BERBAGI PENGALAMAN MENULIS BIOGRAFI DI AUDITORIUM KOMPAS
Kamis, 13 September 2012 ruang Auditorium Kompas dipenuhi para penulis.Saya adalah di antara para penulis, yang diundang di antaranya,St.Sularto (Wartawan Kompas/Penyusun Buku Jacob Oetama),Julius Pour (penulis Buku Benny Murdani), Dr.Asvi Warman Adam (Sejarawan), Prof.Eka Budianta (Sastrawan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI).Acara tersebut ingin berbagi pengalaman dalam penulisan biografi.Bagi saya menariknya selain berbagi pengalaman adalah penayangan buku saya Rais Abin yang InsyaAllah akan terbit bulan September 2012 ini.Rais Abin (Letjen/Purn) masih merupakan satu-satunya putera bangsa yang berhasil meraih jabatan Panglima Pasukan Perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).Mudah-mudahan dengan adanya buku ini memacu para perwira muda TNI melakukan hal sama. Perjanjian Camp David terlaksana berkat laporan Rais Abin kepada Sekjen PBB Kurt Waldheim bahwa kedua belah pihak waktu itu Mesir dan Israel sudah mulai mau berdialog..Sebuah kebanggaan bagi kita semua, khususnya putera bangsa Indonesia berhasil memainkan peranan penting pada tahun 1979 itu di Timur Tengah. Bayangkan kita mampu membawahi 4.031 pasukan dari tujuh negara, Australia, Kanada, Finlandia, Indonesia sendiri, Polandia, Ghana dan Swedia.Buku ini sekapur sirihnya langsung dari Jacob Oetama, Pemimpin Umum Harian Kompas, sahabat Pak Rais Abin.
11 Mei 2013
SEBAIKNYA PAPUA JANGAN MERDEKA
Masalah Papua kembali mencuat kepermukaan setelah dibukanya “Kantor Free West Papua” di kota Oxford, Inggris. Bangsa Indonesia terkejut. Pemerintah Indonesia langsung menyampaikan protes keras dan keberatan yang mendalam terhadap perkembangan dimaksud. Atas instruksi Kementerian Luar Negeri, Dubes RI di London telah menyampaikan posisi pemerintah tersebut kepada Pemerintah Inggris”, ujar Menlu RI, R.M. Marty M. Natalegawa, di Jakarta, 4 Mei 2013. Hal yang sama juga dilakukan kepada Kedubes Inggris di Jakarta.
Menurut Kementerian Luar Negeri RI pembukaan kantor tersebut jelas tidak sesuai dan bertolak belakang dengan hubungan bersahabat yang selama ini terjalin di antara kedua negara dan bahkan posisi Pemerintah Inggris sendiri yang selama ini mendukung integritas wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) termasuk di dalamnya Papua dan Papua Barat sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari wilayah NKRI. Selain itu, tindakan tersebut juga bertolak belakang dengan pandangan masyarakat internasional yang secara tegas mendukung NKRI. “Perkembangan dimaksud sebenarnya lebih mencerminkan keputusasaan pihak separatis menghadapi kenyataan dimaksud” tegas Marty.
Sementara itu Pemerintah Inggris, melalui Kedubesnya di Jakarta telah menyampaikan tanggapan terhadap perkembangan dimaksud yang intinya menegaskan kembali sikapnya yang tidak mendukung kemerdekaan Provinsi Papua dan Papua Barat. Selanjutnya Pemerintah Inggris menegaskan pula bahwa Dewan Kota Oxford tidak mempengaruhi kebijakan politik luar negeri Inggris dan memandang bahwa keputusan untuk membuka kantor dimaksud sepenuhnya adalah keputusan Dewan Kota Oxford.
Dalam hal ini Pemerintah Indonesia sekali lagi mendorong agar Pemerintah Inggris senantiasa konsisten dan nyata menunjukkan kebijakannya untuk tidak mendukung tindakan apa pun yang terkait dengan separatisme Papua sesuai dengan hubungan bersahabat Indonesia dan Inggris dan sejalan dengan pandangan masyarakat internasional terkait integritas wilayah NKRI.
Pernyataan Kementerian Luar Negeri RI itu sudah tentu sangat tepat. Jangan ada lagi intervensi asing setelah kita mengalami penjajahan yang begitu lama.Berbagai negara di masa-masa Pemerintahan Soekarno memang ingin memasuki wilayah yang telah kita proklamirkan sejak 17 Agustus 1945, terutama Belanda pada waktu itu yang ingin kembali menjajah Indonesia. Diperkuat dengan Inggris atas nama Sekutu.
Papua yang dulunya bernama Irian Barat memiliki luas 22 persen dari luas daratan Indonesia, tetapi hanya menampung penduduk sebanyak 0.79 persen dari seluruh penduduk Indonesia. Kerenggangan penduduk ini merupakan salah satu kendala dalam pengembangan wilayah.
Saya pernah menulis di Harian Suara Karya, Selasa 13 Juni 2000, berjudul:”Belum Saatnya Berdiri Negara Papua Merdeka.” Intinya memang penduduk asli yang terdiri dari banyak suku di Papua tidak harus merdeka. Sama halnya dengan kepulauan lain di Indonesia seperti Sumatera, Sulawesi, Jawa, NTT dan lain-lainnya yang tergabung dalam NKRI. Jika kita berbicara asal suku sungguh tidak relevan lagi pada saat ini, karena di daerah-daerah lain juga memiliki identitas yang berbeda-beda. Namun tetap satu. Bangsa Indonesia. Yang menjadi masalah sekarang adalah person-personnya. Berintegritaskah dia, memiliki semangat cinta tanah air kah, mempunyai jiwa patriotikkah. Bahkan dikatakan bahwa cinta kepada tanah air merupakan sebagian dari iman.Mempertahankannnya dari intervensi asing merupakan kewajiban dari setiap warga negara.
Papua memang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Indonesia. Salah seorang pengarang asing, Gavriil Kesselbrenner yang di dalam bukunya berjudul:”Irian Barat: Wilayah yang Tak Terpisahkan dari Indonesia,” yang diterbitkan tahun 1961, mengatakan bahwa lama sebelum kedatangan kaum penjajah, antara Indonesia dengan Papua terdapat hubungan-hubungan politik, perdagangan dan kebudayaan.
“Para ahli sejarah dan etnografi Barat, Hille, Finsch, Kriger, Van Erde, Risenfeld dalam karya-karyanya mengutarakan, bahwa Papua (dalam bukunya itu memakai istilah Irian Barat) yang dalam masa lampau sering dikunjungi orang-orang Indonesia, mengalami pengaruh Indonesia yang bermanfaat dalam segala lapangan kebudayaan materiil. Bangunan-bangunan besar dari batu yang masih ada sampai kini di beberapa daerah Papua didirikan oleh orang-orang Indonesia,” ujarnya.
Pada sisi lain dengan adanya masalah ini, Pemerintah Indonesia memang diingatkan agar bersungguh-sungguh mewujudkan kesejahteraan kehidupan rakyat Papua. (Foto: Patung Pembebasan Irian Barat /Sekarang Papu di Lapangan Banteng, Jakarta)
25 Februari 2013
LAUNCHING BUKU "INDONESIA TANPA LIBERALISME MUNGKINKAH?"
LAUNCHING BUKU "INDONESIA TANPA LIBERALISME MUNGKINKAH?" Bertempat di Toko Buku Leksika Kompleks Apartemen Kalibata City, Minggu, 24 Februari 2013 diselenggarakan launching buku berjudul:"Indonesia Tanpa Liberalisme Mungkinkah?". ...
Saya hadir di antara 10 penyumbang tulisan di dalam buku tersebut.Buku setebal 194 halaman yang diterbitkan Komunitas Washaton ini tentu menarik karena Liberalisme itu problematis. Hanya saja, suka atau tidak,ide maupun praktik liberalisme telah menggurita di negeri ini.Kita dipaksa untuk menerimanya saja. Yang demikian tentu bukan sikap yang tepat. Tapi, kita juga dihadapkan pada persoalan pelik, apakah bisa menolak ide-ide liberalisme. Apakah kita juga bisa hidup di negeri ini tanpa liberalisme. Wacana ini, barangkali telah muncul jauh sebelum liberalisme benar-benar menancapkan pengaruhnya secara kuat, namun rasa-rasanya gaungnya belum cukup menggema.
Halaman 137 dan 138 buku ini dalam Bab 8 "Melawan Arus Liberalisme di Indonesia," saya berpendapat: "Secara umum, cita-cita liberalisme itu baik, mencita-citakan suatu masyarakat yang bebas. bebas berpikir bagi setiap individunya. Di sinilah letak perbedaan mendasar dengan paham kebangsaan Indonesia yang berdasarkan nilai gotong royong. Paham liberalisme menolak adanya pembatasan, khususnya dari pemerintah dan agama. Belum lagi dalam praktiknya yang akan kita lihat satu persatu."
25 November 2012
DISKUSI BUKU:" RAIS ABIN PANGLIMA PASUKAN PBB DI TIMUR TENGAH 1976-1979"
Sebagai seorang Panglima, Rais Abin melaporkan keberhasilannya mengajak kedua belah pihak, Israel dan Mesir duduk di meja
Pembicara:Dr.Saafroedin Bahar (Pengamat Militer), Dra.Jaleswari Pramodhawardani,M.Hum (Peneliti LIPI), Dr.Rushdy Hoesein (Sejarawan) dan Dasman Djamaluddin,SH,M.Hum (Penulis Buku). Moderator: Dra.Sastri Y Bakry, Akt,MSi (Novelis/Aktivis Perempuan)
PENDUKUNG : PENERBIT BUKU KOMPAS, LEGIUN VETERAN REPUBLIK INDONESIA, MUSEUM KEBANGKITAN NASIONAL, MAJALAH RENVOI
26 Oktober 2012
DIES NATALIS FHUI KE-88, SEBUAH CATATAN
28 September 2012
KARYAKU KEMBALI TERBIT
20 Agustus 2012
RAIS ABIN DAN JACOB OETAMA, SAHABAT AKRAB
Rais
Abin bukanlah berkewargaan negara asing. Dia putera bangsa yang lahir
di Koto Gadang, Kabupaten Agam, Bukittinggi, Sumatera Barat, 15 Agustus
1926. Membawahi beberapa negara asing merupakan sebuah kebangaan bangsa
ini. Hingga sekarang belum ada yang menandingi jabatan beliau sebagai
Panglima Pasukan Perdamaian PBB.Di samping itu, jabatan diusia mendekati 86 tahun sekarang ini, Rais Abin adalah Ketua Umum Legiun Veteran (LVRI) dan sebentar lagi melaksanakan Kongresnya pada 8-11 Oktober 2012.
Hari ini, Kamis, 26 Juli 2012, saya diajak Rais Abin menemui Pemimpin Umum dan Pendiri Harian Kompas Dr (HC) Jacob Oetama. Saya merasa bangga karena bisa menyaksikan kedua sahabat yang sezaman ini bersenda gurau di lantai VI Harian Kompas. Usia Jakob Oetama, tidak begitu jauh terpaut dengan Rais Abin karena beliau lahir di Borobudur, Magelang, 27 September 1931. Kini usianya mendekati 81 tahun.
Jacob Oetama sangat konsisten dengan tugasnya sebagai wartawan. Saat ini merupakan Presiden Direktur Kelompok Kompas-Gramedia. Seorang rekan pernah membisiki saya, apakah benar atau tidak informasi itu bahwa pada masa Pemerintahan Presiden Soeharto, beliau pernah ditawari jabatan Menteri Penerangan RI oleh Harmoko, tetapi Jacob Oetama menolak. Andai saja diterima, entah apa jadinya. Karena Harmoko menurut penuturan Almarhum Soedomo kepada saya, Harmoko adalah satu di antara tiga orang yang sangat dibenci Soeharto setelah lengser. Pada waktu pembicaraan ini Jacob Oetama ditemani Redaktur Senior Kompas August Parengkuan yang sebentar lagi dipercaya menjadi Duta Besar RI untuk Italia.
Pulang dari Harian Kompas saya diajak semobil dengan Rais Abin. Di perjalanan beliau banyak cerita tentang Veteran. “Bung,” ujarnya, “hari Selasa sore kemarin (24 Juli 2012) saya bertemu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Kantor Presiden. Ya, sekalian melaporkan akan mengadakan Kongres bulan Oktober,” jelasnya lagi.
Pertemuan para Veteran memang berlangsung sore itu di Kantor Presiden, Jakarta, Rais Abin sebagai ketua rombongan mengajukan beberapa usul dan harapan agar Presiden SBY mendengar jeritah hati para Veteran selama ini.
Masalah kesejahteraan Veteran Perang menjadi topik hangat yang dibahas saat pertemuan Legiun Veteran RI dengan Presiden SBY. Mereka berharap pemerintah meningkatkan dana kehormatan yang saat ini hanya Rp250 ribu per bulan. "Apa salahnya uang yang Rp250 ribu itu ditingkatkan. Tetapi SBY menyanggupi mencari jalan keluar Bung,” ujarnya kepada saya.
"Jumlahnya ada sekitar 320.583 Veteran Pejuang dan 28.256 Veteran Pembela, usianya sudah 80-an tahun. Mereka anggota dari laskar perjuangan 1945 yang sudah keluar dari ketentaraan pada 1949. Tapi mereka tetap pejuang," ujar Rais Abin berapi-api kepada saya mengulang pembicaraannya dengan Presiden RI.
Sesampainya di Markas Besar Legiun Veteran RI, saya diberi laporan pembicaraan beliau dengan Presiden RI. Saya tertarik dengan harapan LVRI ke depan:
“Izinkan kami mensitir rintihan Veteran tua yang disampaikan seorang Pujangga Belanda yang mendalami Sejarah Perjuangan Kemerdekaan Bangsa-Bangsa:
Kami bukan pembangun candi
Kami hanya pengangkut batu
Dari angkatan yang segera punah
Dengan harapan di atas pusara kami akan lahir generasi yang lebih sempurna.
Inilah landasan kami untuk menyampaikan kearifan/harapan kepada Bapak Presiden. Kami Veteran Tua menginginkan, maaf, Anda SBY, sebagai personifikasi generasi yang lebih sempurna. Benar atau tidak, dengan segala kekurangan kami merasa ikut mengasuh Anda sejak memasuki dunia keperwiraan dan hanya berharap agar perjuangan Anda berakhir dengan kejayaan.”
Inilah pengalaman saya hari ini berdekatan dengan salah seorang pejuang kemerdekaan 1945. Tetap ceria di usia senja (86 tahun) Rais Abin. Apakah generasi selanjutnya mampu memikul tanggung jawab para Veteran RI di Kongres LVRI ke depan, atau Rais Abin terpilih kembali karena mereka belum siap? Kita lihat saja. Tetapi yang jelas seorang pejuang ‘there is no journey’s end’. [*]
04 Agustus 2012
SAYA MARAH,HAMKA DIKATAKAN PLAGIATOR
06 Juni 2012
HARI-HARI SEPI BUNG KARNO
12 Mei 2012
BERSANTAI BERSAMA GUSTI KANJENG RATU (GKR) PEMBAYUN
Mbak Sari belum terpikirkan terjun ke dunia politik dan merasa lebih sreg bergelut di beberapa organisasi sosial yang digelutinya, antara lain sebagai Ketua Umum Karang Taruna DIY, Ketua KNPI, Ketua Asosiasi Kelompok Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera DIY serta beberapa organisasi sosial lainnya.
Juga tidak memahami dunia bisnis. “Semua urusan bisnis saya serahkan adik-adik. Saya lebih enak kerja sosial. Sembilan puluh persen hidup saya untuk kerja sosial,” akunya.
Mbak Sari mengaku sejak kecil diajar hidup jujur dan mandiri. Apakah dia pewaris takhta ayahnya kelak? Wallahualam.
03 Maret 2012
Temu Sastrawan Nusantara Melayu Raya: Nama Pemakalah Seminar Internasional Nusantara Mel...
My Book General Basoeki Rachmat and Supersemar (11 March Order)
Summary by:Dasman
My Book: “The Late General Basoeki Rachmat and Supersemar (11 March Order) (Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia, 1998) told: On September 30, 1965, a group calling itself the 30 September Movement killed six senior Army generals, seized control of the center of Jakarta and issued a number of decrees over Republic of Indonesia Radio. Soeharto and his allies defeated the movement, but Soekarno was fatally weakened. The Army accused its long standing rival, the Indonesian Communist Party (PKI), of being behind the "coup attempt" and an anti-Communist purge ensued. Over the next few months, Soeharto and the army seized the initiative, and during a cabinet meeting (which Soeharto did not attend), troops without insignia surrounded the presidential palace where the meeting was being held. Soekarno was advised to leave the meeting, and did so, flying to the presidential palace in Bogor, 60 km south of Jakarta, by helicopter. Later that afternoon, three Army generals, Maj. Gen. Basoeki Rachmat, Minister for Veteran Affairs, Brig. Gen. M Jusuf, Minister for Basic Industry and Brig. Gen. Amirmachmud, Commander of the V/Jaya Jakarta Military Area Command, visited Soekarno and came away with the signed Supersemar, which they then presented to Suharto. The next day, Soeharto used the powers thus conferred on him to ban the PKI, and on March 18, fifteen Soekarno loyalist ministers were arrested. Soeharto changed the composition of the Provisional People's Consultative Assembly (MPRS), and in March 1967 it voted to strip Soekarno of his powers and appointed Soeharto acting president. In 1968, the MPRS removed the word 'acting', and Soeharto remained in power until toppled by the Indonesian Revolution of 1998..
The Late General Basoeki Rachmat and Supersemar Originally published in Shvoong: http://www.shvoong.com/books/biography/1908499-late-general-basoeki-rachmat-supersemar/
Rais Abin and Dasman Djamaluddin
Rais Abin, Lt.Gen.TNI (retd) and Dasman Djamaluddin, Sept. 15,2009. Now, Rais Abin, President The Legion of Veterans Republic of Indonesia. In the second half of 1976, the then UN Secretary-General, Kurt Waldheim, asked Indonesia to continue providing troops to UNEF (UN Emergency Force) II and command the mission and nominated Major-General Rais Abin to serve as Force Commander of UNEF II succeeding Lieutenant-General Bengt Liljestrand of Sweden. Secretary-General Kurt Waldheim accepted the nomination and in December 1976 he summoned Major-General Rais Abin to the UN Headquarters in New York and briefed him on the situation in the Middle East and the development regarding UNEF II. Major-General Rais Abin was the last Force Commander of UNEF II. He took that post from December 1976 until September 1979. There were about 7000 personnel under his responsibility. UNEF II was unwavering in its task of supervising the redeployment of Egyptian and Israeli forces and controlling the buffer zone established under the agreements of 18 January 1974 and 4 September 1975 signed by the parties concerned. UNEF II's role in ensuring a steadfast implementation of the two agreements in the field contributed to the process that led to the signing of the Camp David Peace Agreement by Egyptian President Anwar Sadat and Israeli Prime Minister Menachem Begin in September 1978. UNEF II was concluded in July 1979 after its mandate had been renewed eight times.
LOVE STORY OF THE FIRST PRESIDENT OF INDONESIA,SOEKARNO (I)
05 Mei 2008
Love Story of The First President of Indonesia, Soekarno (I)
Soekarno, the first President of Republic of Indonesia married Tjokroaminoto daughter, Siti Oetari to please Tjokroaminoto, when he was about tweenty and she about sixteen; Soekarno said it was a "hanging marriage" which was not consummated. After a divorce he married Ganarsih Sanusi Inggit, his landlady in Surabaya, who was a dozen years older than himself. While in exile in Bengkulu he fell in love with Fatmawati, when she was seventeen, he forty, and Inggit more than fifty, he married her by proxy from Batavia in June 1943; she bore him five children. On 7 July 1954, he married Hartini, then twenty-eight, who already had five children by husband whom she divorced; she bore Soekarno two children. In 1963 he secretly married Ratna Sari Dewi, whom he had met in Tokyo; she bore him a daughter. He married Haryati in 1964 and divorce her at her own request. It is questionable wether he married Yurike Sanger, who is often said to be his seventh wife, and then Kartini Manoppo and Herdy Djafar.LOVE STORY OF THE PRESIDENT OF INDONESIA, SOEKARNO (I)
(KISAH CINTA PRESIDEN PERTAMA RI SOEKARNO (I)
Fell in Love with Dutch Girls
(Cinta Pertama dengan Gadis Belanda)
Oleh Dasman Djamaluddin
Soekarno said: (Quotation from book: Sukarno An Autobiography As told to Cindy Adams. First Printing, 1965, Printed in the United States of America).
I like attractive girls around me because I feel they are like flowers, and I like to gaze at beautiful flowers. I was very much attracted to Dutch girls. I wanted desperately to make love to them. It was the only way I knew to exert some form of superiority over the white race and make them bend to my will. That's always the aim, isn't it ? For a brown-skinned man to over-power the white man ? It's some sort of goal to attain. Over powering a white girl and making her want me became a matter of pride. A handsome boy always has steady girls friends. I had many. They even adored my regular teeth. But I admit I deliberately went after the white ones.
My first crush was Pauline Gobee, the daughter of one of my teachers. She was beautiful and I was crazy about her. Then there was Laura. Oh, how I adored her. And there was the family Raat. Now I had Mien Hessels. She was all mine and I was madly, wildly, insanely in love with this yellow-haired, pink-cheeked tulip. I'd cheerfuly have died for her if she'd asked it. It was 18 and wanted nothing more out of life than to possess her body and soul. I craved her passionately and came to the realization I had to marry her. Nothing else would quench the fire within me. She was the icing on the cake I could never buy. She was creamy-skinned and curly-headed and she represented everything. I'd always wanted to put my arms arround Mien Hessels spelled riches to me.
I finnaly got up the nerve to speak to her father. I dressed in my very best. I wore shoes. Sitting in my dark room. I'd rehearsed the words I was going to say, but when I approached the tidy house I quivered with fright. I had never visited a house like this before. The lawn was green velvet with row upon row of flowers standing straight and tall like soldiers. I had no hat to hold in my hand, so, instead, I held my hearth in my hand.
And there I stood, shaking, in front of the father of my ivory princess, a towering six-footer who stared straight down at me like I was vermin on the ground. "Sir, "I said, if you please, I would like the hand of your daughter in marriage...Please ?
"You ? A dirty native like you ? spat Mr.Hessels. "How dare you even come near my daughter. Out, you filthy animal. Get out."
(Ada kalimat menarik yang patut dikutip ketika melihat sosok Presiden Pertama RI, Soekarno atau populer dengan sebutan Bung Karno sebagai seorang pecinta. Kalimat-kalimat tersebut berasal dari Bambang Widjanarko, yang mendampingi Soekarno selama delapan tahun sebagai ajudan pribadi. Dia pernah menulis: "Daya tarik serta taraf intelektualnya yang tinggi menjadikan Soekarno seorang master dalam menaklukkan hati wanita."
Sebagai laki-laki, Soekarno pandai mencurahkan perhatiannya secara utuh kepada setiap wanita yang dihadapinya sehingga wanita tersebut merasa ia satu-satunya yang paling dicintai. Soekarno tidak segan-segan mengambilkan minuman untuk seorang tamu wanita, membantu memegang tangan wanita itu sewaktu turun dari mobil atau sekedar memuji busana dan tata rambutnya. "Bung Karno tahu, setiap wanita amat senang mendapat pujian," demikian tulis Bambang.
Bung Karno merupakan manusia luar biasa. Tumbuh menjadi pemuda tampan. Banyak gadis-gadis Belanda yang menyukainya. Tetapi sebagaimana diutarakannya dalam buku biografinya:"Soekarno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia," dia mengungkapkan dengan sejujurnya mengapa sangat tertarik dengan gadis-gadis Belanda.
"Aku sangat tertarik kepada anak-anak gadis Belanda. Aku ingin sekali mengadakan hubungan percintaan dengan mereka. Hanya inilah satu-satunya jalan yang kuketahui untuk memperoleh keunggulan terhadap bangsa kulit putih dan membikin mereka tunduk pada kemauanku. bukankah ini selalu menjadi idaman ? Apakah seorang jantan berkulit sawo matang dapat menaklukkan seorang gadis kulit putih ? Ini adalah suatu tujuan yang hendak diperjuangkan. menguasai seorang gadis kulit putih dan membikinnya supaya menginginiku adalah suatu kebanggaan. seorang pemuda tampan senantiasa mempunyai gadis-gadis yang tetap. Aku punya banyak. Mereka bahkan memuja gigiku yang tidak rata. Dan aku mengakui bahwa aku sengaja mengejar gadis-gadis kulit putih."
Pada bahagian lain, Bung Karno menuturkan bahwa cinta pertamanya tertuju pada seorang gadis Belanda. "Cintaku yang pertama adalah Pauline Gobee, anak salah seorang guruku. Dia memang cantik dan aku tergila-gila kepadanya..."Kemudian muncul sederetan nama, semuanya gadis keturunan Belanda, yakni Laura, Raat, Mien Hessels.
Ketika jatuh pada nama terakhir ini, yaitu Mien Hessels, Bung Karno berkeinginan untuk mengawininya. "Umurku baru 18 tahun dan tidak ada yang lebih kuinginkan dari kehidupanku ini selain dari pada memiliki jiwa dan raga Mien Hessels."
Hasrat hati Bung Karno untuk memiliki Mien Hessels menggebu-gebu. Akhirnya dia memberanikan diri untuk berbicara kepada bapaknya."Aku mengenakan pakaian yang terbaik, dan memakai sepatu. Sambil duduk di kamarku yang gelap aku melatih kata-kata yang akan kuucapkan dihadapannya,"tutur Bung Karno.
Bung Karno juga mengakui bahwa baru pertama kali bertemu ke rumah gadis keturunan Belanda tersebut. Dalam Pengakuannya dia mengatakan. "Aku tak pernah sebelumnya bertamu ke rumah seperti ini. Pekarangannya menghijau seperti beludru.Kembang-kembang berdiri tegak, baris demi baris, lurus dan tinggi bagai prajurit. Aku tidak punya topi untuk dipegang, karena itu sebagai gantinya aku memegang hatiku," ujar Bung Karno menggambarkan suasana ketika itu.
Bung Karno berdiri gemetar di hadapan Bapak Mien Hessels yang digambarkannya sebagai seorang yang tinggi seperti menara yang memandang langsung kepada dirinya."Seperti aku ini dipandang sebagai kutu di atas tanah," jelas Bung Karno.
Bung Karno memberanikan diri untuk berbicara."Tuan,"katanya."Kalau tuan tidak berkeberatan saya minta anak tuan..."
Tetapi jawaban yang diterima Bung Karno bukanlah jawaban yang enak, ramah dan sopan santun. Sebaliknya Bung Karno memperoleh perlakuan buruk. Dia dihina."Kamu ? Inlander kotor, seperti kamu?," sembur Tuan Hessels. "Kenapa kamu berani-berani mendekati anakku ? Keluar, kamu binatang kotor. Keluar !."
Tentang pernyataan Bung Karno ini, ada sebahagian orang mengatakan, mungkin saja semua pernyataan tersebut benar, tetapi ada juga yang berpendapat, semua itu adalah daya khayal Bung Karno, karena rasa "nasionalisme" beliau sangat tinggi.
Terlepas dari persoalan jatuh cinta dengan gadis Belanda tersebut, yang pasti dan kemudian terukir dalam sejarah adalah pernikahan yang dijalaninya pada usia belum genap 20 tahun. Tahun 1921 di Surabaya, Bung Karno menikah dengan Siti Oetari, gadis usia 16 tahun, putri sulung tokoh Serikat Islam Haji Oemar Said Tjokroaminoto (Selanjutnya "Siti Oetari, Isteri yang Tak Pernah Disentuh.")
HITLER, SOEHARTO DAN SUPERSEMAR
Masalah keadilan, kesejahteraan dan kebenaran itu hanya dimiliki tokoh-tokoh agama, tokoh-tokoh intelektual yang tidak berkhianat terhadap keprofesiannya. Bagi tokoh-tokoh politik hal itu jarang berlaku. Dogma-dogma yang disuarakan memang benar, sebagaimana di teriakan Hitler berkali-kali seperti perdamaian dsbnya. Tetapi apa yang dilakukan Hitler? Tidaklah sebagaimana yang dijanjikan atau diteriakkannya berkali-kali. Tidak hanya itu di Irak misalnya, apa yang membenarkan negara-negara besar seperti Amerika Serikat mengintervensi negara Dunia Ketiga yang kekuatannya tidak sebanding. Berapa ratus, atau juta rakyat yang menjadi korban. Bukanlah masalah yang terjadi sengaja dikacaukan sendiri oleh pihak luar, bukannya dari dalam. Lihatlah nasib Suriah dalam waktu dekat ini, pun nampaknya akan mengalami seperti Irak. Hitler juga melakukan demikian. Dalam negeri Jerman diacak-acak sendiri oleh Hitler agar kewibawaan pemerintahan yang sedang berjalan tidak lagi dihormati di mata rakyatnya. Pembakaran, pembunuhan memang diciptakan dan yang menyelesaikannya pasukan Hitler sendiri. Rakyat berteriak, Hitler penyelamat, Akhirnya Hitler tampil sebagai Kaisar dan kemudian?
Contoh-contoh seperti ini pula saya lihat di Indonesia, meski tidak sama dengan Hitler di Jerman. Di dalam politik praktis itu merupakan hal wajar. Oleh karena itu banyak yang berbicara, mantan Presiden Soeharto melakukan kudeta, itu pun biasa.Hampir semua penguasa tidak ingin ingin ditandingi dalam berbagai hal. Ketika saya bertemu dengan mantan Laksamana Soedomo saya memahami betul perjalanan politik Indonesia di masa Presiden Soeharto.Jadi kesimpulan saya tentang hal-hal kekuasaan Soeharto, termasuk raibnya Surat Asli Surat Perintah 11 Maret (Supersemar), ya hal itu menjadi biasa. Hanya kekeliruan kita, ketika hal itu terjadi ideologi kita Pancasila masih mencari-cari bentuk. Jadi Pancasila disesuaikan dengan keinginan penguasa.Tetapi sebagai seorang ilmuwan dan para tokoh agama apa pun, Islam, Kristen, dan Budha, kita jangan berhenti berjuang menyuarakan kebenaran, keadilan dan kesejahteraan untuk rakyat.Minimal kita berdoa, agar bagaimana Sang Pencipta tidak marah.
HABIBIE DAN JALAN DI TEMPAT
Kita kaya tapi miskin kaya sumber daya alam, miskin penghasilan. Kita besar tapi kerdil besar wilayah dan penduduk, kerdil produktivitas dan daya saingnya. Merdeka tapi terjajah merdeka secara politik, terjajah secara ekonomi.
Habibie menguraikan kekinian tentang masyarakat yang menjadi konsumen produksi masyarakat negara lain. Habibie mempertanyakan, bagaimana masyarakat dapat berkembang dan menjadi unggul jika karya dan produksinya tidak dibina sedini mungkin? Bagaimana masyarakat harus bersaing dengan masyarakat (negara lain) yang telah menikmati insentif pembinaan dan pengembangan? "Sadarkah kita bahwa di dalam produk impor tersembunyi jam kerja masyarakat lain?" kata Habibie.
Habibie meenyebut, kita kaya tapi miskin (kaya sumber daya alam, miskin penghasilan). Kita besar tapi kerdil (besar wilayah dan penduduk, kerdil produktivitas dan daya saingnya). Merdeka tapi terjajah (merdeka secara politik, terjajah secara ekolemah (kuat dalam anarkisme, lemah dalam menghadapi tantangan global). Kemudian, kita itu indah tapi jelek (indah potensi dan prospeknya, jelek dan korup dalam pengelolaannya). "Mau ke mana kita? Quo vadis Indonesia?" kata Habibie.
Ya apa yang dikatakan Habibie semua benar. Tetapi kalau kita memutar jarum sejarah sejenak, Habibie memang berhasil di masanya ketika menjabat Menteri. Kita bangga pada waktu itu bisa mendesain pesawat-pesawat buatan sendiri. Bangsa Indonesia dikagumi dunia luar, termasuk bangsa kita sendiri. Semua orang berdecak kagum, ya Habibie telah membawa Indonesia ke luar dari kepesimisan.Indonesia setara dengan negara-negara lain.
Itu tidak lama, ketika Habibie menjadi Menteri dan terus ke puncak menjadi Presiden, tidak ada lagi otak sekaliber Habibie. Menteri yang ditunjuknya pun tidak sekaliber dia. Langkah-langkah untuk memperkenalkan bangsa Indonesia sebagai produksi pesawat semakin lama semakin tidak jelas, karena Habibie disibukkan dengan berbagai persoalan bukan hanya teknologi tetapi politik. Sekaliber apa pun seseorang kalau tidak terfokus pada bidangnya, jelas tidak mampu. Apalagi Habibie dihadapkan dengan masalah Timor Timur yang sebelumnya dengan susah payah diperjuangkan masuk ke dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) oleh Presiden Soeharto. Timor Timur merdeka dan lepas dari pangkuan NKRI.Sudah jelas Habibie berhadapan dengan Tentara Nasional Indonseia (TNI) dan Soeharto, yang juga adalah TNI yang tidak lagi menyukai Habibie.TNI memang kalau berbicara mengenai negara kesatuan tidak ada kompromi. Tanyalah kepada para veteran dari Timor Timur. Betapa marahnya mereka kepada Habibie.Banyak keluarga mereka menjadi korban, dan cacat dalam memperjuangkan Timor Timur agar masuk ke wilayah Indonesia.Tapi dengan lepasnya Timor Timur yang menjadi bagian dari Provinsi di Indonesia waktu itu, sangat kecewa.Yang jelas kebersamaan TNI-SIPIL yang sudah dibina sejak awal kemerdekaan pecah.
Selanjutnya beliau tidak lagi menjadi Presiden karena dijatuhkan.Setelah itu Habibie tidak lagi berada di Indonesia dan lebih banyak berada di Jerman. Menurut pemikiran saya sebagai Bangsa Indonesia beliau sebaiknya berada di Indonesia, karena bukankah beliau lebih memahami keadaan Indonesia dan juga pernah menjadi orang nomor satu di negara ini? Baiklah ada perpanjangan tangan beliau, ada pemikir-pemikir dari Ikatan Cendiakawan Muslim Indonesia membantu pemikiran-pemikiran beliau dari Jerman. Tetapi bangsa ini hanya bertanya di mana Habibie? Mengapa program Anda tidak berlanjut? Mengapa akhir dari perjalanan Anda tidak semulus yang diperkirakan yaitu bertentangan dengan orang yang pernah mencintai dan menyayangi Anda, Soeharto? Betapa sakit hatinya Soeharto, sebuah sumber yang saya dengar hingga menjelang ajalnya, Soeharto tidak mau berjumpa lagi dengan Habibie. Kalau ada acara-acara, Soeharto selalu bertanya apakah ada Habibie (sebenarnya ada beberapa orang lagi, tetapi saya fokus kepada Habibie). Jika ada Habibie, Pak Harto tidak mau datang, pun kalaupun datang setelah Habibie pulang.
Perjalanan bangsa ini terputus antara Soeharto dengan orang yang disayanginya Habibie. Program bangsa ini pun sudah jelas terbengkalai. Hal ini tidak boleh terulang kembali.Keberhasilan bangsa yang dicita-citakan selama ini gagal. Kalaulah seandainya Habibie fokus saja kepada bidangnya dan tidak terjun ke dunia politik, saya yakin Bangsa Indonesia telah maju sejak dulu. Itulah yang saya maksud pernyataan Habibie itu benar. Tetapi ya ada tetapinya. Sekarang bangsa ini tidak boleh menyesal. Saya selalu menyarankan agar para calon para pemimpin bangsa tahun 2014 ini mengambil contoh-contoh baik dari pemimpin sebelumnya. Lanjutkan program mereka yang terbengkalai. Jangan lagi dimulai dari nol. Kalau begitu terus, bangsa ini akan tetap jalan di tempat.
SEMANGAT,JIWAI PELANTIKAN ICMI ORDA KOTA DEPOK
Oleh Dasman Djamaluddin
Gedung Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang terletak di Jalan Nusantara Raya 5-7 Depok, Minggu, 24 Juli 2011 malam, menjadi saksi sejarah kesinambungan dan kebangkitan Ikatan Cendikiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) Organisasi Daerah (Orda) Kota Depok.
Mengapa tidak? Sebelumnya gedung itu pun dipakai sebagai ajang pemilihan Ketua baru ICMI Orda Kota Depok dalam acara Musyawarah Daerah Pertama tanggal 22 Mei 2011. Bahkan gedung itu pula akan, di salah satu ruangannya, akan menjadi sekretariat tetap ICMI Orda Kota Depok.
Suasana Minggu malam itu memang tidak bersahabat. Hujan yang begitu deras mengguyur Kotamadya Depok. Tetapi, wajah-wajah pengurus yang akan dilantik yang berbaur dengan para pejabat Kota Depok, termasuk yang mewakili Walikota Depok, tetap ceria dan sumringah. Mereka seakan-akan tidak peduli dengan cuaca buruk di luar gedung. Semangat ini pula rupanya mendorong lancarnya acara Pengesahan Susunan Majelis Pengurus Daerah ICMI Orda Depok Periode 2011-2016.
Berlangsungnya pelantikan ini bersamaan dengan akan tibanya Bulan Suci Ramadhan buat pemeluk Agama Islam dan HUT Kemerdekaan Bangsa Indonesia 17 Agustus 2011. Boleh dikatakan pelantikan ini memberi makna khusus bagi pengurus, agar jiwa pengabdian ikhlas diperuntukkan betul untuk agama dan bangsa, khususnya untuk Orda Depok, ya di Kota Depok.
Berbicara tentang ICMI, ya, sudah tentu berbicara mengenai seorang figur Prof Dr BJ Habibie. Beliaulah yang pada waktu itu dipercaya Presiden Soeharto mengomandani organisasi tersebut yang kelahirannya ditandai dengan penyelenggaraan Simposium I ICMI di Malang,Jawa Timur, Desember 1990. Sejak itu ICMI berkembang pesat dengan memiliki surat kabar sendiri dan think-tank sendiri (CIDES), serta mengembangkan kepentingan-kepentingan ummat Islam dalam bentuk Bank Islam.
Dinamika ICMI sekarang disesuaikan dengan perkembangan zaman. Menarik untuk disimak adalah bahwa ICMI dipertahankan sebagai organisasi kemasyarakatan non politik. dan terus menjaga trilogi: kecendikiawanan, ke Islaman, dan ke Indonesiaan. ICMI tidak ingin terlibat dalam kondisi perpolitikan yang hanya menghabiskan enerji. Patutlah dimengerti bahwa dalam kondisi perpolitikan apa pun, ICMI bertekad, rakyat harus diberdayakan, karena konsumsi perpolitikan, sejatinya hanya menjadi ranah kalangan elite saja.
ICMI Orda Depok
Adalah Ir.Djoko Prabowo, pria kelahiran 22Januari 1965 diamanahkan ICMI Orda Kota Depok untuk memimpin organisasi ini periode 2011 - 2016 dalam Musda I, 22 Mei 2011.Keinginan Djoko memang sangat sederhana, yaitu bagaimana ke depan ICMI Orda Kota Depok memiliki tanggung jawab sosial, dan atau kepeduliaan sosial dalam pengertian yang lebih luas. Keberadaan itu, tegas Djoko, minimal harus mampu melakukan analisa dan evaluasi secara kritis persoalan-persoalan yang terjadi di masyarakat Depok. Lebih penting, ungkap Djoko, ICMI Orda Kota Depok harus mampu pula menunjukkan arah atau jalan bagi perkembangan masyarakat dengan konsisten,menggali ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kepentingan ummat. Dalam arti bukan untuk diri sendiri, kroni atau golongan, melainkan untuk masyarakat yang lebih luas.
Sejalan dengan keinginan ini, Djoko mengusung tema ketika berlangsung Musda I ICMI baru-baru ini: MEMBERDAYAKAN POTENSI KECENDIKIAWANAN ICMI. MARI KITA MENGHANTARKAN RAKYAT KOTA DEPOK LEBIH MAJU MENCAPAI PERADABAN MADANI. Tema ini kemudian dipertegas lagi oleh Djoko dalam sambutan sebagai Ketua Majelis Pengurus Daerah ICMI Orda Kota Depok Periode 2011-2016, 24 Juli 2011, hari Minggu malam.Realitasnya dalam program akan didasarkan pada prinsip 5 K: Pertama, Kualitas Iman dan Taqwa.Kedua,Kualitas Pikir. Ketiga,Kualitas Karya.Keempat,Kualitas Kerja.Kelima, Kualitas Hidup. Kualitas kehidupan ini dapat menjamin ketenteraman dan keadilan sehingga hak dan kewajiban dapat berjalan secara seimbang.
Dengan demikian:
1. ICMI Orda Kota Depok akan mengakomodasi semua golongan Cendikiawan tanpa melihat perbedaan jender, tingkat pendidikan, pembudayaan, profesi, usia dan kelompok, sebagai bagian dari komponen pembangunan bangsa yang akan dikenal oleh masyarakat Kota Depok secara luas.
2. ICMI Orda Kota Depok akan berupaya memobilisasi para Cendikiawan yang ada di Kota Depok, baik dari kalangan intelektual kampus, para profesional, para Enterpreneur, tokoh masyarakat, kalangan generasi muda maupun masyarakat luas yang memiliki potensi untuk memberikan sumbangsih kecendiakaannya.
3. ICMI Orda Kota Depok akan senantiasa memelihara Silaturrahmi kepada masyarakat, para Tokoh atau Sesepuh, pemerintah dan kelompok atau Organisasi lain yang ada di Kota Depok dalam rangka menciptakan Persatuan dan Keselarasan dalam menjalankan tugasnya, memberikan sumbangan pemikiran yang positif, produktif realistis serta dapat memenuhi harapan masyarakat Kota Depok.
4. ICMI Orda Kota Depok akan senantiasa melakukan tindakan nyata sebagai karya yang dapat menjadi tauladan dan sarana penggerak pembangunan masyarakat Depok secara keseluruhan. Dengan senantiasa mengkomunikasikan upaya-upaya pemikiran, karya nyata dan segala aktifitas organisasi kepada semua pihak agar terjadi keselarasan dalan saling pengertian dalam kebersamaan membangun masyarakat Depok.
5. ICMI Orda Kota Depok akan senahntiasa aktif berpartisipasi serta berkoordinasi dengan Badan Organisasi ICMI yang lebih tinggi (ORWIL dan ORPUS) guna menghasilkan keselarasan program dan cita-cita ICMI secara keseluruhan.
(Penulis adalah Ketua Divisi Hukum dan HAM ICMI Orda Kota Depok Periode 2011-2016).
SAYA TIDAK MEMPERMASALAHKAN SUSILO BAMBANG YUDHOYONO (SBY) ATAU TIDAK
Pertama, buku ini menarik karena didukung data akurat sekitar bencana yang terjadi di masa Pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Jika sudah membacanya kita akan tersentak, betapa Ridwan Saidi rajin membuat kronologis secara mendetail dan data itu menurut saya bisa dipertanggung jawabkan karena ditambah dengan angka-angka.
Kedua, kalaulah judulnya berkaitan dengan SBY saya serahkan kepada penulis, sebagai seorang komentator saya tidak berhak merubah judul yang sudah diberikan oleh penulis buku ini yaitu Ridwan Saidi.
Ketiga, saya tertarikdengan buku ini karena Ridwan Saidi mengulas kepemimpinan Khalifah Abu Bakar Shiddiq. Di dalam pidatonya pertama kali setelah dilantik, beliau mengatakan dan mengulanginya sampai tiga kali agar masyarakat mencabut dukungannya. Beliau ingin menegaskan bahwa dia menjadi pemimpin bukan karena keinginan atau ambisinya atau pernah berdoa kepada Allah SWT. Beliau minta agar masyarakat mencabut dukungan kepadanya dan memberikan pada yang lebih baik. Tetapi karena para sahabat menjawab,"Andalah yang terbaik dari kami. Demi Allah, Anda tidak boleh mundur!," tandas Ali bin Abi Thalib, maka Abu Bakar mau menerimanya. Apakah hal-hal seperti ini pernah terjadi di masa sekarang ini? Bahkan untuk menjadi pemimpin tidak jarang kita lihat terlalu dipaksakan, bila perlu menghancurkan pembunuhan karakter.
Keempat, lebih menarik lagi ketika Abu Bakar Shiddiq mengunci pidatonya dengan berkata,"TAATILAH AKU SELAMA AKU TAAT PADA ALLAH DAN RASULNYA." Logikanya jika Abu Bakar tidak mengikuti perintah Allah dan Rasulnya selama menjalankan pemerintahan, Jangan taat. Juga beliau adalah pemimpin yang hanya bersedia menerima gaji dan fasilitas jabatan yang pas-pasan saja. Kalaulah tidak dilarang karena bakal menimbulkan konflik kepentingan dan fitnah, ia lebih suka berdagang sendiri untuk menafkahi keluarganya.Ketika mendapati istrinya sempat menabung dari sisa uang belanja, Abu Bakar terkejut. Ia langsung meminta pengurangan gaji sebagai kepala negara. Menjelang wafat, beliau berpesan kepada Abdurrahman putranya,"Aku sudah bilang kepada Umar kalau aku tidak mau makan harta kaum muslimin. Tapi dia memaksaku menerima gaji dari Baitul Maal selama aku menjadi Khalifah. Aku telah menerima gaji 8000 dirham selama memerintah,tolong kembalikan semuanya ke Baitul Maal." Setelah Abu Bakar wafat, Abdurrahman menyampaikan wasiat ayahnya kepala Khalifah Umar. Ia menyerahkan ke kas negara uang sebesar 8000 dinar berikut fasilitas yang pernah diterima Khalifah Abu Bakar berupa seorang budak, seekor unta, dan sebuah permadani usang. Maka menangislah Khalifah Umar seraya berkata:"Semoga Allah memberkati Abu Bakar. Sungguh, ia telah mempersulit para khalifah penggantinya." Apakah hal ini bisa terjadi di masa sekarang ini?
Kelima, saya tertarik dengan ucapan yang dikutip Ridwan Saidi sebuah pernyataan dari Andre Vitchek, novelis dan senior fellow di Oakland Institute Amerika Serikat yang menulis esai panjang dan dimuat dua koran internasional, The International Herald Tribune dan The Financial Times edisi 12 Februari 2007, berjudul: Indonesia:Natural Disaster or Mass Murder," terjemahannya Bencana atau Pembunuhan Massal .Vitchek dalam tulisannya itu memaparkan, berbagai bencana yang terjadi di Indonesia sesungguhnya dapat dicegah terjadinya. Atau paling tidak diminimalisir dampak buruknya. Tapi upaya pencegahan ini dia nilai tidak ada. Bahkan menurutnya yang terjadi adalah pembiaran terhadap potensi-potensi berbahaya. Di balik wajah buram itu, Vitchek menuding Bangsa Indonesia sebagai bangsa yang berkarakter buruk.'KEHIDUPAN BERNEGARA DI INDONESIA DEWASA INI DIDORONG OLEH SEMANGAT MENCARI UNTUNG DALAM BENTUKNYA YANG PALING EKSTRIM. IA JUGA MERUPAKAN SALAH SATU DARI BANGSA YANG PALING KORUP DI MUKA BUMI. DAN KELIHATANNYA TIDAK ADA KEUNTUNGAN CEPAT YANG DAPAT DIPEROLEH DARI MENGAMBIL LANGKAH_LANGKAH PREVENTIF TERHADAP BENCANA ALAM INI," tulis Vitchek.
Keenam, buku ini dikomentari pula oleh Permadi, tokoh yang sangat vokal membicarakan kebenaran dan mantan Ketua Umum PB NU Hasyim Muzadi. Jadi secara tegas saya ingin mengatakan bahwa tidak pernah mempersoalkan masalah presiden kita SBY. Jadi saya hanya mengomentari hal-hal yang patut diteladani oleh para pemimpin kita maupun di dunia, agar berkacalah kepada kepemimpinan Khalifah Abu Bakar. Hindari negara ini dari korupsi sehingga suatu ketika kita akan mewarisi negara ini dalam keadaan terhormat. Mewarisi rakyatnya dengan sejahtera baik lahir maupun bathin. Lebih dari itu saya menghimbau jangan melupakan sejarah dan belajarlah dari sejarah.
WAKIL PRESIDEN BOEDIONO DI ACARA SETAHUN WAFATNYA IBU HASRI AINUN HABIBIE
Acara didahului sholat maghrib dan dilanjutkan do'a bersama untuk Ibu Hasri Ainun Habibie.Sehabis Isya muncullah Bapak B.J.Habibie dengan didampingi Bapak Wakil Presiden RI Prof.Dr.Boediono.M.Ec. Bagi saya ini pertamakalinya melihat langsung penampilan Bapak Habibie setelah Ibu Hasri Ainun wafat pada hari Sabtu, tanggal 22 Mei 2010, pukul 17.30 waktu Jerman, di Rumah Sakit Muenchen, Jerman karena sakit.
"Tegar dan tetap memiliki otak yang cerdas," sebagaimana sebelumnya.Beliau mengungkapkan liku-liku perjalanan jenazah yang pada waktu wafatnya Ibu Ainun bertepatan dengan hari libur di Jerman. Hari Sabtu, tanggal 22 Mei, Minggu, 23 Mei, Senin, 24 Mei hingga Selasa, 25Mei 2010.
"Saya minta bantuan sebuah organisasi Islam Internasional, di mana saya ICMI ikut membidaninya. Pada waktu itu ada 6 organisasi Islam dunia ikut menanda tangani berdirinya Organisasi Islam Internasional itu. Di tandatangani di depan Ka'bah, Arab Saudi sebuah hal yang tidak terpikirkan sebelumnya," ujar Habibie penuh semangat seraya menyatakan mengapa harus ditandatangi di depan Ka'bah. Maksudnya agar saksinya hanya Allah. Habibie boleh tidak ada, siapa pun boleh tidak ada, tetapi Allah akan menjadi saksi pendirian organisasi itu.
"Pada waktu itu ketuanya saya kontak dan beliaulah yang mengumpulkan anggota Muslim di Eropa karena memang Muslim di tempat saya tinggal pun minoritas."
Habibie juga menjelaskan bahwa jenazah di luar negeri dianggap juga sebagai barang oleh karena itu memakai paspor jenazah. "Maksudnya agar jangan ada hal-hal tidak diinginkan misalnya berlabel jenazah tetapi diselundupkan barang-barang yang dilarang," ujar Habibie.
Pada waktu itu Pak Soesilo Bambamg Yudhoyono dan Pak Boediono ikut membantu pemulangan jenazah, mulai prosesi pemulangan jenazah hingga pemakaman di Taman Pahlawan Kalibata, Jakarta. Diceritakan pula oleh Pak Habibie, beliau akan tetap berada di dekat isterinya, meski tidak harus di Taman Makam Pahlawan. Untuk itulah Pemerintah sudah menyiapkan satu makam kosong di samping makam Ibu Ainun.
Pada saat Wakil Presiden Boediono mengucapkan sambutan, beliau merasa sangat berterimakasih dan kaget, yaitu ketika Pak Habibie menjadi Presiden, ia ditunjuk sebagai menteri pada tahun 1998. "Ini merupakan jabatan saya pertama kali sebagai menteri, entah apa kreterianya sehingga saya terpilih sebagai menteri," ujar Pak Boediono. Pada waktu ini Pak Boediono diangkat dalam Kabinet Reformasi Pembangunan sebagai Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional .
Yang menarik untuk disimak lagi adalah bahwa para anggota ICMI bisa melihat dua tokoh ICMI antara ayah dan anak duduk sejajar, di mana kedua-duanya punya pengaruh besar terhadap perjalanan ICMI. Pak Habibie sendiri di masa Presiden Soeharto dan Ilham Akbar Habibie yang baru-baru ini terpilih sebagai Ketua Presidium ICMI. Tujuan ICMI ke depan pun berbeda dengan di masa Presiden Soeharto, sekarang menurut Ilham Akbar Habibie,kader ICMI harus menciptakan program yang dirasakan masyarakat lapisan bawah (akar rumput).
NASIB MUSEUM ADAM MALIK
21 Mei 2009 | 20:24 | Sosial
Museum Adam Malik Hilang dari Data Depbudpar
Ilma Hairinasari
Jakarta - Nama Museum Adam Malik, yang tercatat milik pengusaha media Hary Tanoesoedibjo, hilang dari daftar 60 museum yang tercatat di Departemen Kebudayaan dan Pariwisata (Depbudpar).
Koleksi 50 ribu lebih barang peninggalan mantan wakil presiden Adam Malik juga tidak jelas keberadaannya.
"Koleksi yang ada di Museum Adam Malik, entah disimpan di mana," kata sejarawan Dasman Djamaludin saat dihubungi Primair Online di Jakarta, Kamis (20/5).
Berdasarkan riset Primair Online, Hary Tanoesoedibjo atas nama istrinya telah membeli museum yang dilego oleh keluarga Adam Malik pada 2006.
Keluarga Adam Malik terpaksa menjual museum itu karena sudah tidak mampu menanggung biaya pemeliharaannya. Mereka mengaku tidak pernah mendapat dukungan dana dari pemerintah dalam biaya operasional museum.
Setelah mengabdikan diri demi bangsa dan negaranya, Adam Malik meninggal di
Di museum itu, tersimpan berbagai tanda kehormatan yang diberikan negara terhadap wartawan yang menjadi wakil presiden itu. Selain itu, terdapat ribuan benda kenang-kenangan Adam Malik selama menjalankan tugas kenegaraan di dalam negeri dan luar negeri. Antara lain, berupa lukisan-lukisan, keramik, benda-benda porselin, kerajinan tradisonal, dan koleksi fotografi dari berbagai model.
Namun, sampai saat ini tidak ada kepastian apakah koleksi tersebut dijual atau disimpan oleh ahli waris, atau pemilik rumah.
(new)
MENGENANG KEMBALI SUPERSEMAR PADA 11 MARET 2011
TDAK ADA SALAHNYA 11 MARET 2011 KALI INI SAYA MENURUNKAN MAKALAH LAMA SAYA TENTANG SUPERSEMAR. SAYA MENGANGGAPNYA MASIH RELEVAN KARENA SUPERSEMAR ASLI BELUM DITEMUKAN.
Makalah Seminar Nasional dan Diskusi Interaktif "Impilkasi Wafatnya Soeharto terhadap Kebenaran Sejarah Supersemar."
Supersemar, Sumber Sejarah yang Hilang
Oleh : Dasman Djamaluddin
Kepergian orang nomor satu di Indonesia tersebut mendapat tempat yang istimewa di berbagai media massa. Ini membuktikan, lengsernya Soeharto sebagai seorang Presiden pada 21 Mei 1998 tidak memudarkan pengaruh yang telah dibinanya selama ini, karena hingga menghembuskan nafas terakhirnya, masih banyak para pejabat atau mantan pejabat dalam dan luar negeri berkunjung ke rumahnya di Jalan Cendana.
Selain itu, keterkaitan Soeharto dengan hilangnya Supersemar tidak dapat diragukan, karena naskah asli tersebut dipegang oleh beliau :
"Naskah asli Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) yang tidak diketahui keberadaannya selama 40 tahun saat ini berada di tangan mantan Presiden Soeharto," ujar Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla dalam sambutannya pada peluncuran buku memoir Jenderal M.Jusuf Panglima para Prajurit di Jakarta, Jumat malam (10 Maret) 2006. foot note : "Naskah asli Supersemar Dipegang Soeharto," Media Indonesia (Sabtu, 11 Maret 2006): 12
Kepergian Soeharto seakan-akan telah diatur sebelumnya, karena hari wafatnya berselang tidak lama dengan tahun peringatan ke-42 lahirnya Surat Perintah 11 Maret (Supersemar/ 11 Maret 1966-11 Maret 2008) yang merupakan titik tolak seorang anak dari Desa Kemusuk (Jawa Tengah) itu menapak langkahnya menjadi Presiden.
Hari ini dengan diselenggarakannya Seminar Nasional bertema: "Implikasi Wafatnya Soeharto terhadap Kebenaran Sejarah Supersemar," juga merupakan langkah terpuji buat seorang ilmuwan untuk mengkaji lebih mendalam tentang kebenaran sejarah 42 tahun lalu. Tujuannya antara lain untuk kepentingan umum. Ini pula yang dimaksud oleh Vaclav Havel (foot note: Vaclav Havel adalah Presiden Pertama dan terakhir Republik Cekoslovakia sesudah tahun 1989. Dia bukan berasal dari politikus, tetapi dari seorang seniman, penulis dan lakon teater yang berhasil mengantar rakyatnya membuang sistem komunis. Tetapi tidak lama kemudian dia sangat kecewa dengan hasil referendum di mana rakyatnya terpecah menjadi dua, bergabung dengan Ceko dan Slovia) bahwa seorang ilmuwan tugasnya adalah membaktikan hidupnya untuk berpikir demi kepentingan umum dan bahkan menafikan kepentingan pribadinya. Jika seseorang sudah lebih banyak memikirkan dirinya sendiri dan mengabaikan kepentingan umum, maka boleh jadi keilmuawan seseorang tersebut perlu diragukan, karena biasanya seorang ilmuwan atau juga disebut dengan intelektual, cendekiawan atau cerdik pandai mempraktikan hidup dalam kesederhanaan, jujur dan rela berkorban. Sehingga seorang cendekiawan, agamawan dan seniman di dalam menjalankan fungsinya masing-masing punya getaran gelombang yang sama.
Mempelajari dan menggali sejarah masa lalu buat seorang ilmuwan tidak mudah. Dia dihadapkan dengan berbagai kemungkinan-kemungkinan dari mana sumber bahan penulisannya diperoleh. Kalau sumbernya telah ditemukan, maka masih ada sederet pertanyaan yang harus diajukan. Apakah sumber yang diperolehnya itu otentik (asli), apakah sumbernya shahih, sah dan benar (validity), terpercaya, sungguh-sungguh benar (realibility) dan kuat (perihal dapat dipercaya tadi /kredebility) ? Jika hl ini telah terpenuhi, barulah ilmuwan tersebut memenuhi kreteria sebagaimana diungkapkan oleh W.S.Rendra bahwa seorang cendekiawan harus "berumah di angin", tidak mau terikat oleh suatu sistem yang menghalangi kebebasannya.
"Ia harus bebas pula dari ikatan bathin sehingga konsekuen menurut keyakinan intelektualnya dan jangan terjadi sebagaimana Julien Benda katakan sebagai 'pengkhianatan kaum cendekiawan'," ujar W.S.Rendra yang baru saja memperoleh Doktor Kehormatan dari Universitas Gajah Mada (foot note: Dick Hartoko (ed), Golongan Cendekiawan (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia dan PT.Gramedia, 1980), hal.ix)
Jika hal tersebut telah dilakukan, maka bangsa tersebut tidak lagi punya harga diri dan tidak punya lagi sumber-sumber kebudayaan yang patut dibanggakannya, sehingga masuklah kebudayaan bangsa si penyerang sebagai pengganti budaya bangsa yang diserang.
Apa yang terjadi di Indonesia di masa Orde Baru--sebuah istilah yang sejak awal tidak saya setujui, karena istilah tersebut berkonotasi merendahkan apa yang telah dihasilkan pemerintahan sebelumnya, Orde Lama--sangat mirip dengan "penghilangan sumber" yang pernah dilakukan bangsa-bangsa terdahulu. Bedanya, di masa Orde Baru "penghilangan sebuah sumber" dilakukan oleh bangsanya sendiri, bukan oleh bangsa lain.
Berbagai penghilangan sumber di masa Orde Baru, salah satunya apa yang pernah diungkapkan oleh Majalah TEMPO, 28 Juli 2002. Majalah tersebut mengungkap penghilangan dokumentasi tentang aktivitas parlemen Indonesia sejak era Konstituante hingga MPRS. Dokumen ini dimusnahkan pemerintah Orde Baru. Buku yang diterbitkan sebnyak 120 jilid, berjudul Laporan MPRS 1966-1972 tidak lagi kita temukan di perpustakaan-perpustakaan sebagai pusat kebudayaan bangsa untuk mencerdaskan generasi penerus, begitu pula di Arsip Nasional. Pada tahun 1972, pemerintah melarang peredaran buku tersebut dan buku yang berhasil ditemukan dibakar.
"Abdul Kadir Besar, sejumlah pengurus MPRS, dan pengelola Percetakan Siliwangi malah sempat diinterogasi. Tudingannya seram, membocorkan rahasia negara. Pak Nasution dicekal dari tahun 1972 sampai 1993, sejak itu, penjagaan dan fasilitas ditarik. Bahkan air PAM di rumah dicabut. Setiap hari intelijen mengamati kami. Semua yang dekat-dekat Pak Nas akan dibikin susah, sehingga orang takut datang. Yang setia adalah Surono dan Wiyogo Admodarminto, Soepardjo Roestam juga pernah datang, tapi cuma sebentar, lalu pergi. Yang lain menjauh. Seolah-olah kami ini penderita lepra. Sewaktu Adam Malik meninggal, Bapak datang. Tiba-tiba ada tentara yang menarik Bapak dan menyuruh mundur dengan cara yang tidak sopan. Kurang ajar sekali mereka," ujar isteri Pak Nasution, Yohana Sunarti Nasution.
Selanjutnya Bu Nas mengatakan:
"Pak Nas bilang sudah memaafkan Pak Harto. Cuma ada satu orang yang tidak mau dia maafkan. Tapi saya tak akan bilang siapa. Bapak bilang TNI sudah meninggalkan tugas seharusnya. TNI harusnya dekat dengan rakyat, bukan ikut memeras rakyat. Mengapa sekarang jadi begini ? TNI sekarang masuk ke segala peran. Orang jadi mempermasalahkan Pak Nas sebagai penggagas dwi fungsi. Padahal dwifungsi yang dilakukan Pak Harto bukan yang dimaksud Pak Nas. Prinsipnya TNI punya hak juga di negeri ini. Tapi jangan di semua tempat."
Selain itu, tidak ditemukannya naskah pidato Presiden Soekarno pada bulan Mei 1966 di Sekretariat Negara, juga menjadi tanda tanya. Hal ini terungkap dari pernyataan Asvi Warman Adam, Sejarawan dan Peneliti Senior Lembaga Ilmu Pengetahuan Indoneisa (LIPI) di dalam kata pengantar buku: Revolusi Belum Selesai.
Buku yang diterbitkan dalam dua jilid itu berisi kumpulan sebagian pidato Presiden Soekarno, yang dimulai sejak pasca peristiwa Gerakan 30 September. Mengherankan, pidato politik yang disampaikan sebanyak 103 kali tersebut tidak memperoleh tanggapan dari rakyatnya. Majalah TEMPO memberi perhatian besar terhadap terbitnya buku tersebut dan berkomentar:
"...pidato itu juga melukiskan kesunyian seorang Bung Besar. Perintahnya tak dituruti, pidatonya hanya menjadi kembang api, membuncah lalu hilang bersama malam. Hampir dua tahun suara Bung Karno nyaris tidak terdengar. Ia seperti tokoh dalam novel Gabriel Garcia Marquez, lelaki yang melewati waktunya dalam 100 tahun kesendirian."
Sepertinya penghilangan dokumen masih saja terjadi hingga sekarang. Baru-baru ini, hilangnya berkas penyelidikan pro justia kasus pelanggaran hak asasi manusia berat dalam tragedi Trisakti tahun 1998, Semanggi I dan Semanggi II, serta peristiwa penghilangan orang yang ada di Kejaksaan Agung, sungguh disesalkan.
Sangat jelas, bahwa di saat-saat mendirikan Pemerintahan Orde Baru, peranan TNI khususnya Angkatan Darat sangat besar. Itulah sebabnya mengapa para pelaku sejarah Supersemar adalah dari kalangan militer, termasuk Jenderal TNI Anumerta Basoeki Rachmat yang bukunya telah diterbitkan thun 1998 dan sebelumnya telah memperoleh persetujuan keluarga untuk ditulis pada tanggal 7 November 1996.
Presiden, sesudah mendengar MA dpat melarang dan/atau membubarkan partai yang:
1. Bertentangan dengan azas dan tujuan negara
2. Programnya bertentangan dengan azas dan tujuan Negara
3. Dan melakukan pemberontakan
4. Tidak memenuhi syarat-syarat lain yang ditentukan.
Pada Sidang Istimewa yang berlangsung di Jakarta pada tanggal 7-12 Maret 1967 melalui Ketetapan No.XXXIII/MPRS/67, MPRS menetapkan mencabut kekuasaan pemerintah negara dari Presiden Soekarno dan dengan ketetapan yang sama, MPRS mengangkat Pengemban Ketetapan MPRS No.IX/MPRS/66, Jenderal Soeharto sebagai Pejabat Presiden hingga dipilihnya Presiden oleh MPR hasil pemilihan umum.
Kelima, pers mengalami apa yang dinamakan "pemasungan", sehingga peristiwa-peristiwa pada saat peralihan kekuasaan dari Soekarno kepada Soeharto banyak yang tidak diketahui dengan pasti oleh masyarakat. Hal ini terkait dengan peristiwa sebelumnya, di mana pada bulan Februari 1965, Menteri Penerangan Achmadi melarang terbit 21 surat kabar di Jakarta dan Medan karena mendukung Badan Pendukung Soekarno (BPS). Hanya yang leluasa memberitakan peristiwa-peristiwa itu adalah media-media yang sangat dekat dengan kekuasaan militer, seperti Harian Angkatan Bersenjata dan Berita Yudha. Kedua surat kabar ini pula yang memberitakan masalah Supersemar. Harian Angkatan Bersenjata memberitakan tanggal 12 Maret 1966 pagi dan sore, anehnya harian itu sudah tahu lebih dahulu tentang Supersemar. Sedangkan Berita Yudha memberitakan tanggal 13 Maret 1966.
Keenam, Soeharto sebagai Menpangad pada waktu itu tidak lagi patuh kepada Presiden Soekarno, sebagaimana diungkapkannya :
"Beliau mempunyai satu pendirian, saya punya pendirian lain. Tetapi saya tidak menentang begitu saja. Saya sebagai bawahan, sebenarnya harus taat. Apa yang diperintahkannya seharusnya saya patuhi. Tetapi saya sebagai pejuang tidak mungkin patuh begitu saja." /foot note: G.Dwipayana dan Ramadhan, K.H., Soeharto, Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya (Jakarta:PT.Citra Lamtoro Gung Persada, 1989), hal.167.
Bung Karno mengatakan bahwa ada perwira yang begudul. "Begudul! Itu apa ? Hei, Bung, apa itu begudul? ya, Kepala Batu. Saya yang ditunjuk MPRS menjadi Panglima Besar Revolusi. Terus terang bukan Soebandrio. Bukan Leimena. Bukan engkau Soeharto, bukan engkau Soeharto..." berbeda dari nama lain, Soeharto disebut dua kali secara berturut./foot note: Setiyono, loc.cit.
Pada tanggal 1 Oktober 1949 negara Republik Rakyat Tiongkok (RRT) berdiri sebagai akibat kemenangan kaum komunis terhadap Koumintang. Tugas Amerika Serikat dan sekutunya dalam hal membendung komunisme bertambah berat. Untuk membendung komunisme dari RRT ini, Amerika Serikat dan sekutunya menganggap perlu membentuk Pakta Pertahanan di Timur. Pada tahun 1954 dibentuklah SEATO (Southeast Asia Treaty Organization), sebuah kekuatan pertahanan militer di Asia Tenggara beranggotakan Amerika Serikat, Inggeris, Perancis, Australia dan Selandia Baru serta negara-negara Asia: Filipina, Thailand dan Pakistan. Dalam hal ini, Indonesia menolak pembentukan pakta militer tersebut dan sejak saat ini hubungan Indonesia-Amerika Serikat mendingin, meskipun tidak bermusuhan. Pada saat bersamaan pertentangan dua kekuatan antara Barat dan Timur semakin memuncak, hal tersebut terlihat dari pecahnya Perang Korea (1950-1953), Pemisahan Berlin dengan tembok (Agustus 1961), Krisis Kuba (1961-1962).
Di dalam situasi Dunia yang tidak menentu ini, Indonesia lalu memprakarsai Konferensi Asia Afrika pada tanggal 18 April 1955 di Bandung dan pada akhirnya menjadi landasan buat negara-negara yang tidak memihak ke Barat atau ke Timur, mendirikan sebuah gerakan bernama: Gerakan Non-Blok di Beograd tahun 1961. Pada saat bersamaan, bulan Mei 1955, Uni Soviet dan sekutunya membentuk pula sebuah pertahanan militer bernama Pakta Warsawa.
Perkembangan di luar negeri berpengaruh besar terhadap perkembangan di dalam negeri Indonesia, begitu pula sebaliknya. Munculnya PKI, setelah Hatta sebagai Wakil Presiden RI mengeluarkan Maklumat Wakil Presiden No.X (huruf eks, bukan angka 10 hitungan Romawi, tetapi abjad ke-24) dan ditindaklanjuti dengan Maklumat Pemerintah tanggal 3 November 1945 menjadi perhatian Amerika Serikat dan sekutunya. Apalagi secara tak terduga. di dalam Pemilihan Umum pertama di Indonesia pada tanggal 29 September 1955, yang hasilnya baru diumumkan tanggal 1 Maret 1956, PKI berhasil menduduki posisi ke-empat dalam jumlah pengumpulan suara untuk Parlemen/DPR (16,3 persen), setelah PNI (22,1 persen), Masyumi (20,9 persen) dan NU (18,4 persen).
Ketika Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) menyatakan berpisah dari Negara Kesatuan Republik Indonesia tanggal 15 Februari 1958, Amerika Serikat mulai ikut membantu PRRI dengan persenjataan. Pada saat ini dikerahkan Armada Ketujuh Pasifik Amerika Serikat dengan membentuk Satgas 75 yang ditempatkan di Singapura. Dalam hal ini Menteri Luar Negeri PRRI Kolonel Maludin Simbolon pernah disarankan pihak Amerika Serikat untuk meledakkan instalasi tambang minyak Caltex di Riau agar ada alasan Armada VII Amerika Serikat mendaratkan pasukan marinirnya. Tetapi ditolak Maludin Simbolon karena dia tidak menghendaki Indonesia mengalami seperti yang terjadi di Korea Utara dan Korea Selatan atau "balkanisasi" negara dan bangsanya./foot note: Payung Bangun, Kolonel Maludin Simbolon, Liku-liku Perjuangannya dalam Pembangunan Bangsa (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1996), hal.257.
Pemisahan PRRI ini tidak terlepas dari mundurnya Wakil Presiden Mohammad Hatta pada tanggal 1 Desember 1956. Sejak saat ini PKI semakin leluasa mempengaruhi Bung Karno. Buktinya, ketika pada 21 Februari 1957, pukul 20.05, Bung Karno berpidato di Istana Merdeka dan secara terus terang mengatakan bahwa dirinya menginginkan agar kaum komunis ikut serta di dalam menyelenggarakan pemerintahan. Pidato Soekarno tersebut sangat mengejutkan berbagai pihak, terutama kelompok-kelompok yang sejak awal tidak menghendaki kehadiran PKI di Indonesia, terutama kelompok militer. Soekarno mengatakan :
"Yah. Saya tahu saudara-saudara misalnya terhadap PKI ada beberapa saudara-saudara atau pihak yang keberatan dia duduk dalam kabinet. Saya bertanya dengan setenang-tenangnya, saudara, apakah kita dapat terus menerus mengabaikan satu golongan yang di dalam pemilu mempunyai suara enam juta manusia ? Sungguh. saudara-saudara, saya tidak memihak. Saya sekedar menghendaki adanya perdamaian nasional. Saya sekedar ingin mengadakan cara pemerintah gotong royong dengan tidak memihak sesuatu pihak."/foot note: Presiden Soekarno, Menyelamatkan Republik Proklamasi Konsepsi Bung Karno. Catatan Stenografis dari Pidato Presiden Soekarno tanggal 21 Februari 1957 jam 20.05 di Istana Merdeka (Jakarta: Kementerian Penerangan RI, 1957), hal.13
DAFTAR BACAAN
A.BUKU
Budiawan. Mematahkan Pewarisan Ingatan. Jakarta: Elsam, 2004.
Green, Marshal. Dari Sukarno ke Suharto. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 1995.
Hari-Hari Terakhir Bung Karno (tanpa penerbit dan tahun. Seri Dokumentar).
May, Brian. The Indonesia Tragedy. Singapore: Graham Brash Ltd.1981.
Nasution,A.H. Kepemimpinan. Jakarta: tanpa penerbit, 1977.
Nawaksara. Jakarta: Central Klender Plaza, tanpa tahun.
Nishihara, Masashi. Sukarno, Ratna Sari Dewi dan Pampasan Perang. Jakarta: Grafiti, 1994).
Sd, Subhan. Langkah Merah. Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya, 1996.
Setiyono, Budi dan Bonnie Triyana. Revolusi Belum Selesai. Jilid I. Jakarta: Messias, 2003.
Soebandrio. Kesaksianku tentang G30S. Jakarta: Forum Pendukung Reformasi Total, 2001.
Supersemar. Jakarta: Badan penerbit Almanak RI/B.P.Alda. 1977.
Suryohadiprojo, Sayidiman. Kepemimpinan ABRI Dalam Sejarah dan Perjuangannya. Jakarta: Penerbit Intermasa, 1996.
B. Surat Kabar:
______________."Seabad Kontroversi Sejarah," Kompas (17 Januari 2000) : 4
Luhulima, James."Peristiwa G30S Titik Balik Soekarno,"Kompas ( 1 Juni 2001): 69.
"Naskah Asli Supersemar Dipegang Soeharto", Media Indonesia (Sabtu, 11 Maret 2006): 12
C. Majalah
Anom, Andari Karina."Setumpuk Buku 30 Tahun yang lalu" dan"Kami Dijauhi Seperti Penderita Lepra,"Majalah TEMPO ( 28 Juli 2002) : 64 dan 69.
Iqra."Bung Karno 100 Tahun dalam Sunyi", Majalah TEMPO (26 Oktober 2003) : 71.
INDONESIA NEGARA DAULAH ISLAMIAH ?
Hari Selasa, 21 Juli 2009 malam sekitar pukul 19.30 saya menyaksikan acara di TVONE di mana menampilkan nara sumber Mantan Kadensus 88 Bareskrim Polri, Brigjen (Purn/Polri) Suryadarma Salim. Acaranya menarik karena memaparkan keberhasilan Polri dalam mengungkap aksi teror di berbagai daerah di Indonesia.
Tetapi ketika berbicara mengenai target teroris untuk menjadikan Indonesia sebagai Negara Daulah Islamiah, saya kemudian teringat ketika membaca Majalah Mingguan Amerika Serikat TIME, edisi 1 April 2002. Walaupun sudah terbilang lama, minimal majalah ini mencoba memberi pengertian tentang Negara Daulah Islamiah, bahkan di dalam majalah tersebut dipaparkan sangat jelas peta Indonesia sebagai Negara Daulah Islamiah Raya.
Dulu di tahun-tahun lima puluhan, majalah ini sangat gencar meliput peristiwa PRRI (Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia) yang diprakarsai Ahmad Husein. Boleh dikata liputan peristiwa PRRI, terutama antara Februari sampai Oktober 1958 berjumlah 171 tulisan.
Pada edisi 1 April 2002 itu, semua orang pasti kaget melihat peta Indonesia menjadi peta Daulah Islamiah Raya, sebuah negara impian sebagaimana dikutip TIME yang ide pertamanya berasal dari Sekarmaji Marijan Kartosuwiryo di tahun 1949.
Perbedaan yang mencuat ke permukaan adalah bahwa ide asli Kartosuwiryo bukanlah ide negara Islam sebagaimana yang tengah dipaparkan TIME di dalam edisi tersebut. Kartosuwiryo awalnya memang bercita-cita mendirikan sebuah negara Islam, tetapi "Negara Islam Indonesia."
Berbeda sekali dengan pengungkapan TIME sebagaimana dikutipnya dari Hambali, salah seorang ulama Indonesia yang juga anggota Jamaah Islamiyah yang bermukim di Malaysia, mengatakan bahwa negara Islam yang dimaksudnya adalah sebuah negara negara persatuan Islam di Asia Tenggara yang di dalamnya berlaku Hukum Islam. Inilah yang disebut "Negara Daulah Islamiah Raya", termasuk seluruh kepulauan di Indonesia atau Indonesia secara keseluruhan, Malaysia, Singapura, Kesultanan Brunei dan sebagian besar wilayah Filipina Selatan, Thailand dan bahkan Kamboja.
Sejak TIME menurunkan berita ini, sebagian pengamat mempertanyakan latar belakang, mengapa majalah tersebut mengungkap negara Islam bernama "Daulah Islamiyah Raya" itu. Pertanyaan selanjutnya, apakah betul para teroris akan menjadikan Indonesia sebagai basis negara Islam ? Bukankah peristiwa tersebut sudah lama berlalu ? Pertanyaannya apakah kita sepakat dengan pemaparan TIME. Semoga menjadi bahan renungan. Terimakasih
(Dasman Djamaluddin)







