidayat meninggal dunia, Senin, 24 Oktober 2005, di usia 90 tahun, tidak satu pun media massa dan lektronik memberitakannya. Bahkan wartawan senior Rosihan Anwar mengkhususkan diri menulis di Harian Kompas, Jum'at 2 Desember 2005 yang di dalam buku ini dikutip dari halaman 208-217."Ketika Jenderal Hidayat meninggal dunia, banyak wartawan Indonesia dari generasi muda yang memegang kendali meja berita juga tidak kenal almarhum. Akibatnya tiada sepatah kata pun ada beritanya: Hidayat who ?,siapa Hidayat?," tulis Rosihan Anwar.

Hingga akhir hayatnya, Hidayat kurang diperhatikan. Semula Markas Besar AD menyediakan Wakil Kasad selaku inspektur upacara pemakaman (halaman 209). Tetapi, menurut Letnan Jendera;l TNI-AD (Purn) Rais Abib, suami Dewi (menantu Pak Hidayat), Pak Hidayat patut diberi penghormatan terakhir yang setara."Almarhum selain memegang bintang republik juga pernah menjadi Menteri."

Rais Abin menelepon Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) yang dikenalnya baik, lalu menerangkan situasi. JK bertindak sigap dengan meminta pemakaman secara militer dan Menteri Pertahanan Dr.Juwono Soedarsono sebagai Inspektur Upacara.

Bahkan Mayor (Purn) Oetarjo, Mantan Kepala Staf Sub.Territorial VII Tapanuli/Sumatera-Timur Selatan, mensejajarkan Hidayat dengan panglima-panglima perang dari negara-negara lain, seperti Montgomery dari Inggris, Mac Arthur dari Amerika Serikat, Zukov dari Rusia, Peng The Huai dari Cina.

Untuk hal ini, siapa yang menulis sejarah, di lembaga mana dia bekerja, pada waktu apa sejarah itu ditulis serta independenkah sang penulis, merupakan faktor-faktor penentu apakah sejarah yang ditulis bisa ditampilkan seobyektif mungkin atau tidak?

Seperti yang dialami Letnan Jenderal (Purn) Hidayat Martaatmadja. Suatu sumber dengan sumber yang lainnya berbeda. Buku 25 Tahun LVRI (Jakarta:LVRI, 1982), Puji Syukur 25 Tahun Indonesia Merdeka (Jakarta: Departemen Penerangan) dan 30 Tahun Indonesia Merdeka (Sekretariat Negara) tidak sama. Hidayat tidak tertera dalam Buku 25 Tahun LVRI, sedangkan dalam Buku 25 Tahun Indonesia Merdeka, nama beliau tercantum sebagai Menteri Urusan Veteran dan Demobilisasi dalam Kabinet Kerja III, 6 Maret 1962 hingga 13 November 1963.

Buku ini menarik karena menuturkan peranan Hidayat, pada tanggal 19 Desember 1948, di mana pasukan Belanda kembali menyerang tanah air Indonesia. Serangan ini ditujukan ke Ibu Kota Republik Indonesia di Yogyakarta, sehingga dikuasai Belanda. Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta beserta sejumlah menteri yang berada di Ibu Kota Yogyakarta ditangkap. Belanda menganggap Republik sudah tamat riwayatnya. Radio Republik Indonesia (RRI), berhenti mengudara.Suara-suara sumbang ini diperkuat Radio Belanda Hilversum, yang secara lantang menyiarkan bahwa Republik Indonesia sudah hancur. Bahkan sebagian dunia mempercayai berita itu.

Terbentuknya PDRI di Sumatera Barat, sebagai salah satu tonggak sejarah yang membuktikan kepada dunia bahwa Negara Indonesia tidak bubar, meskipun para pemimpin negara Republik Indonesia ditangkap dan ditahan. Beberapa jam sebelum kejatuhan Yogya, sebuah sidang darurat kabinet berhasil mengambil keputusan historis yang amat penting. Presiden dan Wakil Presiden memberikan mandat (menguasakan) kepada Mr.Sjafruddin Prawiranegara untuk membentuk Pemerintahan Darurat RI di Sumatera. Jika gagal mandat ini akan diserahkan kepada Dr.Soedarsono, Mr.Maramis dan Palar untuk membantuk exile-government di New Delhi, India. Tetapi mandat ini tidak jadi dikirim melalui telegram karena kacaunya komunikasi Yogyakarta-Bukittinggi, di samping keburu Yogya telah jatuh ke tangan Belanda.

Meski surat mandat tidak pernah sampai ke tangan Mr.Syafruddin Prawiranegara yang pada waktu itu menjabat Menteri Kemakmuran RI dan sedang berada di Bukittinggi, tetapi naskahnya telah beredar di antara para pejuang bangsa. Akhirnya, Mr.Syafruddin Prawiranegara, terutama dengan Kolonel Hidayat, yang pada waktu itu juga berada di Bukitttinggi sebagai Panglima Tentara Teritorium Sumatera, yang juga adalah Wakil I Kepala Staf Angkatan Perang mengambil inisiatif sendiri (tanpa mandat dari Pusat) membentuk PDRI. Sekarang peristiwa 19 Desember 1948, berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 28 Tahun 2006, ditetapkan sebagai Hari Bela Negara.

Hidayat Martaatmadja, Lahir di Cianjur, Jawa Barat, 26 Mei 1915, Tahun 1947-1948, Kepala Staf/Wakil Panglima Siliwangi, Tahun 1948-1949, Wakil I Kepala Staf Angkatan Perang RI, merangkap Panglima Tentara dan Teritorium Sumatra, Tahun 1949-1951, Kepala Staf Q Angkatan Perang RI, Tanggal 10 Maret 1954, Sekjen Kementerian Pertahanan RI, Tahun 1959-1960 Menteri Muda Pertahanan Kabinet Kerja I, Tahun 1960-1962, Deputi Menteri Keamanan Nasional Kabinet Kerja II, Tahun 1962-1963 Menteri Veteran Kabinet Kerja III, Tahun 1964- 1966 Menteri Perhubungan Darat, Pos, Telekomunikasi dan Pariwisata, Kabinet Dwikora, Tahun 1966-1968 Duta Besar RI untuk Canada dan Tahun 1968-1970, Duta Besar RI untuk Australia dan Selandia Baru (tulisan ini dimuat pula dalam Majalah Veteran,Vol I,No.2.Desember 2010 halaman 46-47)

TELAH TERBIT MAJALAH VETERAN SEPTEMBER 2010

TELAH TERBIT MAJALAH VETERAN SEPTEMBER  2010
RAIS ABIN: "Tidak pernah terpikir oleh saya bahwa Dwi Fungsi merupakan hasil pemikiran Jenderal Abdul Haris Nasution." SAYIDIMAN SURYOHADIPROJO: Menjadikan Pancasila Kenyataan di Bumi Indonesia BATARA R.HUTAGALUNG: Keabsahan Proklamasi 17 Agustus 1945 WAHYONO S.K: Rengasdengklok sebagai Jiwa dan Semangat TNI NONO KARNO: Pertempuran Bojongkokosan DASMAN DJAMALUDDIN: Dari Sidang Veterans Confederations of ASEAN (VECONAC) ke-13 A.AZIZ.M : Perjuangan Rakyat Aceh Membela NKRI DASMAN DJAMALUDDIN: Mukernas LVRI 2010

PROKLAMASI 16 AGUSTUS 1945?

SAYA agak terkejut, ketika seorang saksi sejarah mengatakan bahwa Proklamasi Kemerdekaan terselenggara di Rengasdengklok 16 Agustus 1945 dan oleh karena itu peringatan Hari Kemerdekaan adalah yang di Rengasdengklok dan bukannya pada 17 Agustus 1945 di Pegangsaan Timur 56 Jakarta.


Sekilas, saya menyukai adanya perbedaan karena perbedaan itu adalah rahmat.Tetapi selama masih belum bisa membuktikan secara otentik, maka kita sepakat untuk memilih 17 Agustus 1945 sebagai Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Memang sulit untuk membuktikan apakah sumber-sumber itu otentik atau tidak, karena para pelaku sejarah sudah banyak yang tua-tua, daya ingat mereka sudah turun, bahkan ada yang sudah meninggal dunia.


Sumber terakhir itu juga mengatakan, Soekarno dan Hatta membacakan proklamasi yang ditulisnya dan menaikkan bendera sang saka merah putih di Rengasdengklok. Ditegaskan, Soekarno setuju saja dengan argumen para pemuda yang mengamankannya ke Rengasdengklok.


Hal ini bertolakbelakang dari buku yang saya tulis: Dasman Djamaluddin,Butir-butir Padi B.M.Diah (Jakarta:Pustaka Merdeka, 1992), halaman 75-76, sejak semula Bung Karno marah dan memegang batang lehernya serta membuat gerakan seakan-akan menggorok leher. Dengan demikian, ia hendak menunjukkan bahwa ia tidak setuju meskipun disembelih sekali pun."Biar pun saya digorok, saya tidak akan melakukan Proklamasi," ujar Bung Karno. Selanjutnya diungkapkan bahwa Bung Hatta setuju dengan sikap Bung Karno.

Perlu diketahui B.M.Diah yang bukunya saya tulis adalah juga saksi sejarah. Beliau adalah salah seorang saksi sejarah, satu-satunya seorang wartawan yang hadir ketika Bung Karno-Hatta merumuskan proklamasi pada tanggal 16 Agustus 1945 malam di Rumah Maeda (sekarang menjadi Museum Naskah Perumusan Naskah Proklamasi) di Jalan Imam Bonjol no.1 Jakarta. Beliau pula yang menyaksikan, Sayuti Melik mengetik naskah proklamasi setelah ditulis Bung Karno. B.M.Diah berdiri tepat di belakang Sayuti Melik yang sedang mengetik.


Jadi untuk sementara saya mengatakan, bahwa rumusan naskah proklamasi itu baru diperbincangkan tanggal 16 Agustus 1945 malam di rumah Maeda, bukannya di Rengasdengklok.Kalau sudah diproklamsikan di Rengasdengklok, mengapa Bung Karno dua kali membacakan Proklamasi. Kalau benar (sekali lagi benar), bukankah di dalam hukum berlaku hal-hal yang baru menafikan hal-hal yang lama ? Jadi yang dipergunakan adalah yang baru? Jika dikatakan di sinilah awal lahirnya dwi fungsi, saya setuju. Karena di Rengasdengklok tersebut sudah bersatu TNI yang diwakili Peta (Pembela Tanah Air), Pemuda dan Rakyat. Jadi Abdul Haris Nasution hanya menggali apa yang menjadi dinamika masyarakat waktu itu, sehingga dikatakan sebagai penggagas Dwi Fungsi.

Rais Abin and Dasman Djamaluddin

Rais Abin and Dasman Djamaluddin
Rais Abin, Lt.Gen.TNI (retd) and Dasman Djamaluddin

KAJI ULANG AMANDEMEN UUD'45

KAJI ULANG AMANDEMEN UUD'45
MAJALAH VETERAN No.2 Desember 2010 kali ini berbicara mengenai wawancara Dasman Djamaluddin dengan Sayidiman Suryohadiprojo masalah kaji ulang amandemen UUD 1945, karena UUD 2002 (Amandemen) pada dasarnya tidak berpihak kepada kesejahteraan rakyat. Banyak hal bertentangan dengan nilai hakiki bangsa Indonesia sesungguhnya, sehingga perlu dikaji ulang atau harus ada Amandemen ke-5. Selain itu, majalah ini juga memuat peranan Almarhum Letnan Jenderal (Purn) Hidayat pada saat pembentukan Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) di Sumatera Barat. Simpang siurnya peranan Hidayat ini sempat tidak tertera dalam beberapa buku bahwa beliau adalah juga pernah menjabat sebagai Menteri Urusan Veteran dan Demobilisasi. Salah seorang wartawan senior Rosihan Anwar pernah menulis ketika beliau meninggal dunia karena besoknya tidak satu pun media massa atau elektronik yang memberitakannya. Hal ini karena beliau sangat low profile, sehingga wartawan-wartawan yang muda saja tidak mengenal peranan beliau. Banyak hal menarik lainnya sekitar sejarah pembantaian di Jembatan Kaliprogo, Temanggung.Juga perjuangan tentara kita di "Jembatan 12" di Bangka Belitung, LVRI Siapkan Uji Materi UU No.20/2009 Tentang Gelar, Tanda Jasa dan Tanda Kehormatan (UU Gelar) serta Hari Ulang Tahun LVRI ke-54 tanggal 2 Januari.

JENDERAL SOEDIRMAN TIDAK PERNAH MENANGIS

JENDERAL SOEDIRMAN TIDAK PERNAH MENANGIS
Sebagai seorang militer Panglima Besar TNI Soedirman tidak pernah menangis. Ada yang mengatakan bahwa Jenderal Soedirman menangis ketika Presiden Soekarno memegang pundak Soedirman. Bukan menangis, tetapi terharu karena setelah serangan Belanda tersebut nasib bangsa semakin tidak menentu. Apakah negara yang baru didirikan itu akan bubar atau akan tetap langgeng. Disitulah keharuannya. Inilah komentar Soekotjo Tjokroatmodjo,mantan pengawal Presiden Soekarno yang sekarang adalah Wakil Ketua Umum II DPP LVRI. Sebelumnya Ketua Umum DPP LVRI Letjen (Purn) Rais Abin pernah pula mengomentarinya. "Sejarah jangan diputarbalikkan. Jenderal Soedirman bukanlah seorang melankolis. Dia seorang militer," ujar Rais Abin. Pada waktu itu, Soekarno mengatakan: "Ingatlah, sekalipun para pemimpin tertangkap, orang yang di bawahnya harus menggantikannya, baik ia militer maupun sipil. Dan Indonesia tidak akan menyerah," kata Soekarno sambil memegang pundak Soedirman. Lelaki berusia 30 tahun yang bernafas dengan paru-paru sebelah itu, kembali ke pasukannya yang sudah bersiap. Membangun kembali Indonesia sebagai Negara Maritim itulah hasil lengkap Orasi Sekjen DPP LVRI Wahyono,SK pada Dies Natalis dan Wisuda Sarjana Universitas Veteran RI Makassar, 24 Nopember 2010. Hasil Kunjungan Presiden Veconac (Veteran Confederation of ASEAN Countries/Konfederasi para Veteran ASEAN)/Ketua Umum LVRI, Letjen TNI Purn Rais Abin dan rombongan ke Vientiane Republik Demokrasi Rakyat Laos 20-23 Februari 2011. Sebuah kunjungan bersejarah yang dilakukan LVRI, apalagi Laos sekarang sedang dilirik investor dari Indonesia. Di samping itu ada pula kunjungan Gubernur DKI Fauzi Bowo ke Mabes LVRI dan diterima Ketua Umum DPP LVRI Letjen TNI (Pur) Rais Abin, Selasa 22 Maret 2011, yang antara lain membahas masalah traffik di depan Gedung LVRI. Mengulas buku Jenderal Soedirman yang diulas Dasman Djamaluddin, Redaktur Pelaksana Majalah Veteran, kegiatan Sahabat Veteran di Bogor dan Obituari Achmad Tirtosudiro, Mengenang Seorang Prajurit Pengabdi. Di samping masih banyak yang lain.

GAGALNYA METODE SELEKSI ALA TES SARLITO WIRAWAN SARWONO

HANYA SEBUAH CATATAN


KASUS ANDI NURPATI merupakan salah satu contoh kegagalan Komisi Pemilihan Umum (KPU) dalam hal menyeleksi anggota-anggotanya. Berarti sudah dua kali KPU gagal dalam menerapkan proses penyeleksian. Sebelumnya bahkan lebih parah lagi karena di antara para anggota KPU sempat di bui.


Istilah Metode Seleksi Ala Tes Sarlito Wirawan saya ambil dari Harian Kompas, Rabu 8 Agustus 2007 Halaman 2, berjudul: "Metode Tes Kesetiaan Disoalkan." Jadi istilah ini bukan dari saya. Pada waktu itu wartawan Kompas mewawancarai Sosiolog Universitas Indonesia, Imam Prasodjo dan saya sendiri, peserta tes yang gagal, termasuk di antaranya Sejarawan Dr.Anhar Gonggong yang ketika tes persis berada di hadapan saya dan Prof Dr Ramlan Surbakti serta Progo Nurdjaman (mantan Sekjen Depdagri).


Saya sebetulnya tidak ingin mengungkit-ungkit luka lama, tetapi saya ingat persis pernyataan Sarlito Wirawan Sarwono di hadapan para peserta tes, bahwa dia mampu menghasilkan sumber daya manusia berbeda dari yang sebelumnya, yaitu sumber daya manusia terbaik dalam alam pikiran Sarlito Wirawan Sarwono. Tetapi apa yang terjadi ? Setelah selesai menyelenggarakan tes, kritikan-kritikan pun bermunculan. Bahkan ada yang bertanya apakah Ilmu Psikologi masih mampu menjaring manusia-manusia terbaik? Masalahnya semakin nyaring terdengar dengan adanya kasus Andi Nurpati ini. Pertanyaan selanjutnya, metode tes seperti apa lagi yang bisa dilakukan para ahli, termasuk ahli psikologi ?


Pada waktu ini saya sempat menggugat hasil penyeleksian anggota KPU ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN). Di samping banyak pula yang mengatakan bahwa Ilmu Psikologi hanya salah satu penentu, bukan penentu. Saya setuju, tetapi yang menjadi permasalahannya telah terjadi salah tafsir mengenai rumusan "tes tertulis" yang termaktub dalam undang-undang. Menurut saya tes tertulis itu tidak hanya mencakup bidang psikologi saja, tetapi bidang-bidang ilmu lainnya. Dikarenakan yang mengetuai adalah dari bidang psikologi, Sarlito Wirawan Sarwono sehingga tesnya pada waktu itu 100 persen dikaitkan dengan bidang psikologi. Bahkan ada pula tes kesetiaan kepada NKRI dan Pancasila. Logikanya kalau saya tidak lulus tes samalah artinya saya anti NKRI dan anti Pancasila.


Itulah sebabnya ketika saya diwawancarai oleh wartawan Kompas yang dimuat dalam Harian Kompas, Rabu 8 Agustus 2007 halaman 2 saya bersikukuh itu bukan tes tertulis sebagaimana dminta undang-undang, tetapi tes psikologi. Selengkapnya saya kutip hasil wawancara saya di Harian Kompas tersebut:


"Sementara itu, Dasman Djamaluddin, Direktur Eksekutif Lembaga Pengkajian Pilkada Indonesia yang tak lulus seleksi tertulis KPU juga membantah pernyataan Sarlito bahwa tes kepada para peserta merupakan tes tertulis (Kompas,7/8).


"Tes yang diberikan benar-benar tes psikologi. Sebagian tes sama dengan yang diberikan kepada saya sewaktu harus memperoleh surat keterangan sehat jasmani dan rihani di rumah sakit. Jadi tidak betul kalau itu dinyatakan tes tertulis," katanya.


"Ia menilai anggota tim seleksi telah menunjukkan arogansi intelektual karena hanya mengukur dari bidang ilmunya sendiri, tanpa mempertimbangkan bidang ilmu lain, seperti pemahaman peserta tentang persoalan pemilu"

09 Januari 2012

Maher Zain - Insha Allah | Insya Allah | ماهر زين - إن شاء الله

20 Desember 2011

Erni Rohaini: VISI Erni Rohaini For Ketua Umum INI

Erni Rohaini: VISI Erni Rohaini For Ketua Umum INI: Menjadikan Ikatan Notaris Indonesia sebagai satu-satunya wadah bagi Notaris di Indonesia secara utuh, kondusif, aspiratif, terprogram dan ...

25 Juli 2011

ICMI Depok: Musda I ICMI Orda Depok

ICMI Depok: Musda I ICMI Orda Depok: "Alhamdulillah setelah menunggu lama akhirnya ICMI Orda Kota Depok telah menyelenggarkan acara Musda pertamanya bertempatan di Gedung MUI Dep..."

05 Januari 2010

NIAT MEMBANGUN KEMBALI RUMAH BUNG KARNO

Oleh Dasman Djamaluddin

Saya termasuk di antara undangan yang hadir dalam Seminar Draft Garis-Garis Besar Pengembangan Museum Perumusan Naskah Proklamasi, Selasa, 15 Desember 2009 lalu di Jakarta. Meski undangan terbatas, tetapi di dalam seminar tersebut muncul gagasan-gagasan menarik yang patut dikembangkan dan dilaksanakan demi generasi penerus bangsa yang cinta akan sejarah bangsanya sendiri.

Ada dua gagasan pokok yang dapat saya tarik dari seminar tersebut. Pertama, betapa bangsa ini banyak yang tidak mengetahui sejarah bangsanya sendiri. Seakan-akan bangsa ini ingin melupakan sejarahnya dan lebih suka membaca sejarah-sejarah bangsa dari luar. Sebagai bukti banyak di antara peserta tidak mengetahui bahwa bangunan gedung yang berada di Jl.Imam Bonjol No.1 Jakarta Pusat yang di depannya berdiri megah rumah Dubes Amerika Serikat itu adalah Rumah Maeda, seorang Admiral Angkatan Laut Jepang yang mengizinkan para pendiri bangsa merumuskan naskah proklamasi, cikal bakal dari kemerdekaan bangsa Indonesia pada 17 Agustus 1945.

Tentang gambaran rumah Maeda ini pada malam 17 Agustus 1945, Burhanudin Muhammad Diah atau lebih sering namanya disingkat B.M.Diah yang hadir dalam persitiwa bersejarah penting malam 17 Agustus 1945 sebagai satu-satunya seorang wartawan, di dalam buku yang saya tulis pada tahun 1992, halaman 57 /Butir-Butir Padi B.M.Diah, Tokoh Sejarah yang Menghayati Zaman, Diungkapkan kepada Dasman Djamaluddin (Jakarta: Pustaka Merdeka,1992), mengatakan:

“Kalau bolehlah saya katakan udara fajar di luar rumah kediaman Laksamana Maeda Angkatan Laut Jepang itu sangat cerah. Langit merona agak keputihan. Udara terang karena langit ditabur bintang. Dan orang berpuasa masih boleh makan sahur. Bung Hatta yang berada di tempat naskah proklamasi dibuat, telah memesan makanan untuk sahur. Hari itu kaum Muslimin sedang berada dalam waktu puasa yang telah berjalan beberapa hari. Saya keluar ke pekarangan rumah besar Laksamana Maeda yang memberikan, pejuang kemerdekaan bangsa dan negara Indonesia sebuah ruangan untuk mempersiapkan satu proklamasi kemerdekaan…Daerah kita itu orang asing yang menguasai. Kita tidak berhak untuk berkumpul dan bermusyawarah di mana saja kita kehendaki. Kita tidak merdeka. Kita tidak memiliki sesuatu kekuasaan. Rumah yang didiaminya (Rumah Maeda), suatu daerah extra-territorial (satu daerah bebas yang berdiri sendiri) bagi kami untuk melaksanakan suatu tindakan sejarah, ketika bangsa Indonesia harus menentukan sendiri hari depannya.”

Faktor kedua, menyoroti sejauh mana kepedulian Pemerintah Indonesia terhadap benda-benda bernilai sejarah (museum). Mungkinkan bangsa ini diingatkan kembali agar “Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah (Jas Merah)”? Ketika kita melihat bangsa dan negara LAIN sangat menghargai sejarahnya, terbukti dengan berdirinya museum-museum megah yang sangat ramai dikunjungi wisatawan dari berbagai negara di mana didukung penuh pemerintahnya masing-masing, ada di mana pemerintah kita ?

Akhirnya seminar mengerucut kepada dua permasalahan pokok, di mana saya ikut mendukungnya:

Pertama, banyak gagasan Bung Karno (Presiden Soekarno, Proklamator dan Presiden Pertama RI) di dalam rangka membuat bangunan-bangunan bersejarah tidak sesuai dengan rencana semula penggagasnya. Contoh konkrit yang dikemukakan adalah menganai bangunan Monumen Nasional (Monas).

Kedua, menghimbau pemerintah agar rumah Bung Karno di Pegangsaan Timur dibangun kembali, sehingga generasi penerus bangsa bisa mengenal lebih dekat dan mendalam tentang sejarahnya sendiri. Bahkan saya berkomentar: “MEMBANGUN KEMBALI RUMAH BUNG KARNO LEBIH BAIK DARI PADA MEMBANGUN PATUNG OBAMA DI MENTENG. Memang bangunan ini sekitar tahun 60-an dibongkar atas perintah Bung Karno, sang pemilik. Peristiwa ini hingga kini masih menjadi misteri mengapa Bung Karno yang dikenal cinta budaya, cinta sejarah, cinta peninggalan sejarah itu justeru menghancurkan rumah yang amat bersejarah dan penuh kenangan itu. Dari suatu sumber menyatakan bahwa dalam Sidang Dewan Perancang Pembangunan Nasional (DEPERNAS), bulan Agustus 1960, Bung Karno mengatakan bahwa rumah proklamasi akan dibongkar dan di atasnya akan dibangun Gedung Pola. Sedangkan menurut Harian Merdeka (9 September 1993) ada oknum-oknum yang tidak masuk dalam sejarah proklamasi menginginkan rumah itu dibongkar. Nah, mana yang benar ? Sebelum gedung ini dibongkar Henk Ngantung, Wakil Gubernur DKI waktu itu menghadap Bung Karno untuk memohon agar rumah TIDAK dibongkar. Dengan nada tinggi Bung Karno berkata: Apakah kamu juga yang termasuk mereka yang ingin memamerkan celana kolorku ?” (http://dasmandj.blogspot.com)

My Opinion

Photobucket

Photobucket

Photobucket

Photobucket

Photobucket

NASIB MUSEUM ADAM MALIK

21 Mei 2009 | 20:24 | Sosial

Museum Adam Malik Hilang dari Data Depbudpar

Ilma Hairinasari

Jakarta - Nama Museum Adam Malik, yang tercatat milik pengusaha media Hary Tanoesoedibjo, hilang dari daftar 60 museum yang tercatat di Departemen Kebudayaan dan Pariwisata (Depbudpar).

Koleksi 50 ribu lebih barang peninggalan mantan wakil presiden Adam Malik juga tidak jelas keberadaannya.

"Koleksi yang ada di Museum Adam Malik, entah disimpan di mana," kata sejarawan Dasman Djamaludin saat dihubungi Primair Online di Jakarta, Kamis (20/5).

Berdasarkan riset Primair Online, Hary Tanoesoedibjo atas nama istrinya telah membeli museum yang dilego oleh keluarga Adam Malik pada 2006.

Keluarga Adam Malik terpaksa menjual museum itu karena sudah tidak mampu menanggung biaya pemeliharaannya. Mereka mengaku tidak pernah mendapat dukungan dana dari pemerintah dalam biaya operasional museum.

Setelah mengabdikan diri demi bangsa dan negaranya, Adam Malik meninggal di Bandung pada 5 September 1984 karena kanker lever. Kemudian, isteri dan anak-anaknya mengabadikan namanya dengan mendirikan Museum Adam Malik di kediamannya, yang berada di kawasan Jalan Diponegoro 29, Jakarta Pusat.

Di museum itu, tersimpan berbagai tanda kehormatan yang diberikan negara terhadap wartawan yang menjadi wakil presiden itu. Selain itu, terdapat ribuan benda kenang-kenangan Adam Malik selama menjalankan tugas kenegaraan di dalam negeri dan luar negeri. Antara lain, berupa lukisan-lukisan, keramik, benda-benda porselin, kerajinan tradisonal, dan koleksi fotografi dari berbagai model.

Namun, sampai saat ini tidak ada kepastian apakah koleksi tersebut dijual atau disimpan oleh ahli waris, atau pemilik rumah.

(new)

My Profile (Profil Saya)

Foto Saya
DEPOK, JAWA BARAT, Indonesia
I was born in Jambi (Sumatera Island) on September, 22, 1955. PERMANENT ADDRESS :Jl.Kemang No.20 RT.004/02 Kelurahan Sukatani, Kecamatan Tapos, Depok 16954. PHONE/ Mobile : +62.21 8744060/ +62 81314795111 E-MAIL: dasman_dj@yahoo.co.id and djamaluddindasman@yahoo.com. Google: Dasman Djamaluddin. In 2007 candidate Jakarta Governor 2007-2012. BOOKS: "Golkar as Alternative Party" (Jakarta:Pusat Studi Hukum Tata Negara FHUI, 2003)","Saddam Hussein Overcoming Challenge"(Jakarta: PT.Penebar Swadaya, 1998)."The Late General Basoeki Rachmat and 11 March Order (Supersemar)"(Jakarta:Grasindo, 1998).First publish in August, 1998. Reprinted in June, 2008." Gunawan Satari, Fighter, Educate and Scientist "(Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1994), "Grain of Rice B.M.Diah" (Jakarta: Pustaka Merdeka, 1992). B.M.Diah or Burhanudin Mohamad Diah is a national figure and witness of history. B.M.Diah is well known and respectable person of public life of the Republic of Indonesia.

Anda pengunjung ke